Komisi Pendidikan & Kaderisasi MUI ‘Goes to The Digital World’

Jakarta – Pandemi Covid-19 telah menyebar lebih ke 200 negara. Dampak yang terjadi bukan hanya masalah kesehatan, namun juga meluas ke sektor keuangan, ekonomi, tidak terkecuali pendidikan.

Sejak awal maret terjadi perubahan besar. Universitas, sekolah dan lembaga-lembaga pendidikan lainnya ditutup sementara hingga pendemi bisa dikendalikan. Penutupan bukan berarti berhentinya aktivitas belajar mengajar. Lembaga pendidikan tetap menyelenggarakan pendidikan dengan pendekatan ODeL (Open Distance e-Learning). Singkatnya, Pendidikan Jarak Jauh (PJJ).

Komisi Pendidikan & Kaderisasi (Komisi PK) MUI Pusat cepat merespon perubahan yang terjadi. Prof. Dr. Armai Arief MA., mengatakan sebelum datangnya Covid-19 dunia pendidikan sudah dihadapkan dengan era disrupsi.

“Proses pembelajaran berbasis berpindah ke ruang virtual. Banyak penyedia jasa aplikasi yang bisa digunakan seperti WA Group, Google Classroom, Youtube, Zoom.us, Edmodo, Schoology dan E-Learning,” ujar Ketua Komisi Pendidikan dan Kaderisasi.

Komisi PK saat ini tengah menyiapkan program Pesantren Kilat, ‘Madrasah di Rumah’ dengan konsep ODeL. “Ada dua segmen yang kita garap. Karyawan MUI dan remaja, siswa SMA kelas 12. Insya Allah kita mulai 2 mei, bertepatan dengan Hari Pendidikan Nasional,” jelas Prof Armai melanjutkan.

Ketua MUI Bidang Hubungan Luar Negeri dan Kerjasama Internasional Prof Sudarnoto Abdul Hakim mengapresiasi program yang akan dijalankan oleh Komisi PK. 

“Ini program bagus. Sudah waktunya memang Komisi PK MUI goes to the digital world. Kita sudah mulai dengan online meeting, training-training,”  timpal Prof Sudarnoto, Ketua Komisi PK MUI sebelum Prof. Armai Arief.

Sementara itu Kiai Wahfiudin mengusulkan pembangunan sistem digital harus melibatkan ulama-ulama generasi muda yang kelak akan menggantikan kepengurusan ke depannya.

Menurut Wakil Ketua Komisi PK ini, CoViD-19 ini mengubah dan mempercepat umat untuk bekerja dan belajar sesuai Revolusi Industri 4.0 yang sudah sering dibahas dalam berbagai forum sebagai suatu keniscayaan.

“Kita mulai dari yang sederhana, tetapi effective and sustainable. Supaya ada legacy (warisan) dari kepengurusan kita kepada kepengurusan periode mendatang.” tutur Kiai Wahfiudin. (Idn)

Leave A Reply

Your email address will not be published.