Dua Tantangan dalam Beragama

Beragama itu bukan berarti tanpa tantangan. Tantangan pertama dalam beragama adalah menerima kemajemukan. Demikian ucap Kiai Wahfiudin Sakam, Wakil Ketua Komisi Pendidikan dan Kaderisasi MUI Pusat.

Bahkan di dalam ajaran Islam yang kesucian dan ketunggalan Alquran sangat terjaga. Tidak terlepas adanya kemajemukan dalam interpretasi dan dalam penafsiran. Begitu juga dalam Hadis, kemajemukan interpretasi tidak bisa dihindari.

Apa sebabnya? yang pertama bagaimanapun hadits yang bersumber dari sunnah Rasul itu muncul sesuai dengan konteks. Bagaimana ketika Rasulullah SAW alaihi Salam hidup di kota Makkah dan bagaimana setelah beliau hijrah ke Kota Madinah. Ada konteks alam dan budaya yang berbeda.

Itu yang menyebabkan interpretasi terhadap hadits yang disesuaikan dengan konteks masa lalu dan disesuaikan dengan konteks sekarang mau tidak mau menimbulkan penafsiran penafsiran yang berbeda. Belum lagi tentang status hadis itu sendiri, sebagian katakan itu hadis dhaif, sebagian katakan tidak dhaif dan lain-lain.

Menerima Interpretasi Yang Majemuk

Al Qur’an yang terjaga kesucian dan ketunggalannya sangat memungkinkan memunculkan tafsir interpretasi yang beragam, begitu juga hadis. Oleh sebab itu sulit mendapatkan interpretasi dan pemahaman yang tunggal dan seragam.

Maka tantangan dalam beragama khususnya bagi muslim, pertama adalah menerima adanya kemajemukan, menerima adanya keragaman terhadap tafsir-tafsir, terhadap interpretasi interpretasi teks-teks keagamaan baik Al Qur’an maupun Al hadits. Apalagi kalau dikaitkan dengan konteks kekinian.

Yang kedua, tantangan beragama khususnya dalam Islam. Al Qur’an itu sumbernya dari Allah dan Allah itu adalah Tuhan Yang Maha Mutlak Yang Maha Absolut.

Mutlak kebenarannya, mutlak kepandaian-Nya atau ilmu-Nya, mutlak kekuasaan-Nya mutlak kehendak-Nya dan mutlak segala-galanya.

Karena Quran bersumber dari Allah yang Al Haq, maka diyakini kebenaran Al Quran adalah kebenaran absolut, kebenaran mutlak.

Nah yang jadi masalah, seringkali manusia dalam membuat interpretasi atau tafsir terhadap Quran, dia tanpa sadar menganggap penafsirannya, pemahamannya yang paling mutlak benar, yang paling absolut benar.

Dengan begitu, jadi dua hal sudah tantangan beragama itu. Interpretasi keagamaan itu sangat beragam dan majemuk, juga orang sering terjebak mengabsolutkan, memutlakkan tafsir atau pendapatnya.

Menahan Diri Jangan Ghuluw

Maka sangat relevan pesan Rasulullah Saw

تَعَلَّمُوا الْقُرْآنَ، فَإِذَا عَلِمْتُمُوهُ فَلَا تَغْلُوا فِيهِ رواه أحمد

Pelajarilah Al Qur’an, jika kamu mempelajarinya jangan kamu ghuluw. Ghuluw itu ekstrem, ghuluw itu berlebih-lebihan, ghuluw itu eksesif. Eksesif dalam arti menganggap pendapat sendiri yang paling benar dan menafikan yang lain.

Kadang-kadang dalam penafsiran itu, karena terkait dengan agama. Sesuatu yang dinafikan dari jalur agama berarti keluar dari agama, berarti murtad, berarti kafir.

Ada orang-orang, kelompok-kelompok tertentu yang karena mengabsolutkan tafsir, pendapat dan pemahamannya sendiri maka mudah pula mengkafirkan atau memurtadkan orang lain. Ini satu sikap ghuluw.

Yang kedua, menahan diri jangan menjadi ghuluw. Kita harus sadari adanya keragaman, kemajemukan interpretasi, berarti harus ada toleransi. Ada toleransi, bisa menghargai dan mencoba mengerti pendapat orang lain dulu.

“Jangan hanya menuntut untuk dimengerti, tetapi tidak mau mengerti dan memahami orang lain. First to understand, then to be understood,” kata Wakil Talqin TQN Pontren Suryalaya.

Berusahalah untuk mengerti dulu, kemudian kita berharap dimengerti oleh orang lain. Selain menahan diri untuk tidak ghuluw, tidak ekstrem, juga bersikap toleran untuk bisa memahami dan mengerti pendapat orang lain.

Sikap inilah yang termasuk dalam karakteristik washatiyah, sifat moderat. Yaitu suatu prinsip keberagaman yang dicanangkan oleh Majelis Ulama Indonesia.

Bahwa keberislaman di Indonesia, adalah keberislaman yang washatiyah, moderat. Tidak ekstrem terlalu jauh kepada salah satu pendapat, bisa toleran bisa menerima adanya keragaman-keragaman tafsir dan pendapat. Dan juga tidak mengabsolutkan diri sendiri lalu terlalu mudah melakukan takfir kepada orang yang berbeda pendapat.

“Inilah diantara makna Islam Washatiyah. Memang yang terbaik adalah pertengahan, tidak berlebih-lebihan,” imbuh Dewan Syariah Dompet Dhuafa tersebut.

Semoga kita menjadi muslim-muslim yang washatiyah, moderat, mampu toleran menerima keragaman pendapat dan penafsiran. Tidak mudah melakukan absolutisasi, merasa diri paling benar mutlak lalu ringannya mengkafirkan orang lain. Naudzubillah.

Karena ada pesan Rasulullah Saw, terlalu mudah mengkafirkan orang lain, kalau orang lain itu tidak kafir, maka kekafiran itu berbalik kepada diri kita.

Leave A Reply

Your email address will not be published.