Kiai Sodikun: Seni Budaya Islam Itu Sangat Fundamental

Seni budaya Islam adalah topik yang asasi dan fundamental. Demikian ungkap Dr. KH. Sodikun, M.Si, saat menjadi narasumber di hari terakhir Pesantren Ramadhan yang diadakan MUI Komisi Pendidikan dan Kaderisasi melalui video conference, Kamis lalu (07/05/2020).

Kiai Sodikun beralasan karena seni budaya terkait dengan makhluk yang mulia yaitu manusia. Di mana ada seni budaya pasti di situ ada kehadiran manusia. Secara kajian historis, berseni budaya itu seiring dan sejalan dengan perkembangan manusia. Jadi manusia dan seni budaya tak terpisahkan.

Sebagai manusia, kita mesti bersyukur karena menjadi hamba Allah dalam kesempurnaan wujudnya, ada akal, ada qalbu dan ada rasa.

Corak dan Konten Seni Budaya

Corak dan konten suatu budaya itu, menurut Kiai Sodikun, dipengaruhi atau diwarnai oleh:
isi dari manusia itu sendiri. Yakni yang ada di qalbunya, yang ada di akalnya dan yang ada di rasanya.

“Ketiga hal inilah yang akan memberikan corak pada konten seni dan budaya. Adanya warna warni atau pelangi dalam seni dan budaya itu sebab perbedaan pada isi yang ada pada manusia itu sendiri yakni perbedaan akal qalbu dan rasanya,” ungkapnya.

Selanjutnya, kualitas dan kemampuan manusia itu akan memberikan warna khusus kepada seni dan budaya. Maka dalam Islam seni dan budaya itu mesti dikembangkan dengan mengedepankan ulul albabnya. Yaitu akal pikiran yang dimiliki oleh orang-orang yang beriman.

Mengapa konteks yang beriman?. Karena seni budaya Islam itu tidak bisa lepas dari iman. Bahkan iman lah yang menafasi, yang menuansai, yang memformat, yang mendesain seni budaya Islam.

Prinsip dan Tujuan Dalam Seni dan Budaya

Namun, Kiai Sodikun menyayangkan bahwa kita belum memiliki format atau desain seni budaya Islam yang baku. Format seni budaya yang dibangun dalam perspektif atau paradigma Islam.

Oleh karena itu, menjadi tugas dan tanggung jawab kita bagaimana kita mendesain, memformat dan memproduksi seni budaya Islam yang memberikan makna. Seni budaya yang sifatnya universal, karena sering kali seni budaya lintas peradaban yang bisa kita tangkap makna-maknanya.

“Salah satu yang menjadi prinsip dalam seni budaya Islam dan akan menjadi karakteristiknya adalah ketauhidan, keyakinan, kepercayaan, keimanan kepada Sang Pencipta Allah subhanahu wa ta’ala,” tambahnya.

Tujuan seni dan budaya Islam menurut Kiai Sodikun. Pertama adalah as salamah (membawa keselamatan). Seni budaya itu bukan melupakan manusia dan melalaikannya tapi berpotensi menyelamatkan kita. Ini yang sangat dasar (prinsipal).

“Jangan sampai kita dengan seni budaya justru terbawa arus kepada tsunami dan badai kehancuran. Justru dengan seni budaya kita menggapai tapak tapak lissalamah. Keselamatan dalam seluruh aspeknya,” ujarnya.

Yang kedua as sa’adah (mengantar kebahagiaan). Seni budaya yang sifatnya universal ini membawa kehidupan yang bahagia.

Yang ketiga, al barakah (mengundang keberkahan). Dengan seni budaya bagaimana mendapatkan al barakah (keberkahan). Jangan sampai justru seni budaya itu malah membawa kesusahan.

“Beberapa kali MUI memberikan taushiyah dan arahan serta petunjuk supaya dalam memproduksi film-film janganlah kira-kira nafas dan nuansanya itu tidak mendatangkan keberkahan,” kata Ketua Bidang Pembinaan Seni Budaya Islam MUI.

Yang keempat, al falah (kemenangan). Agar seni budaya itu bisa mendatangkan kemenangan dan keberuntungan. Seni budaya perlu kita kawal dan hantar untuk menaburkan al falah (keberuntungan).

Implementasi Maqashidus Syariah Dalam Seni Budaya Islam

Kiai Sodikun, juga menyatakan bahwa seni budaya harus dibangun untuk mengimplementasikan maqashidus syariah. Dengan begitu format dan desain seni budaya Islam menjadi keniscayaan.

  1. Hifdzuddin (menjaga agama)
  2. Hifdzun nasab (menjaga keturunan dan generasi)
  3. Hifdzul Aql (menjaga akal)
  4. Hifdzun nafs (menjaga jiwa)
  5. Hifdzul mal (menjaga harta)

“Seni budaya kita jadikan sebagai medium, wasilah (perantara), media yang strategis baik sastra, perfilman, dan sebagainya itu harus betul-betul untuk menjaga maqashidus syari’ah,” jelasnya.

Sehingga jangan sampai ada kreasi seni budaya misalnya tayangan yang justru menista agama dan merusak nilai ajaran Islam atau menginspirasi atau berdampak buruk pada akal, keturunan dan generasi, serta jiwa dan harta seseorang. Karena produk seni budaya ini untuk menyelamatkan (lissalamah).

Lebih lanjut, bahwa produk seni dan budaya yang washaty juga mesti berdasarkan nilai-nilai akhlak, nilai-nilai kemanusiaan, tawashut (moderat), tawazun (seimbang) dan tahaddhur (berkeadaban).

Semua ini merupakan kewajiban kita dan yang lebih wajib, kata Kiai Sodikun, adalah pemerintah. Melalui kewenangannya bisa membatasi produk seni budaya. Misalnya mencegah konten yang mengandung pornografi dan pornoaksi.

“Seni budaya sangat fundamental. Maka tugas dari MUI merespon mengapa perlu ada seni budaya Islam. Mengapa juga perlu ada Komisi Pendidikan dan Kaderisasi?, yaitu untuk mengkader yang tahu seni budaya Islam, serta budaya yang ada nilai edukasinya. Karena ini demi keselamatan keluarga, kehidupan bangsa dan negara serta manusia,” tutupnya.

Leave A Reply

Your email address will not be published.