Hikmah Pembelajaran Berbasis Rumah di Tengah Pandemi Covid-19

Sebagian besar orangtua dan anak-anak menghabiskan waktunya di rumah dalam situasi pandemi Covid-19. Anak-anak belajar dan menjalani rutinitas yang berbeda dari situasi normal.

Demi menjaga diri dan keluarga sudah semestinya orangtua mengajak anak-anaknya belajar, beraktivitas, dan berdoa di rumah saja. Pasalnya, dalam kegiatan di rumah ini, peran orang tua sangatlah menentukan untuk memberikan pemahaman pada anak.

Sehingga tidak bisa dipungkiri bahwa terdapat  beberapa perubahan pola hidup dan tantangan tersendiri bagi keluarga. Di samping banyak pula aspek positifnya jika dijalani dengan sabar, tekun, kreatif dan menyenangkan.

Di balik semua dampak-dampak yang diakibatkan dari musibah Covid-19 ini, terdapat kandungan hikmah yang luar biasa dan dahsyat menurut penulis. Bahkan jauh lebih dahsyat dari pada sisi musibahnya. Apa itu?

Yakni virus corona telah menarik hati kita semua untuk kembali ke fitrah manusia sebagai makhluk keluarga. Ada beberapa hikmah dan pembelajaran yang dilakukan di rumah di tengah pandemi virus Covid-19 adalah sebagai berikut:

Menjadi Guru di Rumah

Dalam situasi yang sangat terpaksa dan mendadak, orangtua dituntut untuk belajar lebih cepat untuk menjadi pihak yang ditanya, mengajari, bahkan membimbing anak, sehingga boleh dikatakan bahwa menjadi guru di rumah ternyata tidak sederhana.

Boleh jadi banyak orangtua yang baru menyadari betapa beratnya tugas guru. Mengapa demikian? sebab baru beberapa hari atau minggu saja tugas itu terasa berat. Dapat dibayangkan mengajari anak Sekolah Dasar saja ternyata membutuhkan wawasan, keterampilan, dan kesabaran teramat tinggi.

Rumah kita sungguh sekolah utama bagi seorang anak. Maka, jika didapati seorang anak tampak bermasalah dalam beragam hal di sekolah, boleh jadi akibat dari pola asuh orangtua yang kurang pas.

Pola asuh yang salah itulah yang di kemudian hari menjadikan seorang anak bermasalah. Hafizh Ibrahim dalam salah satu syairnya menyebutkan, “Al-Ummu madrasatul ula, iza a’dadtaha a’dadta sya’ban thayyibal a’raq.” Memiliki makna ”Ibu adalah madrasah jika engkau persiapkan dengan baik, maka engkau tengah mempersiapkan satu bangsa yang unggul.

Ibu adalah taman. Jika senantiasa tersirami rasa dengan rasa malu, maka taman itu akan hijau merekah. Ibu adalah guru pertama bagi para guru, di mana pengaruh mereka yang terpuji membentak di sepanjang ufuk.

Jika seorang ibu adalah guru utama bagi anak dalam keluarga, maka ingatlah seorang ayah adalah kepala sekolah di dalamnya. Jika sekolah pada umumnya memiliki kurikulum, silabus, visi, misi, dan seterusnya. Maka sudah seharusnya demikian pula pendidikan di dalam setiap keluarga memiliki itu semuanya.

Mari kita sebagai orangtua, jalankan peran dan fungsi sebaik mungkin di rumah, yang merupakan sekolah utama bagi anak-anak kita. Jika pendidikan moral, akhlak, dan kasih sayang dari kedua orangtua untuk anak-anak terpenuhi, suri teladan mereka dapati dari kedua figur orangtua mereka di rumah. Yakinlah, sekolah hanyalah ibarat makanan camilan bagi mereka, karena makanan bergizi telah mereka peroleh di rumah.

Mendekatkan Keluarga

Keluarga merupakan unit sosial yang terkecil dalam masyarakat yang terdiri dari ayah ibu dan anak-anaknya. Dalam kondisi Covid-19 peran ayah dan ibu kembali diasah. Karena pandemi virus corona memicu Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dan pemerintah negara untuk mendesak warga menjaga jarak sosial dan melakukan karantina mandiri.

Hal itu diiringi dengan kebijakan sekolah di rumah dan bekerja dari rumah. Pada momen ini, pertama, peran ayah dan ibu kembali diasah karena momen berkumpul bersama di dalam rumah. Kedua, setiap anggota keluarga dapat berkomunikasi tanpa jarak dan memberi perhatian yang lebih intens satu sama lain. Hal ini bisa terjadi karena seluruh anggota keluarga berada di dalam rumah yang sama untuk waktu yang lama. Sehingga, komunikasi yang biasanya terbatas atau dilakukan melalui ponsel, bisa dilakukan secara langsung.

Bagaimana tidak ayah yang biasanya menjadi tulang punggung keluarga yang kesehariannya menafkahi keluarga dipaksa untuk berdiam diri di rumah atau work from home (bekerja dari rumah saja) untuk waktu yang belum bisa ditentukan. Hal ini mustinya menjadi peluang tersendiri bagi kedua orangtua untuk lebih inten dan komunikatif terhadap keluarganya terlebih anak-anaknya.

Karena tidak jarang anak yang memiliki orangtua karir lebih minim berkomunikasi dibanding inten berkomunikasi. Disebabkan orangtua yang lebih sibuk di luar rumah daripada di dalam rumah.

Orangtua akan lebih dekat menyapa, memperhatikan etika dan sopan santun, saling berbagi pengalaman, bahkan canda tawa lepas yang secara tidak langsung menghangatkan nuansa kekeluargaan.

Perlu diperhatikan pula bahwa kesulitan yang paling tragis antara orangtua dan anak adalah tiadanya komunikasi yang kondusif. Ketika orangtua berhadapan dengan anak, di sini terdapat dua ego (aku).

Apabila orangtua memaksakan kehendaknya seperti ia ingin anaknya sebagai kelanjutan darinya; ataupun sebaliknya, jika orangtua menyerahkan sebebas-bebasnya apa yang diinginkan anak, maka di sini hanya muncul satu ego, bukan perpaduan dua ego itu.

Pada ego pertama anak akan menjadi minder, tidak kreatif dan akhirnya memberontak. Pada ego kedua anak seakan-akan menjadi raja dan merasa perlu dilayani. Akhirnya ia memperbudak orangtuanya.

Karena itu, pintu komunikasi hanya akan terbuka lebar jika orangtua membiasakan berdialog dengan anak, bukan kepada anak, sejak anak menginjak remaja.

Sebagai orangtua, kita harus arif memilah-milah antara ketidakpatuhan dengan keinginan anak menemukan sesuatu yang baru. Dalam hal ini Rasulullah bersabda, ”Didiklah anakmu, karena mereka akan hidup pada zamannya.”

Hadis ini mendorong kita bahwa dalam mendidik anak seakan-akan usia kita dengan anak tidak terpaut terlalu jauh. Ini akan memunculkan sikap menghargai, bahwa tindakan anak yang berbeda dengan kita dalam soal-soal yang positif bukan semuanya dilarang, tetapi ada sisi kelonggaran yang diiringi dengan pemantauan seperlunya.

Ketika Lukmanul Hakim memberi nasihat kepada anaknya, ia berbicara dengan anaknya. Ini terlihat pada kalimat li ibnihi (untuk anaknya), bukan ilaa ibhini (dibebankan kepada anaknya). Setelah ia merasa menyatunya dua ego, baru ia tuturkan nasihat-nasihat untuk anaknya (Surat Luqman (31): 13).

Ladang Pahala

Setiap keluarga muslim pasti ingin mewujudkan rumah sebagai surga atau ‘Baiti Jannati’, tempat yang dapat menjadi ladang pahala dengan melakukan berbagai kebaikan bersama keluarga termasuk memperbanyak ibadah untuk mendapatkan keberkahan.

Majelis Ulama Indonesia (MUI) mengimbau seluruh masyarakat untuk beribadah dari rumah guna mencegah penyebaran virus corona-19. Shalat lima waktu, shalat Jumat, shalat tarawih saat bulan Ramadhan dan kegiatan keagamaan lain diminta untuk tidak dilakukan di mushalla atau masjid, melainkan cukup di rumah.

Pada situasi pandemi ini, beribadah dari rumah disebut memiliki pahala dan nilai yang lebih besar di mata Allah SWT. KH. Dr. Asrorun Ni’am Sholeh, MA menjelaskan dalam Madrasah Ramadhan, bahwa amal seseorang di mata Allah SWT tergantung pada tingkat kesulitannya. Semakin berat ujian atau tantangan dalam menjalankan amal ibadah itu, maka kian besar pula pahalanya.

Hal tersebut sesuai hadis dari Siti Aisyah yang diriwayatkan oleh Imam Muslim yang berbunyi, Walakinnaha ‘ala Qadri Nashabiki, artinya pahala amal itu tergantung tingkat kesulitannya. Menjalankan ketaatan pada Allah SWT di tengah ujian berupa wabah Covid-19, insya Allah pahalanya lebih besar dibandingkan saat situasi sedang aman dan mudah untuk menjalankan ibadah.

Umat Islam sudah semestinya mematuhi perintah dari para pemimpin dan ulama untuk beribadah dari rumah. Oleh karena itu dalam situasi seperti saat ini patuhilah apa yang diserukan para ulama dan juga ulil amri atau pemerintah, karena patuh itu juga perintah Allah SWT, atiullaha waatiurrasul wa ulil amri minkum (Surat An-Nisa’ (4): 59).

Dengan demikian, pendidikan akhlak dan agama seorang anak yang diperoleh dari kedua orangtua di rumah itulah yang akhirnya menjadi benteng dalam pergaulan bersama teman-teman di lingkungan kehidupannya. Dan akan menjadi sikap serta akhlak yang akan dibawa ke mana pun, bahkan hingga kapan pun dan bagaimanapun kelak di perjalanan hidupnya.

Penulis: Abdul Aziz, PKU MUI-Pascasarjana UIN Jakarta, Condet-Jakarta Timur

2 Comments
  1. Nair says

    Mantap. Semoga membawa keberkahan untuk kita semua

    1. Editor says

      Aamiin

Leave A Reply

Your email address will not be published.