Bagaimana Menyikapi Budaya Pasca Corona

Kehadiran Corona mengubah banyak hal. Berkendaraan memakai masker, masuk rumah mencuci tangan, jabat tangan diganti salaman jarak jauh (tanpa menyentuh), cipika-cipiki tidak dilakukan lagi. Termasuk kebiasaan mencium tangan guru dan orang tua. Semua aktivitas mengharuskan jaga jarak untuk memutus mata rantai virus corona.

Pertanyaannya, apakah kebiasaan ini akan berlangsung sementara, waktu yang panjang atau seterusnya?

Sebagian berpikir keadaan akan kembali seperti semula dan sebagiannya berpendapat keadaan tidak akan kembali seperti sedia kala. Saya sepakat dengan pendapat yang kedua. Pasca corona, akan muncul banyak kebiasaan baru yang menjelma menjadi budaya baru. Kebiasaan hidup lebih sehat dan selalu menjaga jarak.

Majelis taklim, masjid, atau rumah-rumah ibadah, akan lebih rutin melakukan kegiatan kebersihan. Pedagang berpenampilan lebih bersih dan rapih, termasuk dalam menata barang dagangannya. Pengendara lebih memiliki kesadaran berlalu lintas, memakai sarung tangan, masker dan helm.

Jika sebelumnya menyimpan uang di sembarang tempat, kini kita lebih sadar menempatkannya di tempat yang aman, tidak bersentuhan langsung dengan kulit. Berbulan-bulan menghabiskan waktu di rumah memunculkan kesadaran pentingnya hidup hemat. Saat memiliki sedikit uang lebih akan kita gunakan untuk menabung. Menabung, mengantisipasi  terjadinya kembali kemungkinan aktivitas di rumah dalam waktu yang lama.

Semua orang mencoba mengakrabkan diri dengan teknologi infokom. Siapapun, termasuk orang tua. Tuntutan work from home, study from home dan pray from home memaksa kita menyesuaikan diri dengan berbagai aplikasi penunjang proses semua itu.

Benarlah bahwa di dunia ini semua akan berubah. Hanya satu yang tidak berubah yaitu perubahan itu sendiri. Mau atau tidak mau, senang atau tidak senang, siap atau tidak siap kita akan terus menghadapi perubahan.

Perubahan yang terjadi dalam teknologi informasi dan komunikasi begitu cepat. Perubahan itu memengaruhi banyak sektor, terlebih lagi sektor militer, bisnis, pendidikan dan kesehatan.

Ada dua pilihan menghadapi perubahan. Pertama, bertahan pada yang lama, berarti siap tenggelam bersamanya. Kedua, menerima, berarti siap menyesuaikan diri dan menghadapi tantangan-tantangan yang terjadi.

Agama mengajarkan kita untuk selalu Iqra. Mempelajari segala sesuatu yang ada di sekeliling kita untuk menghasilkan karya-karya besar bagi kehidupan umat manusia.

(Sugiharto M.Ag., Anggota Komisi Pendidikan dan Kaderisasi MUI Pusat)

Leave A Reply

Your email address will not be published.