Keangkuhan Spiritual dan Penyucian Jiwa

Menjalankan aktivitas ibadah ialah dalam rangka mendekatkan diri pada Allah Swt. Mendekatkan diri biasa diistilahkan dengan taqarrub ila Allah. Istilah ini diambil dari hadis qudsi.

إِذَا تَقَرَّبَ الْعَبْدُ إِلَيَّ شِبْرًا، تَقَرَّبْتُ إِلَيْهِ ذِرَاعًا، وَإِذَا تَقَرَّبَ مِنِّي ذِرَاعًا، تَقَرَّبْتُ مِنْهُ بَاعًا، وَإِذَا أَتَانِي مَشْيًا، أَتَيْتُهُ هَرْوَلَةً “.

“Jika dia berusaha mendekat pada-Ku sejengkal, maka aku mendekat padanya sehasta. Jika dia berusaha mendekat pada-Ku sehasta, maka aku mendekat padanya sedepa. Jika dia mendatangi-Ku dalam keadaan berjalan, Ku mendatangi dengan berlari.” (HR. Imam Bukhari).

Kendati demikian bahwa ada orang-orang mendekatkan diri pada Allah, tetapi sesungguhnya mereka didekatkan oleh Allah Swt. Jadi meskipun berusaha untuk mendekat pada-Nya. Namun perlu digarisbawahi bahwa semua upaya itu adalah atas izin, hidayah, bimbingan, pertolongan serta anugerahnya.

فَأَمَّآ إِن كَانَ مِنَ ٱلۡمُقَرَّبِينَ فَرَوۡحٞ وَرَيۡحَانٞ وَجَنَّتُ نَعِيمٖ

Jika dia itu termasuk yang didekatkan (kepada Allah), maka dia memperoleh ketenteraman dan rezeki serta surga (yang penuh) kenikmatan. (QS. Al-Waqi’ah, Ayat 88-89).

Oleh karenanya tidak boleh terbersit sedikitpun di dalam qalbu kesombongan dan keangkuhan untuk dekat dengan-Nya. Misalnya dengan mengandalkan amal ibadah yang dilakukan lalu merasa lebih mulia atau merasa suci.

فَلَا تُزَكُّوٓاْ أَنفُسَكُمۡۖ هُوَ أَعۡلَمُ بِمَنِ ٱتَّقَىٰٓ

Maka janganlah kamu menganggap dirimu suci. Dia mengetahui tentang orang yang bertakwa. (QS. An-Najm, Ayat 32).

Sehingga tidak boleh dalam mendekatkan diri pada-Nya ada sedikit pun kesombongan. Jangan ada keangkuhan spiritual dalam diri manusia. Misalnya lebih sibuk menilai amal ibadah orang lain dan mencercanya. Karena setiap kesombongan akan semakin menjauhkan kita dari surga-Nya.

لَا يَدْخُلُ الْجَنَّةَ مَنْ كَانَ فِي قَلْبِهِ مِثْقَالُ ذَرَّةٍ مِنْ كِبْرٍ

Tidak masuk surga orang yang di dalam qalbunya ada kesombongan walau seberat dzarrah (HR. Imam Muslim).

Justru mendekatkan diri pada Allah harus senantiasa diawali dan diiringi dengan penyucian diri dan pembersihan jiwa. Baik itu dari aneka dosa, kemaksiatan, kotoran dan penyakit di dalam qalbu. Karena sejatinya dekat dengan Allah bukan dekat dalam arti fisik, tapi dekat secara ruhani dan pusatnya ruhani ada di qalbu.

قَدۡ أَفۡلَحَ مَن تَزَكَّىٰ
وَذَكَرَ ٱسۡمَ رَبِّهِۦ فَصَلَّىٰ

Sungguh beruntung orang yang menyucikan diri (dengan beriman), dan mengingat nama Tuhannya, lalu dia shalat (QS. Al-A’la, Ayat 14-15).

Ayat tersebut mengisyaratkan bahwa akan beruntung dia yang berupaya melakukan tazkiyatun nafs atau membersihkan dan menyucikan jiwa dari aneka kejelekan. Kemudian menyebut nama Rabb-nya (dzikrullah) dengan qalbu dan lisannya. Lalu dia mendirikan shalat yang telah diwajibkan padanya.

Saepuloh
Pemerhati Pendidikan Islam

Leave A Reply

Your email address will not be published.