Dakwah di Tengah Keluarga Cikal Bakal Pembentukan Masyarakat

Pendidikan dan dakwah di tengah-tengah keluarga adalah cikal bakal pembentukan sebuah masyarakat yang madani dan Islami. Begitu ungkap KH. Abdullah Jaidi ketika memaparkan materi “Berdakwah Mulai Dari Rumah” dalam Pesantren Ramadhan MUI Komisi Pendidikan dan Kaderisasi, Jum’at (07/05/2020).

Sedangkan masyarakat yang mewujudkan ciri-ciri dan budaya-budaya yang berakhlak Islamiyah akan menjadi sebuah sikap hidup dari masyarakat tersebut.

Oleh karenanya, Kiai Abdullah menegaskan bahwa anak-anak di generasi kedepan lah yang akan membawa pengaruh dan dampak yang baik dalam perjalanan dan perjuangan kehidupan bangsa dan umat Islam di kemudian hari.

Mewujudkan Keluarga Yang Beriman dan Bertaqwa

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ ٱتَّقُواْ ٱللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِۦ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنتُم مُّسۡلِمُونَ

Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya dan janganlah kamu mati kecuali dalam keadaan Muslim. (QS. Ali ‘Imran, ayat 102).

Sesuai dengan apa yang disampaikan wasiat Allah Subhanahu Wa Ta’ala bagi orang-orang yang beriman hendaklah kalian bertakwa kepada Allah Swt dalam makna yang sangat luas dan janganlah engkau meninggalkan penutup akhir hidup ini kecuali orang-orang yang muslimin orang-orang yang berserah diri kepada Allah. Orang-orang yang patuh kepada Allah dalam hidupnya dan sikap hidupnya selalu di bawah titian dan tuntunan Allah Swt dalam hidupmu.

Kiai Abdullah menekankan betapa pentingnya berdakwah yang dimulai dari rumah. Bahwa jika berdakwah dari rumah ini bisa dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya di rumah masing-masing. Maka akan muncul lah keluarga-keluarga yang beriman, bertaqwa dan berakhlak karimah dalam hidup dan kehidupan kita.

“Berdakwah dari keluarga akan menjadi membawa perubahan di tengah-tengah umat di tengah-tengah masyarakat,” tegasnya.

Jaga diri dan Keluarga dari Api Neraka

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ قُوٓاْ أَنفُسَكُمۡ وَأَهۡلِيكُمۡ نَارٗا

Wahai orang-orang yang beriman! Peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka (QS. At Tahrim, ayat 6).

Api neraka adalah simbol sebuah akhir perjalanan yang sangat merugikan dalam hidup seorang manusia khususnya bagi seorang muslim. Api Neraka juga menggambarkan sebuah kehancuran dan penyesalan akibat perbuatan yang di luar konteks atau melanggar aturan-aturan Allah Subhanahu Wa Ta’ala.

“Janganlah kita mengakhiri hidup kita ini  meninggalkan sebuah pesan-pesan dakwah yang sangat mulia dalam hidup ini kecuali dapat menjauhkan diri kita dari api neraka,” imbuhnya.

Oleh sebab itu perlu ada kekhawatiran jika kita meninggalkan generasi yang lemah sebagaimana disebutkan dalam ayat berikut,

وَلۡيَخۡشَ ٱلَّذِينَ لَوۡ تَرَكُواْ مِنۡ خَلۡفِهِمۡ ذُرِّيَّةٗ ضِعَٰفًا خَافُواْ عَلَيۡهِمۡ فَلۡيَتَّقُواْ ٱللَّهَ وَلۡيَقُولُواْ قَوۡلٗا سَدِيدًا

Dan hendaklah takut (kepada Allah) orang-orang yang sekiranya mereka meninggalkan keturunan yang lemah di belakang mereka yang mereka khawatir terhadapnya. Oleh sebab itu, hendaklah mereka bertakwa kepada Allah, dan hendaklah mereka berbicara dengan tutur kata yang benar. (QS. An-Nisa’, ayat 9).

Jangan sampai generasi ke depan lemah iman. Fitrah manusia itu suci, bersih dan baik. Tugas keluarga menjaga fitrah tersebut, termasuk menjaga, merawat dan memelihara keimanan

Setiap anak juga memiliki bakat, potensi dan kecenderungan. Di sini keluarga mensupport, mengarahkan mengembangkan potensi tersebut.

Generasi yang kita persiapkan juga mesti berperan membangun dan menata peradaban sesuai syariat. Sehingga anak-anak mesti dididik ke arah sana.

Cerita Pendidikan di Rumah

Kiai Abdullah bercerita bagaimana ia dulu dididik dari rumah. Misalnya bagaimana menyambut tamu, menuangkan teh pada tamu hingga menemani tamu.

“Orang tua kami sangat menerapkan sebuah kedisiplinan, menerapkan nilai-nilai ketakwaan, menerapkan nilai-nilai akhlak dan adab dalam kehidupan,” ceritanya.

Bagaimana sebelum Maghrib seluruh anggota keluarga sudah berada rumah kemudian shalat secara berjamaah yang dilanjutkan dengan membaca wirid.

Kiai Abdullah juga menekankan pentingnya anak berani bertanya dan tidak sungkan berkonsultasi dengan orang tua. Sehingga segala informasi yang didapatnya bisa dikonfirmasi atau ditabayyun oleh orang tuanya.

Belum lagi adanya perpustakaan pribadi yang memang diperuntukkan untuk keluarga. Beliau juga sejak kecil rutin diajak untuk berguru dan mengaji dengan mendatangi guru secara langsung.

Kiai Abdullah sewaktu kecil mengaku diminta untuk membaca surat untuk ayahnya dalam bahasa Arab, kemudian diminta untuk membalas surat tersebut dengan mendiktekannya.

“Inilah yang membuka wawasan kami dari perkembangan-perkembangan yang terjadi di alam dunia itu dan hal-hal yang bersifat perkembangan-perkembangan diniyah agama,” sambung Kiai Abdullah.

Berdakwah itu seyogyanya dimulai dari rumah. Dari rumah ini akan lahir, generasi yang beriman dan beradab, generasi yang kuat dan mumpuni, generasi yang berilmu pengetahuan, generasi yang sesuai dengan apa yang disyariatkan oleh Allah Swt, jelas Ketua Bidang Pendidikan dan Kaderisasi MUI tersebut.

Leave A Reply

Your email address will not be published.