Keharmonisan dan Ayat Pendidikan Paling Dasar

Seorang muslim sejatinya bukan hanya mengembangkan hubungan yang harmonis dengan sesama manusia tapi juga kepada makhluk lainnya.

Dalam Islam, orang baik itu bukan hanya yang baik hubungannya dengan Allah dan manusia. Tapi juga ia yang berhubungan baik dengan benda atau lingkungan di sekitarnya, bahkan alam raya seluruhnya. Singkatnya dengan seluruh makhluk Allah Swt.

Namun, sekian banyak orang menjalani proses pendidikan hingga jenjang teratas dalam strata pendidikan, namun sikap dan tindakannya justru merusak keharmonisan. Entah itu dalam rumah tangga, di lingkungan sosial dan masyarakat, sebagai warga negara maupun pemeluk agama dan lain sebagainya.

Misalnya, ketidakselarasan ucapan dengan perbuatan, pengkhianatan amanah, penyelewengan janji, ketidakpedulian sosial, kelalaian tugas dan peran, kerusakan alam, hingga kedzaliman yang menyebabkan kerugian adalah sikap-sikap yang merusak keharmonisan.

Apa yang ditemui, apa yang dipakai, apa yang diamanahkan mesti diperlakukan sesuai tujuan penciptaannya. Karena menggunakan, mempergunakan atau memperlakukan sesuatu sesuai dengan tujuan untuk apa ia diciptakan atau dibuat ialah bukti kesyukuran kepada Yang Maha Kuasa.

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ كُلُواْ مِن طَيِّبَٰتِ مَا رَزَقۡنَٰكُمۡ وَٱشۡكُرُواْ لِلَّهِ إِن كُنتُمۡ إِيَّاهُ تَعۡبُدُونَ

Wahai orang-orang yang beriman! Makanlah dari rezeki yang baik yang Kami berikan kepada kamu dan bersyukurlah kepada Allah, jika kamu hanya menyembah kepada-Nya.
(QS. Al-Baqarah: 172).

Modal Penting Pendidikan

Syukur adalah modal penting dalam pendidikan di tingkat manapun. Baik pendidikan di rumah, di sekolah, di kampus dan perguruan tinggi dan lainnya.

Tanpa bersyukur dalam arti mendayagunakan apapun sesuai tujuan penciptaannya. Maka semua perangkat, instrumen, kurikulum, muatan, metode, fasilitas, pelaku, serta kebijakan pendidikan yang diterapkan tidak akan berdampak pada pembentukan manusia seutuhnya yang harmonis kepada sesama manusia dan alam lingkungannya.

ٱلۡحَمۡدُ لِلَّهِ رَبِّ ٱلۡعَٰلَمِينَ

Segala puji bagi Allah, Tuhan seluruh alam, (QS. Al-Fatihah: 2).

Ayat ini merupakan ayat yang paling mendasar dalam dunia pendidikan. Bahwa sejak awal sudah kita sadari bahwa Allah-lah tujuan pendidikan. Segala pujian, penghargaan dan aneka atribut kebanggaan ialah dalam rangka mempersembahkan yang terbaik untuk-Nya.

Beliau sempurna dalam sifat dan perbuatan-Nya yang hakikatnya layak mendapatkan pujian. Tiada pujian baik itu dalam lisan maupun yang terlintas dalam qalbu melainkan hanya berhak disandang-Nya.

Tidak boleh ada dalam dunia pendidikan kesombongan intelektual dan keangkuhan spiritual. Allah berikan semua makhluk dengan segala potensinya untuk disyukuri sebaik-baiknya. Bukan untuk merasa unggul dan saling merendahkan, bukan juga untuk mengeksploitasi satu sama lain atau mendzalimi makhluk ciptaan-Nya demi kepentingan pribadi dan kelompoknya.

Meneladani Allah dalam Mendidik

Allah yang Maha Sempurna. Beliau lah yang memberikan aneka kenikmatan lahir maupun batin. Pencipta alam raya sekaligus yang men’tarbiyah’nya. Dalam tafsir As Sa’di disebutkan ada dua bentuk tarbiyah Allah kepada makhluk ciptaan-Nya.

Pertama tarbiyah secara umum Allah menciptakan seluruh makhluk-Nya kemudian Allah menganugrahi mereka rezeki. Allah juga menunjukkan jalan dan memberikan petunjuk apa yang terbaik bagi kemaslahatan makhluk-makhluk-Nya.

Kedua, tarbiyah secara khusus untuk para Aulia Allah. Allah memelihara mereka dengan iman, memberikan taufik-Nya untuk kebaikan dan menjaga mereka dari keburukan. Inilah rahasianya lafadz ‘Rabb’ paling sering digunakan oleh para nabi dalam berdoa.

Tarbiyah atau biasa diartikan pendidikan punya ragam arti. Mulai dari merawat, membina, memelihara, membesarkan, mengawasi, budi daya, budaya, melakukan perbaikan, memoles dan mengajar.

Pendidikan adalah dalam rangka meneladani Allah Swt, menuntut para murid di jalan Allah serta mengabdi pada-Nya dengan nilai dan tuntutan yang diteladankan dan diajarkan utusan-Nya.

“dan sungguh aku diutus sebagai seorang pendidik” (HR. Ibnu Majah).

Sehingga seluruh pelaku pendidikan ialah pelanjut misi kenabian untuk mendidik manusia terus menerus menyempurnakan akhlaknya. Bermanfaat bagi sesama, memberikan kontribusi positif dan berkolaborasi untuk mengoptimalkan potensi dan daya yang Allah anugerahkan dalam rangka bersyukur pada-Nya.

Segala proses pendidikan mesti berorientasi  untuk menjadikan hamba Allah yang pandai bersyukur kepada Allah, kepada manusia dan juga kepada alam raya. Dengan begitu kehidupan akan kian harmonis dalam kasih sayang, Rahmat dan kelembutan-Nya.

Penulis: Saepuloh
Pemerhati Pendidikan Islam

Leave A Reply

Your email address will not be published.