Indahnya Hari Raya Lebaran dan Iedul Fitri

Berbarengan dengan instruksi Bapak Menteri Agama RI terkait telah datang bulan kemenangan atau hari raya Iedul Fitri maka berakhir pula bulan suci Ramadhan tahun ini.

Umat Islam seantero dunia, terlebih di seluruh nusantara dari Sabang hingga Merauke seolah-olah sudah tidak sabar lagi ingin mengekspresikan dan meluapkan kegembiraannya dengan bersama-sama mengumandangkan gema takbir, tasbih, tahmid, dan tahlil sebagai wujud rasa syukur pada Allah SWT karena telah melewati ujian selama sebulan lamannya. Sebagaimana Allah Swt firmankan,

وَلِتُكْمِلُوا۟ ٱلْعِدَّةَ وَلِتُكَبِّرُوا۟ ٱللَّهَ عَلَىٰ مَا هَدَىٰكُمْ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ

“Dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur” (QS. Al Baqarah (2): 185).

Ada sedikit berbeda ketika kita membicarakan ucapan lebaran dan Iedul Fitri yang sering kita sampaikan. Lebaran dimaknai bahwa semua orang baik yang puasa atau tidak di bulan Ramadhan maka ia berhak bersenang ria, berbahagia untuk turut serta merayakan hari raya tersebut.

Akan tetapi hari raya Iedul Fitri dimaknai bahwa yang berhak merayakannya adalah mereka yang hanya megerjakan puasa sebulan penuh lamanya di bulan Ramadhan. Allah berfirman,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

“Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa” (QS. Al Baqarah (2): 183).

Jika memperhatikan ayat di atas, bahwa seruan Allah ditujukan kepada hamba yang beriman, hamba yang di dalam hatinya ada ketaatan untuk melaksanakan perintahnya dan menjauhi larangannya.

Hamba yang beriman akan selalu berupaya dengan sekuat tenaga dan fikiran untuk tetap melaksanakan rambu-rambu yang telah diperintahkan, jangankan dalam kedaan sehat bahkan ketika dalam keadaan payahpun ia akan tetap berusaha melaksanakannya.

Berbeda dengan kondisi hamba yang tidak puasa, bukan persoalan ia mampu atau tidak akan tetapi lagi-lagi persoalan iman, jangankan dalam keadaan tidak sehat dalam keadaan sehatpun ia tidak akan mampu untuk berpuasa disebabkan tipisnya iman.

Hari raya Iedul Fitri Tahun 2020 M/1441 H ini nampaknya agak berbeda dibanding dengan hari raya di tahun-tahun sebelumnya, mengingat hari raya tahun ini berbarengan dengan adanya musibah pandemi Covid-19.

Pemerintah menghimbau agar berbagai pelaksanaan ritual hari raya seperti, shalat ied, silaturahim, takbir keliling dan kegiatan-kegiatan yang sifatnya berkerumun agar tidak dilaksanakan terlebih dulu akan tetapi kegiatan tersebut bisa dilaksanakan atau dialihkan di rumahnya masing-masing demi menjaga kesehatan dan keselamatan bersama.

Hakikat Hari Raya Iedul Fitri

Beruntunglah mereka yang dengan kesungguhan hati melaksanakan puasa sebulan penuh di bulan Ramadhan. Hakikat hari raya Iedul Fitri adalah perayaan bagi hamba yang beriman atas kemenangan dalam jihad melawan hawa nafsu di medan jihad Ramadhan.

Setelah menundukkan nafsu, seseorang bisa dikatakan kembali fitrah (Iedul fitri) karena memang asal kejadian manusia dilahirkan dalam keadaan fitrah (suci). Sebagaimana Nabi bersabda,

 مَا مِنْ مَوْلِدٍ اِلَّا يُوْلَدُ عَلَى الْفِتْرَةِ فَاَبَوَاهُ يُهَوِّدَانِهِ اَوْ يُنَصِّرَانِهِ اَوْ يُمَجِّسَانِهِ

“Tidak ada seorang manusia yang terlahir kecuali dia terlahir atas fitrah (kesucian seperti tabula rasa, kertas yang belum ditulis apapun, masih putih). Maka kedua orang tuanyalah yang membuatnya menjadi yahudi, nasrani, ataupun majusi”.

Setiap manusia memang dilahirkan dalam keadaan suci tiada berdosa akan tetapi setelah ia baligh (dewasa) ia akan terkena hukum taklif. Yang di dalam proses pelaksanannya mustahil akan bisa melaksanaakan ketaatan secara sempurna dan lepas dari perbuatan maksiat atau melanggar terhadap sesama.

Oleh karenanya proses ketaatan dalam bentuk puasa di bulan Ramadhan akan menjadikan kedaan seorang hamba bersih, suci kembali karena keutaman bulan Ramadhan tersebut. Nabi telah bersabda sesuai janjinya,

مَنْ صَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

“Barangsiapa berpuasa Ramadhan atas dasar iman dan mengharap pahala dari Allah, maka dosanya yang telah lalu akan diampuni.”

Jikalau seseorang mendasari puasanya karena dasar iman, mengharap pahala dan ridha, maka tentu hatinya semakin tenang, lapang dan bahagia.

Ia pun akan bersyukur atas nikmat puasa Ramadhan yang ia dapati. Hatinya tentu tidak merasa berat dan susah ketika menjalani puasa. Sehingga ia pun terlihat berhati ceria dan berakhlak yang baik dan mendapatkan titel muttaqin, mendapatkan surga (keridhaan) yang didambakan oleh semua orang yang beriman.

Momen Saling Memaafkan

Beruntung sekali orang yang masih bertemu dengan bulan Ramadhan lalu mendapatkan hari raya Iedul Fitri. Semuanya merayakan dengan mengadakan halal bi halal (saling menghalalkan/memaafkan).

Mereka berbondong-bondong dengan sanak famili tercinta dengan masing-masing mengucapkan minal ‘aidin wal faizin mohon maaf lahir dan bathin karena masing-masing menyadari bahwa siapapun yang disebut manusia, tidak mengenal apakah ia bergelar Profesor Doktor, haji, kiai/ajengan, ustadz, dan lain sebagainya pasti menyandang gelar manusia berlumur dosa.

Jika difikir-fikir seharusnya momen halal bi halal tidak musti dilakukan ngepasi hari raya Iedul Fitri saja, bisa dilakukan kapanpun dan dimanapun berada akan tetapi jika melihat watak manusia atau bangsa Indonesia sendiri masih sulit mengaku salah dan sulit memaafkan.

Perlu ada timing yang pas untuk saling memaafkan kesalahan, sehingga hari raya lebaran atau Iedul Fitri adalah momen yang dianggap tepat untuk melapangkan dada masing-masing karena telah usai melaksanakan puasa sebulan penuh yang dianggap sebagai bulan tarbiyyah, bulan mengekang hawa nafsu.

Nah kesempatan tersebut tentunya jangan sampai terlewatkan apalagi diabaikan untuk saling meminta dan memberi maaf, saling menghalalkan atas kesembronoan yang diakibatkan dalam pergaulan hidup dengan sesama hamba Allah.

Sehingga dengan momen hari raya Iedul Fitri ini kita semua dosa-dosanya diampuni Allah Swt dan diri kita sudah bersih, suci sebagaimana waktu lahir. Selamat hari raya Iedul Fitri 2020 M/1441H, insyaAllah kita dipertemukan kembali di tahun-tahun berikutnya.

Siapakah Orang Yang Merugi?

Ketika orang-orang berlomba ingin mendapatkan pahala dan ampunan bulan Ramadhan, akan tetapi ada sebagian orang yang tidak memanfaatkan rahmat Allah yang diobral, dilipatgandakan pahala kebaikan, dibelenggu syetan, dibuka pintu-pintu surga selebar-lebarnya, dan ditutup pintu-pintu neraka sehingga mereka disebut orang yang merugi.

Mereka sesungguhnya terjebak dalam kerugian, karena belum tentu mereka akan berjumpa dan mendapatkan kembali Ramadhan di tahun selanjutnya atau boleh jadi ini adalah Ramadhan terakhir.

Ada tiga doa Malaikat Jibril yang diaminkan Rasulullah. Malaikat Jibril pernah berdoa bahwa suatu ketika Nabi naik mimbar sewaktu sampai di tangga pertama, kedua, dan ketiga Nabi mengucapkan Aamiin. Lantas ada sahabat bertanya, gerangan apa yang membuat engkau menjawab Aamiin ya Rasulullah? Nabi menjawab, ketika Aku menaiki tangga pertama, Jibril datang kepadaku seraya berdoa; celakalah seorang hamba yang mendapat bulan Ramadhan, namun dosanya tidak diampuni, maka aku pun menjawab Aamiin.

Kemudian Jibril berdoa lagi; celakalah seorang hamba, jika mendapati kedua atau salah satu orang tuanya masih hidup namun keberadaanya tidak membuatnya masuk surga. Aku pun menjawab Aamiin. Kemudian Jibril berdoa lagi; celakalah seorang hamba jika namamu disebutkan dihadapannya tapi ia tidak bersholawat untukmu, maka Nabi pun menjawab Aamiin.

Demikian sekelumit tentang kabar gembira bagi hamba yang senantiasa memaksimalkan momentum Ramadhan dengan mendapatkan keutamaan-keutamaan di dalamnya. Mudah-mudahan kita semua tergolong hamba yang mendapatkan kemenangan (fitri).

Abdul Aziz (PKU-MUI Pascasarjana UIN Jakarta)

Leave A Reply

Your email address will not be published.