Keadilan dan Kemaslahatan Umat

Islam adalah agama yang berwatak keadilan, mewujudkan kemaslahatan melalui keadilan. Kemaslahatan bisa terwujud dengan prinsip-prinsip keadilan, karena keadilan adalah kebutuhan semua makhluk hidup tanpa terkecuali.

Ibnu Taimiyah menjelaskan pentingnya prinsip-prinsip menjalankan suatu proses dengan Ihdinash-shirraatal musthaqiim, yaitu Shiraathal ladziina an’amta ‘alaihim ghairil maghduubi ‘alaihim waladh-dhaalliin.

Tatkala seseorang ingin berada dalam prinsip keadilan harus melalui jalan yang lurus, yaitu jalan yang diberi nikmat oleh Allah Swt bukan yang dimurkai.

Seorang ulama At Thabari menjelaskan yang dimaksud dengan ummatan wasathan adalah umat yg mampu menegakkan keadilam dalam situasi dan kondisi apa pun.

Para ulama sepakat, orang-orang yang ingin menegakkan keadilan harus melalui proses Amar ma’ruf nahi munkar. Bukan sebaliknya Amar munkar nahi ma’ruf.

كُنْتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَتُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ

“Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah…” (QS. Ali Imran: 110).

Keadilan adalah menempatkan sesuatu pada tempatnya. Manusia hidup dengan kebutuhan jasmani dan ruhani, maka keseimbangan memenuhi keduanya adalah bagian dari prinsip keadilan, keseimbangan dan kesetaraan.

Prinsip keseimbangan, mengajak manusia tidak berlebihan. Misal berlebihan memenuhi kebutuhan jasmani seperi makan minum. Kalo tiap hari makan, hidupnya untuk makan, seperti hewan. Manusia sebaliknya makan untuk sekedar memenuhi kebutuhan hidupnya.

لَقَدْ خَلَقْنَا الْاِنْسَانَ فِيْٓ اَحْسَنِ تَقْوِيْمٍ

“Sungguh, Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya.” (QS. At-Tin: 4).

Manusia diciptakan dalam bentuk sebaik-baiknya untuk melakukan Amar ma’ruf nahi munkar.

Menjadi pertanyaan, apakah manusia mampu berbuat adil untuk dirinya, keluarga serta dalam konteks kemasyarakatan dan kebangsaan?

وَكَذَٰلِكَ جَعَلْنَاكُمْ أُمَّةً وَسَطًا لِّتَكُونُوا شُهَدَاءَ عَلَى النَّاسِ وَيَكُونَ الرَّسُولُ عَلَيْكُمْ شَهِيدًا

“Dan demikian (pula) Kami telah menjadikan kamu (umat Islam), umat yang adil dan pilihan agar kamu menjadi saksi atas (perbuatan) manusia dan agar Rasul (Muhammad) menjadi saksi atas (perbuatan) kamu…” (QS. Al Baqarah: 143).

Apakah kita mampu menjadi saksi di tengah-tengah kehidupan manusia untuk menegakkan keadilan? Menjadi pejuang atau pecundang?

Orang yang tidak memiliki prinsip-prinsip dalam menegakkan keadilah tidak bisa mengetahui beda pejuang dan pecundang. Bagi mereka keduanya sama saja.

Orang yang masuk kategori pejuang adalah orang yang menjadi saksi untuk menegakkan keadilan, menjadi wasit karena dia tidak berada pada kutub yang ekstrim baik kiri maupun kanan. Itu yang disebut dengan ghuluw (berlebihan atau melampaui batas). Contohnya dalam melaksanakan ibadah tidak boleh berlebihan.

Suatu ketika ada seorang sahabat yang setiap hari kerjanya hanya sibuk beribadah. Mulai dari pagi, siang, malam, semua waktunya untuk berdzikir. Rasulullah meminta sahabat itu untuk pulang mencari nafkah untuk anak istrinya.

Artinya setiap hari kita tidak boleh berlebihan menghabiskan waktu untuk dzikir saja. Karena antara pola dzikir dan pikir telah diberikan keseimbangan oleh Allah Swt.

إِنَّ فِى خَلْقِ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلْأَرْضِ وَٱخْتِلَٰفِ ٱلَّيْلِ وَٱلنَّهَارِ لَءَايَٰتٍ لِّأُو۟لِى ٱلْأَلْبَٰبِ

“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal,” (QS. Ali Imran: 190).

ٱلَّذِينَ يَذْكُرُونَ ٱللَّهَ قِيَٰمًا وَقُعُودًا وَعَلَىٰ جُنُوبِهِمْ وَيَتَفَكَّرُونَ فِى خَلْقِ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلْأَرْضِ رَبَّنَا مَا خَلَقْتَ هَٰذَا بَٰطِلًا سُبْحَٰنَكَ فَقِنَا عَذَابَ ٱلنَّارِ

“(yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): ‘Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka’.” (QS. Ali Imran: 191).

Salah satu ciri Ulul Albab adalah orang-orang yang berdzikir sekaligus berpikir untuk kemaslahatan umat. Manusia mempunyai keterbatasan untuk berpikir. Jika dipaksakan untuk terus berpikir setiap hari dan yang dipikirkan di luar jangkauannya, akan mengakibatkan stress. Karena itu perlu berdzikir, menyerahkan kepada Allah Swt.

Begitu juga dengan keadilan. Jika keadilan belum bisa kita tegakkan 100% upaya-upaya untuk menegakkannya tetap harus jalan terus sambil menyerahkan hasilnya kepada Allah Swt.

Lawan dari keadilan adalah zhalim. Orang-orang yang zhalim hidupnya tidak tenang dan nyaman. Tegakkan keadilan sesuai dengan kemampuan dan kesanggupan kita dan serahkan kepada Allah Swt. Itulah yang membuat happy.

Mari berusaha menegakkan keadilan sekuat tenaga dan kemampuan kita. Jangan pernah menyerah, putus asa dan berpikir keadilan tidak mungkin bisa ditegakkan. Semua sangat mungkin tergantung ikhtiar, doa dan tentunya semua atas atas izin-Nya.

Semoga Allah Swt memberi kekuatan kepada kita semua untuk menegakkan keadilan. Aamiin

Dikutip dari khutbah Dr. Amirsyah Tambunan Wasekjend MUI Bidang PK di Youtube TVMU Channel.

Leave A Reply

Your email address will not be published.