Kartini, Kepekaan dan Keberpihakan

Terlahir sebagai anak bangsawan, putri Bupati Jepara dengan budaya patriarki tidak menjadi penghalang bagi Kartini berbuat untuk kemanusiaan.

Saat itu perempuan harus tinggal di rumah, tidak memiliki kebebebasan untuk mengenyam pendidikan tinggi. Pekerjaan dan aktivitas di luar (publik) hanyalah hak dan milik laki-laki. Perempuan hanya mengurus wilayah domestik.

Sementara itu kekuasaan penjajah semakin menyengsarakan rakyat.

Apa sebenarnya yang disuarakan Kartini?

Kartini melawan kesepian karena pingitan dan arus kekuasaan besar penjajah dari balik dinding Kerajaan Jepara yang telah ‘menyekapnya’ bertahun-tahun. Keprihatinan atas kondisi yang terjadi dituangkannya dengan menulis. Kegelisahannya dia kisahkan dalam surat-surat yang dikirim ke sahabatnya, Stella.

Dalam sangkar emas kerajaan, Kartini berjuang melawan budaya ‘domestifikasi’ atau rumahan bagi perempuan.

Dalam buku Panggil Aku Kartini saja Pramudya Ananta Toer Berkata; “Kartini tidak punya massa, apalagi uang. Uang tidak akrab dengan perempuan seperti Kartini, yang dipunyai kartini adalah kepekaan dan keprihatinan”.

Kartini memulai segala sesuatunya dari kepekaan dan keprihatinannya terhadap nasib rakyat Jepara khususnya perempuan.

Perempuan hanya dijadikan objek reproduksi dan eksploitasi. Hanya di rumah atau di dalam kerajaan bak sebagai selir, melengkapi penderitaan. Belum ada keberpihakan pada kesetaraan dan kemanusiaan.

Perjuangan Kartini dan Covid-19

Menanggulangi Pandemi Covid-19 perlu didasari dari kepekaan dan keberpihakan seperti spirit perjuangan Kartini pada masanya.

Meskipun pemerintah dengan kekuasaan, kebijakan dan anggarannya memiliki daya ungkit yang signifikan, kita jangan hanya menunggu. Kita bisa melakukan banyak hal untuk membantu masyarakat yang terdampak Covid-19.

Sebarkan pesan kebaikan, penyemangat dan optimisme menjalani kehidupan. Kartini dengan penanya, kita bisa dengan “jempol”. Ikuti anjuran pemerintah untuk menjalankan protokol kesehatan. Menggalang kebersamaan untuk meringankan saudara saudara kita yang kehilangan mata pencaharian.

Dengarkan suara ‘hati’, buka ruang kepekaan dan keberpihakan bagi mereka yang terlemahkan.

Kita sejatinya peka, tergerak dengan semangat gotong royong. Keberpihakan hadir dengan melakukan aksi-aksi nyata untuk membantu meringankan beban saudara-saudara kita yang terdampak covid 19. Bisa kita mulai dari orang-orang disekitar kita.

Tanpa kepekaan dan keberpihakan akan sulit bersatu dan berjuang menghadapi pandemi ini. Tanpa keberpihakan akan lahir individu-individu culas, memanfaatkan situasi sulit masyarakat dengan memperkaya dan mencari untung sendiri.

Ingat, Kartini adalah Anak Raja, besar dan tumbuh di area kekuasaan yang sangat feodal. Dengan kepekaan dan keberpihakan Kartini keluar dari zona nyaman, berjuang dengan keberpihakan pada kaum tertindas.

(Dr. Ulfah Mawardi, M.Pd, Staf Khusus Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Anak, Wakil Sekretaris Komisi Pendidikan dan Kaderisasi MUI Pusat)

Leave A Reply

Your email address will not be published.