Kapan Sebetulnya Pendidikan Itu Dimulai?

Jika kita telusuri kapan sebetulnya pendidikan itu dimulai. Maka kita bisa menemukan dalam Al Qur’an bahwa pendidikan itu sudah Allah berikan kepada setiap manusia sejak di alam ruh.

Saat itu manusia yakni anak cucu keturunan Adam memberikan kesaksian dan berikrar bahwa hanya Allah lah Tuhan yang Maha Pencipta, Penguasa alam raya, Pendidik semesta. Dengan kalimat alastu birabbikum (bukankah Aku Tuhan-mu) dengan kata Rabb yang mengisyaratkan ada peran pendidikan.

وَإِذۡ أَخَذَ رَبُّكَ مِنۢ بَنِيٓ ءَادَمَ مِن ظُهُورِهِمۡ ذُرِّيَّتَهُمۡ وَأَشۡهَدَهُمۡ عَلَىٰٓ أَنفُسِهِمۡ أَلَسۡتُ بِرَبِّكُمۡۖ قَالُواْ بَلَىٰ شَهِدۡنَآۚ أَن تَقُولُواْ يَوۡمَ ٱلۡقِيَٰمَةِ إِنَّا كُنَّا عَنۡ هَٰذَا غَٰفِلِينَ

Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu mengeluarkan dari sulbi (tulang belakang) anak cucu Adam keturunan mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap roh mereka (seraya berfirman), “Bukankah Aku ini Tuhanmu?” Mereka menjawab, “Betul (Engkau Tuhan kami), kami bersaksi.” (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari Kiamat kamu tidak mengatakan, “Sesungguhnya ketika itu kami lengah terhadap ini.” (QS. Al-A’raf: 172).

Karenanya setiap manusia sejak awal ketika dilahirkan dari rahim ibunya, ia dalam keadaan fitrah. Fitrah dalam arti mengakui keesaan Allah dan kekuasaan-Nya.

كُلُّ مَوْلُودٍ يُولَدُ عَلَى الْفِطْرَةِ فَأَبَوَاهُ يُهَوِّدَانِهِ أَوْ يُنَصِّرَانِهِ أَوْ يُمَجِّسَانِهِ

Setiap anak (Bani Adam) dilahirkan dalam keadaan fitrah, kemudian kedua orang tuanya lah yang menjadikannya Yahudi, atau Nasrani atau Majusi (HR. Bukhari).

Fitrah juga dalam pendapat yang paling masyhur dalam Fathul Bari’ Syarah Shahih Bukhari ialah Islam. Yang juga selaras dengan ayat berikut:

فَأَقِمۡ وَجۡهَكَ لِلدِّينِ حَنِيفٗاۚ فِطۡرَتَ ٱللَّهِ ٱلَّتِي فَطَرَ ٱلنَّاسَ عَلَيۡهَاۚ لَا تَبۡدِيلَ لِخَلۡقِ ٱللَّهِۚ ذَٰلِكَ ٱلدِّينُ ٱلۡقَيِّمُ وَلَٰكِنَّ أَكۡثَرَ ٱلنَّاسِ لَا يَعۡلَمُونَ

Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama (Islam); (sesuai) fitrah Allah disebabkan Dia telah menciptakan manusia menurut (fitrah) itu. Tidak ada perubahan pada ciptaan Allah. (Itulah) agama yang lurus, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui, (QS. Ar-Rum: 30).

Pendidikan Dimulai Ketika Memilih Pasangan

Maka untuk menjaga fitrah manusia ini, Nabi mengingatkan bahwa perempuan itu dinikahi karena 4 hal yang salah satunya ialah faktor agama.

تُنْكَحُ الْمَرْأَةُ لِأَرْبَعٍ : لِمَالِهَا، وَلِحَسَبِهَا، وَجَمَالِهَا، وَلِدِينِهَا، فَاظْفَرْ بِذَاتِ الدِّينِ تَرِبَتْ يَدَاكَ

Dinikahi perempuan itu karena 4 hal, karena hartanya, karena perbuatan baiknya dan bapak serta kerabatnya (track record dan nasabnya), karena kecantikannya, dan karena agamanya. Maka menangkanlah yang memiliki agama (jika tidak) tanganmu penuh debu (fakir). (HR. Bukhari & Muslim).

Imam Nawawi dalam Syarah Shahih Muslim Al Minhaj menjelaskan bahwa hadis ini menganjurkan agar senantiasa bergaul dan dekat dengan orang yang agamanya baik (ahluddin) dalam segala sesuatu.

Karena bergaul (mushahabah) dengannya akan bisa diperoleh manfaat dan faedah. Baik itu dari akhlaknya, keberkahannya, dan kebaikan jalan hidupnya serta aman karena terlindungi dari mafsadatnya. Sedangkan salah satu mafsadat terbesar itu ialah menyekutukan Allah Swt.

Dengan begitu, artinya proses pendidikan sudah berlangsung sejak calon suami memilih calon istri. Perempuan yang dipilihnya ini akan menjadi ibu dari anak-anaknya kelak yang akan melakukan peran penting dan utama bagi anak.

Foto: Pixabay.

Yakni mendampingi, memelihara, menumbuhkan, mengembangkan, merawat, mengajari, meneladankan sebagai proses tumbuh kembang anak. Dengan kata lain ibu akan melakukan proses pendidikan bagi anak. Namun yang utama ialah menjaga kefitrahan anak. Itu sebabnya ibu dijuluki sebagai madrasah pertama bagi sang buah hati.

Pendidikan untuk menjaga fitrah anak ini bukan hanya tugas ibu. Demikian juga sebaliknya ayah juga berkewajiban memenuhi kebutuhan lahiriyah dan batiniyah anak. Keduanya bekerjasama dan berbagi peran serta berkomitmen dalam mendidik dan mengasuh anak.

Sebagaimana dilukiskan Al Qur’an ketika Ayah Lukman mendidik dengan memberi pesan utama kepada anaknya. Jangan pernah menyekutukan Allah, karena itu bertentangan dengan fitrahnya.

وَإِذۡ قَالَ لُقۡمَٰنُ لِٱبۡنِهِۦ وَهُوَ يَعِظُهُۥ يَٰبُنَيَّ لَا تُشۡرِكۡ بِٱللَّهِۖ إِنَّ ٱلشِّرۡكَ لَظُلۡمٌ عَظِيمٞ

Dan (ingatlah) ketika Lukman berkata kepada anaknya, ketika dia memberi pelajaran kepadanya, ”Wahai anakku! Janganlah engkau mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezhaliman yang besar.” (QS. Luqman 13).

Doa Juga Bagian Dari Proses Pendidikan

Bukan hanya itu, proses pendidikan juga sudah berlangsung jauh-jauh hari melalui ikhtiar batin sebagaimana dicontohkan oleh Nabi Ibrahim. Ketika itu beliau berdoa untuk anak dan cucu keturunannya agar terpelihara fitrahnya tidak menyembah berhala.

وَإِذۡ قَالَ إِبۡرَٰهِيمُ رَبِّ ٱجۡعَلۡ هَٰذَا ٱلۡبَلَدَ ءَامِنٗا وَٱجۡنُبۡنِي وَبَنِيَّ أَن نَّعۡبُدَ ٱلۡأَصۡنَامَ

Dan (ingatlah), ketika Ibrahim berdoa, “Ya Tuhan, jadikanlah negeri ini (Mekah), negeri yang aman, dan jauhkanlah aku beserta anak cucuku agar tidak menyembah berhala. (QS. Ibrahim: 35).

Dalam tafsir Ibnu Katsir disebutkan bahwa berdoa yang merupakan proses ikhtiar dalam mendidik ini seyogyanya ditujukan untuk diri sendiri, kemudian orang tua lalu anak cucu keturunan.

Lalu akhirnya doa Nabi Ibrahim ini terkabul sehingga terucap darinya sebagaimana diabadikan dalam Al Qur’an.

ٱلۡحَمۡدُ لِلَّهِ ٱلَّذِي وَهَبَ لِي عَلَى ٱلۡكِبَرِ إِسۡمَٰعِيلَ وَإِسۡحَٰقَۚ إِنَّ رَبِّي لَسَمِيعُ ٱلدُّعَآءِ

Segala puji bagi Allah yang telah menganugerahkan kepadaku di hari tua(ku) Ismail dan Ishak. Sungguh, Tuhanku benar-benar Maha Mendengar (memperkenankan) doa. (QS. Ibrahim: 39).

Ini artinya pertama, berdoa jadi bagian dari proses pendidikan. Kedua, semua pihak mesti terlibat dalam proses pendidikan sehingga disebutkan dalam ikhtiar batin seperti doa yang dicontohkan Nabi Ibrahim. Ketiga, ketika pendidikan (setelah proses panjang) itu berhasil menghasilkan keturunan yang baik dan shalih mesti kita bersyukur kepada Allah karena beliau sejatinya yang Maha Mendidik.

Foto: Ali Arapoglu.

Dari sini bisa dipahami juga bahwa proses pendidikan tidak boleh melepaskan diri dari Allah Swt. Selalu terhubung dan terkoneksi dengan-Nya. Sehingga fitrah manusia tetap terjaga dan perintah Allah agar kita tidak mati kecuali dalam keadaan Islam bisa dilaksanakan. Inilah puncak dari pendidikan Islam.

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ ٱتَّقُواْ ٱللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِۦ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنتُم مُّسۡلِمُونَ

Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya dan janganlah kamu mati kecuali dalam keadaan Muslim. (QS. Ali ‘Imran: 102).

Penulis: Saepuloh
Pemerhati Pendidikan Islam

Leave A Reply

Your email address will not be published.