Hubungan Paradigma dan Nasib Seseorang

Nasib manusia (destiny) selain ditentukan takdir Tuhan Yang Maha Kuasa, juga ditentukan oleh karakter manusia itu sendiri. Orang-orang yang berkarakter baik, selalu mendapatkan nasib baik. Rekan, keluarga bahkan alam semesta akan selalu memberikan kebaikan bagi orang-orang yang berkaraker baik.

Karaker dibentuk oleh kebiasaan (habits). Kebiasaan pada dasarnya adalah tindakan (action) yang berulang. Maka membangun kebiasaan dengan cara mengulang-ulang tindakan tertentu.

Seseorang melakukan tindakan sangat ditentukan oleh paradigma yang dianutnya. Apa itu paradigma?

Paradigma bisa diartikan cara melihat dan memahami realitas. Cara kita melihat dan memahami alam, memahami manusia, kehidupan, memahami apa pun. Kesimpulan-kesimpulan dari pemahaman itu menjadi prinsip bagi kehidupan kita. Menjadi nilai (values), standar.

Sehingga paradigma bisa diterjemahkan sebagai nilai-nilai, prinsip-prinsip, standar-standar yang diperoleh dari memahami suatu realitas, suatu keadaan.

Orang yang berparadigma materialistik dalam tindakannya selalu mengutamakan kebendaan, materi. Ketika hidup hanya mengejar kebendaan, materi, menjadi sebuah kehidupan yang berulang (habits), akhirnya akan memengaruhi karakternya. Ia berkarakter materialistik, serakah, kikir, egoistik dan eksploitatif terhadap orang lain.

Karakter seperti itu akan memengaruhi nasib. Bagaimana seseorang akan diperlakukan oleh Tuhan, alam, dan manusia-manusia lain tergantung dari karakternya.

Itulah hubungan antara paradigm, action yang menjadi habits, habits yang membentuk character dan character yang menentukan destiny seseorang.

(KH. Wahfiudin Sakam, Wakil Ketua Komisi Pendidikan dan Kaderisasi MUI Pusat, Wakil Talqin TQN Pontren Suryalaya)

Leave A Reply

Your email address will not be published.