Anak Jadi Pelopor dan Pelapor Dalam Program Bersama Jaga Keluarga (Berjarak)

Sejak Pandemi Covid-19 masuk Indonesia, anak-anak usia sekolah menjadi pihak yang pertama kali merasakan dampak tersebut. Perempuan khususnya kaum ibu menjalankan fungsi ganda sebagai guru yang mendampingi anak-anak mengerjakan tugas sekolah.

Untuk mengantisipasi dampak tersebut Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) Bintang Puspayoga telah mengalokasikan anggaran Kementerian PPPA untuk penanganan Pandemi Covid-19, di antaranya melalui Program Gerakan Bersama Jaga Keluarga (Berjarak).

Dalam gerakan ini, anak-anak dijadikan pelopor dan pelapor. Anak-anak menjadi pelopor karena biasanya orang tua atau orang dewasa lebih menurut pada ajakan atau nasehat anak. Anak-anak bisa mengajak orang tuanya untuk tetap di rumah, menjaga jarak dan menghindari kerumunan.

Anak-anak juga bisa menjadi pelapor menyampaikan bila ada anggota masyarakat yang tidak menaati protokol yang ditetapkan pemerintah selama pandemi Covid-19.

Dengan peran ini anak-anak juga bisa menjadi garda terdepan dalam mengedukasi keluarga, lingkungan dan teman sebaya.

Anak-anak sebagai subjek didasari data Susenas 2018 dimana terdapat 9 juta anak tinggal di rumah tangga dengan kepala keluarga lansia. 7,6 juta anak tinggal di rumah tangga dengan kepala keluarga perempuan, dan 122.000 anak yang tinggal di rumah tangga dengan kepala keluarga berusia di bawah 18 tahun. Lansia dan perempuan atau anak sebagai kepala rumah tangga tunggal, sangat rentan terdampak Covid-19.

Dalam menjalankan Program Berjarak, Kementerian PPPA menggandeng Forum Anak Indonesia dan Dinas PPA provinsi, kabupaten/kota dan berbagai stakeholder.

Ada sepuluh aksi nyata yang diimplementasikan dalam Program Berjarak tersebut, yaitu tetap di rumah; hak perempuan dan anak terpenuhi; alat perlindungan diri tersedia; jaga diri, keluarga dan lingkungan; membuat tanda peringatan; menjaga jarak fisik; mengawasi keluar masuk orang dan barang; menyebarkan informasi yang benar; aktivasi media komunikasi online; serta aktivasi rumah rujukan.

Adapun kesepuluh agenda aksi tersebut bermuara pada tiga upaya, yakni pencegahan, perlindungan, dan penanganan, khususnya pada anak.

Pencegahan

Upaya pencegahan dilakukan melalui media Komunikasi Informasi dan Edukasi (KIE). Termasuk di dalamnya media yang aman dan positif bagi anak. Media sebagai sarana sosialisasi, informasi, dan komunikasi digunakan untuk menyadarkan masyarakat, khususnya perempuan dan anak.

Banyak keluhan dari masyarakat tentang beban tugas dari guru yang wajib dikerjakan di rumah sebagai pengganti belajar di sekolah. Kementerian PPPA berkoordinasi dengan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan serta kementerian/lembaga terkait. Meminta untuk tidak membebani anak (pelajar) terkait tugas-tugas yang tidak sesuai dengan kemampuan mereka.

Sebab banyaknya tugas melalui internet meningkatkan beban biaya sehingga tingkat stress anak dan orangtua meningkat. Hal ini berbahaya karena stress dapat menurunkan imunitas sehingga berdampak buruk bagi kesehatan keluarga.

Perlindungan

Upaya perlindungan dilakukan dengan melindungi anak dari lingkungan yang tidak sehat, baik karena bahaya asap rokok maupun dalam rangka menjaga jarak aman dari ancaman penyebaran Covid-19.

Berdasarkan data Kemenkes, prevalensi perokok di Indonesia merupakan yang tertinggi di dunia dan diprediksi lebih dari 97 juta penduduk Indonesia terpapar asap rokok (Riskesdas, 2013).

Kecenderungan peningkatan prevalensi merokok terlihat lebih besar pada kelompok anak-anak dan remaja. Riskesdas 2018 menunjukkan terjadi peningkatan prevalensi merokok penduduk usia kurang dari 18 tahun dari 7,2% menjadi 9,1%. Jika penularan Covid 19 ini berpotensi besar pada perokok, maka memang benar hal yang harus diperhatikan adalah anak dan perempuan.

Di sisi lain, Pemberlakuan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) dapat memicu pemutusan hubungan kerja atau hilangnya mata pencaharian kepala keluarga. Hingga memunculkan stress yang menyebabkan konsumsi rokok meningkat.

Dalam kondisi ini, anak-anak bisa menjadi perokok pasif dalam rumah maupun menjadi perokok aktif karena tertular stress yang dirasakan orang dewasa di sekitarnya.

Program Berjarak juga telah menyiapkan rumah aman untuk melindungi anak dari segala bentuk kekerasan fisik maupun psikis, khususnya di masa pandemi ini. Sebagai contoh, Dinas PPA Sulawesi Selatan mengimplementasikan rumah aman, bekerja sama dengan dinas terkait.

Anak-anak berkebutuhan khusus yang ada di Sekolah Luar Biasa, dipindahkan ke gedung Diklat milik pemerintah. Demikian juga anak-anak yang menjadi korban kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) atau yang terdata sebagai ODP/PDP, disediakan rumah aman.

Penanganan

Sementara itu, program-program dalam upaya penanganan didasarkan pada data yang masuk dari 21 provinsi dalam laporan program Berjarak. Sampai 21 April 2020, terdata 26 anak terindikasi positif Covid-19, sebanyak 991 anak berstatus PDP, dan 6.744 anak menjadi ODP.

Dari data tersebut Kementerian PPPA secara intensif turut menangani kasus tiga anak bersaudara di Gunung Sahari, Jakarta. Ayah dari anak tersebut meninggal karena Covid-19, ibunya menjalani isolasi di Wisma Atlet. Maka ketiga anak yang masih di bawah 18 tahun menjadi tanggung jawab pemerintah di bawah koordinasi Kementerian PPPA dan Dinas PPA DKI Jakarta.

Kementerian PPPA juga memberikan bantuan langsung pada anak yang terdampak Covid-19. Bantuan itu berupa bantuan sembilan bahan pokok (sembako) maupun bantuan spesifik seperti susu bagi ibu hamil dan balita, pampers, dan vitamin. Kementerian PPPA juga memastikan pengasuhan alternatif pada anak terdampak bekerja sama dengan Dinas PPA provinsi, serta kabupaten/kota.

Menteri PPPA juga meminta adanya protokol percepatan dan strategi penanganan perempuan dan anak pada Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19.

Semua langkah pencegahan, perlindungan, dan penanganan untuk keselamatan anak telah dan akan terus dilakukan oleh Kementerian PPPA sebagai bentuk keberpihakan nyata kepada generasi masa depan bangsa.

Dr. Ulfah Mawardi, M.Pd
Anggota MUI Komisi Pendidikan dan Kaderisasi dan Staf Khusus Menteri PPPA

Editor: Eep

Leave A Reply

Your email address will not be published.