Ihwal Ilmu Yang Bermanfaat

Tidak diragukan sedikitpun, bahwa ilmu adalah tangga menuju pencapaian kejernihan-kejernihan rohani. Dari khazanah ayat al-Quran hingga hadis Rasul Saw, berlimpah petunjuk perihal keutamaan ilmu ini, tentunya pemilik atau pencari ilmunya pula. Dari khazanah qaul para ulama pun berlimpah ruah. Termasuk dari khazanah tokoh besar sufipun, dorongan mendulang ilmu tidak kekurangan.

Di dalam al-Quran, Surat at-Taubah ayat 122 menyeru supaya tak semua orang Islam tidak berangkat ke medan perang untuk berjihad; hendaklah sebagiannya tinggal untuk mendalami dan mendakwahkan ilmu. Hal ini memperlihatkan betapa agungnya derajat para ahli ilmu, yang dapat diandaikan tidaklah kalah derajatnya di hadapan para mujahid.

Dengan bantuan ilmu pula, seorang Muslim, dengan berbagai cara dan upaya dapat  mendekatkan diri kepada Allah. Berdasarkan landasan ini,  ilmu dikatakan bermanfaat bila dengan ilmu itu ia dapat meningkatkan pengetahuannya akan Allah.

Nabi bersabda,” Sesungguhnya Allah ditaati dan disembah dengan ilmu. Begitu juga kebaikan dunia dan akhirat bersama ilmu, sebagaimana kejahatan dunia dan akhirat karena kebodohan.”

Ilmu Versus Nafsu

Fakta-fakta yang menyeruak ke dunia sosial majemuk kita hari ini yang justru kerap memicu pertikaian dan perselisihan akibat ontran-ontran ilmu.

Mengapa ilmu yang semestinya menghantar kepada kefaqihan (derajat tinggi), shalih, dan akhlak karimah, justru cenderung berkebalikan menjungkalkan ke lembah kelam yang dibenci-Nya dalam rupa perselisihan, pertikaian, dan permusuhan?

Bagaimana mungkin, dalam bentuk pertanyaan kritis lain, orang yang ahli ilmu syariat, seperti ilmu al-Quran, hadis, dan sirah nabawiyah, justru gagal merayakan spirit ukhuwah yang paling primordial, asasial, dan fundamental dalam keberislamannya?

Mari kita ingat Surat Ali ‘Imran ayat 105 ini selalu sebagai ‘batasan nyata’ di sisi hilirnya bagi kita semua:

وَلَا تَكُونُوا۟ كَٱلَّذِینَ تَفَرَّقُوا۟ وَٱخۡتَلَفُوا۟ مِنۢ بَعۡدِ مَا جَاۤءَهُمُ ٱلۡبَیِّنَـٰتُۚ وَأُو۟لَـٰۤىِٕكَ لَهُمۡ عَذَابٌ عَظِیمࣱ

“dan janganlah kamu menyerupai orang-orang yang bercerai-berai dan berselisih sesudah datang keterangan (al-Quran) yang jelas kepada mereka. (Siapa yang begitu) mereka itulah orang-orang yang mendapat siksa yang berat.”

Siapa yang terjungkal pada sikap anomali tersebut, kiranya dapat kita pahami dengan sederhana merupakan akibat dari “ilmu yang tidak berkah”. Ilmu justru menceburkan pemiliknya kepada destruksi dua diktum: ilmu kanthi laku dan migunani tumpraping liyan ( ilmu itu bisa dipahami/dikuasai harus dengan sungguh-sungguh dan sekecil apapun kebaikan yang kita perbuat bisa bermakna besar bagi orang lain).

Al-Quran pun telah memberikan peringatan kepada kita, sebagaimana Surat al-Mukminun ayat 71:

وَلَوِ ٱتَّبَعَ ٱلۡحَقُّ أَهۡوَاۤءَهُمۡ لَفَسَدَتِ ٱلسَّمَـٰوَ ٰ⁠تُ وَٱلۡأَرۡضُ وَمَن فِیهِنَّۚ بَلۡ أَتَیۡنَـٰهُم بِذِكۡرِهِمۡ فَهُمۡ عَن ذِكۡرِهِم مُّعۡرِضُونَ

Dan seandainya kebenaran itu menuruti keinginan mereka, pasti binasalah langit dan bumi, dan semua yang ada di dalamnya. Bahkan Kami telah memberikan peringatan kepada mereka, tetapi mereka berpaling dari peringatan itu.

Ketika ternyata makin dalam dan luasnya ilmu malah makin membelokkan kita dari aras adiluhung tersebut. Berdasar ayat di atas, mengertilah kita bahwa ilmu yang luas dan dalam tersebut telah dibajak hawa nafsu diri. Kenapa hawa nafsu? Sebab hawa nafsulah, sebagaimana diinformasikan Surat Yunus ayat 53, yang berkecenderungan mendorong kita kepada lembah keburukan.

Parameter Nafsu

Tidak berlebihan barangkali di kalangan para salik dicemaskan sebagai “hijab ilmu”. Cara kerja hijab rohani ini jelas lebih halus, samar, tipis, tetapi sekaligus berat sekali untuk dideteksi bahkan oleh para pelakunya sendiri.

Seringkali kita malah terkecoh dengan menyangka “inilah kebenaran (al-haq), kuat secara rujukan dalil-dalil sahih, pula secara metodologi dan analisis ilmu, sehingga tak ada keraguan sedikit pun di dalamnya”, padahal boleh jadi justru di dalamnya sedang berpesta pora hawa nafsu, plus tipu daya iblis.

Merujuk Surat al-Mukminun ayat 71 telah sangat jelas, yakni adanya kerusakan (mudharat). Bila paparan ilmu, seluas, sedalam, dan sekolah apa pun penampakannya, malah memberikan mudharat, kerusakan, dan (dalam istilah Surat Ali ‘Imran 105) perpecahan dan permusuhan serta kebencian, itulah bukti nyata dari “barang hak yang dikuasai hawa nafsu”.

Sayyidina Ali bin Abi Thalib, yang dijuluki sang gerbang ilmu oleh Rasulullah Saw, dengan enteng menyahuti sergahan Abdurrahman bin Muljam at-Tamimi yang kelak membunuhnya di tahun 23 Hijriah yang mengutip ayat “waman lam yahkum bima anzalallah faulika humul kafirun, siapa yang tidak menetapkan hukum berdasarkan hukum Allah Swt, maka mereka itulah golongan orang kafir” dengan kalimat pendek: “Kalimat benar (haq) tapi digunakan dengan tidak benar (haq) atau bukan pada tempatnya.”

Mari selalu mawas diri, berhati-hati, berbesar jiwa, berendah hati, dan memohon karunia Allah Swt semoga pertambahan ilmu kita sekaligus menambah pemahaman kita yang mengarah kepada mengangkat derajat kita.

Ini isyarat bahwa ilmu kita makin meneguhkan iman di hulu dan melahirkan kemaslahatan di hilirnya. Ciri dari kondisi alim ideal ini adalah makin hujamnya akar pohon iman di hati, makin tegaknya batang takwa, dan makin rindang dan sejuk dedauanan dan bebuahan akhlak karimahnya.

Dengan demikian bila ilmu itu dicari tidak diniati karena Allah, tidak menambah kebaikan bagi dirinya dan orang di sekitarnya, ilmu itu tidak bermanfaat. Setiap ilmu yang tidak menolong manusia menuju Allah seperti muatan buku yang dibawa di atas keledai. Allah berfirman, “Perumpamaan orang-orang yang dipikulkan kepadanya Taurat, kemudian mereka tiada memikulnya adalah seperti keledai yang membawa kitab-kitab yang tebal ….’”(Surat al-Jumu’ah (62): 5).

Penulis: Abdul Aziz PKU MUI Pascasarjana UIN Jakarta

Leave A Reply

Your email address will not be published.