4 Keistimewaan serta Kenapa Ulama dan Guru Mesti Dihormati

Akhlak sangat terkait erat dengan tatanan sosial. Karena itu membentuk akhlak mulia menjadi sesuatu yang urgen untuk membentuk tatanan sosial yang baik.

Hal tersebut sebagaimana diungkapkan oleh Prof. Dr. Sudarnoto Abdul Hakim dalam materinya saat mengisi Pesantren Ramadhan yang diadakan MUI Komisi Pendidikan dan Kaderisasi, Senin (04/05/2020).

Ketua MUI bidang kerjasama luar negeri itu menekankan pentingnya peranan ulama dan guru. Peranan itu demikian urgen sebagaimana urgennya pembentukan akhlak.

“Kesadaran kemanusiaan dan kesadaran keagamaan kita menegaskan bahwa ulama dan guru seharusnya kita hormati,” ucapnya.

Ulama dan guru berperan dalam membina masyarakat dan umat agar berakhlak dengan baik. Dalam Islam, kata Prof. Noto, akhlak ditunjukkan kepada diri sendiri dengan berbuat adil, tidak mendzalimi, merawat, ramah terhadap diri sendiri.

Akhlak, kebaikan dan Ihsan juga tabiat yang baik itu juga harus ditunjukkan kepada anak, istri, keluarga, lingkungan, flora dan fauna, dan tentu saja berakhlak kepada Allah.

“Inilah yang tidak dimiliki dalam pandangan sekuler dan filsafat humanisme sekuler, serta tidak dimiliki oleh filsafat antroposentrisme. Ini hanya dimiliki oleh ajaran agama Islam,” jelas Ketua Dewan Pakar Forum Komunikasi Alumni IMM.

Dalam aneka perbedaannya itu menurut Prof. Noto, ulama dan guru itu sangat istimewa dibandingkan dengan masyarakat kebanyakan.

Keistimewaan itu bisa dilihat satu, profesi dan pekerjaannya yang tidak semua orang bisa lakukan. Kedua, karena perhatian dan dedikasinya yang sangat luar biasa untuk memberikan perhatian kepada orang lain. Merawat dan membimbing orang lain. Untuk memberikan arah kehidupan ke depan dengan dedikasi dan tanggung jawabnya.

Ketiga, secara ideal ulama dan guru adalah tokoh-tokoh yang semestinya dihormati, yang semestinya memperoleh kedaulatan, yang semestinya mendapat tempat yang sangat baik.

Karena mereka adalah orang-orang yang tidak sekedar memberikan life skill dan bekal kehidupan, tetapi juga sekaligus memberikan pencerahan pemikiran dan pencerahan hati. Mengarahkan kehidupan ke depan dan supaya sukses. Mengarahkan supaya menjadi khairu ummah.

Yang keempat, kata Prof. Noto, dedikasi penuh dan tanggung jawabnya. Bahkan ulama dan guru, siap untuk berkorban dan mengorbankan diri. Ini yang sering kali orang biasa tidak bisa memahami menurut logika dan akal biasa.

“Bagaimana mungkin seseorang yang penuh kesederhanaannya, tidak memiliki fasilitas lengkap seperti yang dimiliki orang kebanyakan. Masuk ke daerah-daerah pelosok dengan bekal yang sangat terbatas, dengan kesulitan yang luar biasa. Mendidik anak-anak bangsa, memberikan sesuatu yang terbaik bagi masyarakat. Hal yang tidak bisa dilakukan oleh orang-orang biasa,” imbuh Wakil Ketua Majelis Dikti Litbang PP. Muhammadiyah.

Oleh karena itu ulama dan guru mesti dihormati. Kendati demikian Prof. Noto juga mengungkapkan keprihatinannya.

“Di luar pemahaman dan akal kita, para ulama dan guru ini sering sekali mendapatkan perlakuan yang tidak sehat. Memperoleh fitnah, menghadapi bully dan cercaan dengan berbagai alasan.

Lalu bagaimana berakhlak kepada ulama dan guru?

Pertama, bersikap ta’zim yang ditunjukkan melalui cara cara berkomunikasi yang baik, santun (tatap mata, bahasa tubuh. bertutur, pemilihan kausa kata dan kalimat).

Kedua, mendengar dan mengikuti Tausiyah dan Fatwa Ulama (MUI). Ketiga, menjaga Muru’ah Ulama, dan karya (kitab-kitab) yang ditulis para Ulama.

Keempat, tidak memperkeruh dan mempertentangkan perbedaan pandangan yang terjadi di kalangan Ulama apapun motifnya.

Sedangkan yang kelima dan keenam ialah menghornati pandangan ulama meskipun berbeda madzhab. Serta menghindari ta’asub (fanatik buta) kepada Ulama.

Sedangkan akhlaq terhadap guru, kata Prof. Noto, bisa dilakukan dengan cara menghargai profesi guru, bersedia menjadi mitra guru dalam melaksanakan tugas-tugas pendidikan.

Kemudian, membela dan melindungi hak-hak dan kedaulatan guru. Menjunjung tinggi martabat guru dan bersikap santun kepada guru. Lalu kita bisa mendorong anak-anak untuk senantiasa menghargai atau menghormati guru.

Tugas ulama dan guru sejalan dengan misi kenabian.

انما بعثت لاتمم مكارم الاخلاق

Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak

Prof Noto juga mengatakan bahwa ada kaitan kuat antara iman atau aqidah dengan akhlaq, sebagaimana dalam hadis disebutkan.

اكمل المؤمنين ايمانا احسنهم خلقا

Orang mukmin yang paling baik imannya adalah yang paling baik akhlaknya

“Jadi kesempurnaan iman dicerminkan dengan kemuliaan akhlaq. Bahkan akhlaq juga terkait dengan ketaatan kepada syariah. Aqidah, Syariah dan Akhlaq adalah satu kesatuan,” pungkasnya.

Leave A Reply

Your email address will not be published.