3 Cara Mendekatkan Diri Kepada Allah

Dalam sebuah perjalanan, setiap makhluk memiliki catatan yang berbeda dalam segala aspek kehidupannya. Sejalan tapi tak searah, korelasinya ada pada titik akhir tujuannya yaitu, Tuhan Illahi Rabi.

Manusia, makhluk yang unik, mulia sekaligus sempurna dibandingkan dengan makhluk-makhluk lainnya.

Tauhid adalah keyakinan akan keesaan Allah Swt. Yakin akan kuasa-Nya yang telah menciptakan, memelihara, dan menentukan segala sesuatu yang ada di alam ini.

Dalam diri manusia selalu tumbuh dan berproses keyakinan menjalankan syariat dalam beragama. Keyakinan yang mengajarkan dan mengarahkan kepada nilai-nilai kebaikan dan ketakwaan.

Dalam QS. Adz-Dzāriyāt [51]:56

“Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku”.

Tugas mulia manusia adalah untuk mengabdi kepada-Nya. Pelaksanaannya berada dalam koridor agama Islam.

Ada 3 komponen unsur utama ajaran agama Islam; Akidah, Syari’ah dan Akhlak. Ketiga komponen itu dikembangkan dengan akal pikiran (ra’yu) manusia. Dengan syarat bagi yang memenuhi kriteria dan kualifikasi untuk mengembangkannya.

Ketika Rasulullah mengutus salah seorang sahabat, Mu’adz bin Jabal pergi ke Yaman untuk menjadi gubernur di sana, beliau menerangkan 3 sumber ajaran agama Islam. Sumber pertama adalah kitabullah (al-Quran), kedua as-Sunnah (kini dihimpun dalam hadits) dan terakhir ra’yu (akal pikiran) manusia yang memenuhi syarat untuk berijtihad.

Covid-19 telah berdampak langsung terhadap kehidupan masyarakat, menjadi tantangan besar bagi manusia di muka bumi. Ketauhidan kita diuji, jangan sampai tergoyahkan.

Dalam QS. Lukman [31]:13,

وَإِذْ قَالَ لُقْمَٰنُ لِٱبْنِهِۦ وَهُوَ يَعِظُهُۥ يَٰبُنَىَّ لَا تُشْرِكْ بِٱللَّهِ ۖ إِنَّ ٱلشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيمٌ

Dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi pelajaran kepadanya: “Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar”.

Jangan risau, gundah dan galau. Banyak cara untuk mengenal dan lebih dekat dengan Allah Swt.

Pertama, tingkatkan ketauhidan rubūbiyah, ulūhiyah, dan asma` wa shifat. Dari ketiga konteks tersebut diperkuat melalui firman Allah dalam al-Qur`an surat Maryam [19]:65,

Artinya: Tuhan (yang menguasai) langit dan bumi dan apa-apa yang ada di antara keduanya, Maka sembahlah Dia dan berteguh hatilah dalam beribadat kepada-Nya. Apakah kamu mengetahui ada seorang yang sama dengan Dia (yang patut disembah)?

Kedua, berlindung dengan kitabullah dan ayat-ayat yang mulia. Mengutip percakapan Abu Bakar kepada putrinya Aisyah, “Wahai Aisyah satu ayat dari kitabullah lebih dari cukup atas segala yang masuk ke dalam diri seseorang.”

Dijelaskan dalam al-Qur`an surat Ali Imran [3]:102,

Artinya: “Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya, dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan muslim.

Sebagai hamba hendaklah beriman dan bertakwa kepada Allah Swt. Janganlah bersedih meskipun di tengah problematika yang mencekam, carut marutnya perselisihan dan perdebatan yang terjadi.

Musibah terjadi atas kehendak-Nya, teruslah berpegang teguh pada agama-Nya. Rasulullah bersabda “Itulah sebagian dari balasan Allah kepada hamba-Nya yang beriman”.

Demikian pula takwa, disebut berkali-kali dalam al-Qur`an. Ciri orang bertakwa digambarkan dalam sembilan ayat dari tiga surat yaitu; al-Baqarah [2]:177; Ali `Imrān [3]:15-17; 133-136; dan al-A`rāf [7]:201.

Tanda tersebut bisa diklasifikasikan ke dalam aspek syari`ah dari rukun Islam, aspek akidah dari rukun Iman dan aspek akhlak.

Aspek syari`ah mencakup mendirikan, shalat, menunaikan zakat. Sementara aspek akidah adalah beriman kepada Allah, hari akhir, malaikat-malaikat, kitab-kitab-Nya, para nabi, dan beriman kepada yang ghaib.

Sementara itu aspek akhlak antara lain menafkahkan sebagian harta
di jalan Allah saat lapang maupun sempit, bersedekah, memerdekakan hamba
sahaya, menepati janji, sabar dalam kesempitan, penderitaan dan dalam peperangan. Selain itu juga jujur, taat, memohon ampun diwaktu sahur, menahan amarah, memaafkan (kesalahan) orang.

Upaya mendekatkan diri kepada Allah dapat diwujudkan dengan mempelajari kitabnya (al-qur`an) baik dengan cara membaca, menghafal, mengkaji serta menelaah sehingga terbuka lebar lautan cakrawala keagungan dan kekuasaan Tuhan dihadapan hambanya.

Ketiga, muraqabah dan muhasabah. Muraqabah, yaitu senantiasa mengadakan penelitian, waspada, selalu mengawasi diri sendiri, menjaga dan memelihara diri agar senantiasa berada pada garis taat dan jangan sampai menyeleweng kepada maksiat.

Menurut Imam al-Ghazali, pengertian muraqabah sama dengan ihsan, yaitu “Hendaklah engkau menyembah Allah seolah-olah engkau melihat-Nya dan jika engkau tidak melihat Dia, maka sesungguhnya Dia melihat engkau” (HR. Muslim).

Dalam muraqabah ada keyakinan bahwa Allah selalu melihat dan memerhatikan semua gerak-gerik manusia, tak satu pun yang dapat lolos dari-Nya.  “Dan Dia bersama kamu dimana pun kamu berada”. (Qs. al-Hadid [57]:4).

Setiap mukmin harus menjaga keimanan dengan ketakwaannya. Dia tidak boleh
lepas dari menjalankan syari`at, karena syari`at adalah pupuk bagi keimanan. Sementara itu ketakwaan adalah penjaga konsistensi keimanan. Jika ketakwaan telah menjadi kesadaran dalam diri yang dalam, ia akan menjadi warna dari segala perilaku seseorang. Itulah yang disebut ihsan.

Wallāhu a`lam bi shawāb.

[Prof. Dr. H. Armai Arief, M.A., Guru Besar UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Ketua Komisi Pendidikan dan Kaderisasi MUI. Ketua Kordinasi Bidang Pendidikan dan Pengembangan SDM Insani ICMI, Ketua Dewan Pembina Asosiasi Dosen Indonesia (ADI)]

Leave A Reply

Your email address will not be published.