Lapar, Puasa dan Pendidikan

Manusia diberi kemampuan untuk bisa merasakan rasa lapar tatkala tidak ada makanan di perutnya. Rasa lapar diperoleh tanpa melalui proses berpikir. Orang yang tidak makan akan merasakan lapar secara otomatis.

Rasa lapar ini pernah dirasakan oleh seluruh manusia. Bahwa tubuh ini memerlukan nutrisi dan asupan makanan. Ini juga mengisyaratkan bahwa manusia adalah makhluk yang lemah yang tak berdaya.

Bulan Ramadhan adalah bulan pendidikan. Melalui puasa kita tidak hanya dididik secara kognitif dan afektif tapi juga secara psikomotorik.

Bagaimana kita mengetahui syariat berpuasa, rasanya berpuasa hingga melatih diri memiliki kemampuan untuk mengontrol diri lebih baik.
Salah satunya melatih bagaimana tak sekedar tahu itu lapar, tapi merasakan bagaimana ketika lapar.

Tak berhenti disana, rasa lapar juga mesti membuat kita menyadari bahwa manusia itu demikian lemahnya. Tidak ada daya dan upaya kecuali atas izin Allah. Melalui lapar saat berpuasa, kita bisa meningkatkan rasa ketergantungan yang tinggi kepada Allah. Sebab Allah lah yang sejatinya memberikan kita makanan.

ٱلَّذِيٓ أَطۡعَمَهُم مِّن جُوعٖ وَءَامَنَهُم مِّنۡ خَوۡفِۭ

yang telah memberi makanan kepada mereka untuk menghilangkan lapar dan mengamankan mereka dari rasa ketakutan. (QS. Quraisy, Ayat 4).

Bidah Pertama

Dalam kitab Ihya Ulumuddin, Ummul Mukminin Aisyah menyebut bahwa bidah pertama yang terjadi setelah masa Rasulullah Saw adalah kenyang. Suatu kaum yang kenyang perutnya, dirinya akan dikuasai hawa nafsunya lebih condong pada dunia.

Dengan berpuasa manusia diajak untuk kembali merasakan bagaimana dahulu Rasulullah dan para sahabat menjalankan hidup. Hidup bukan dengan selalu kenyang apalagi kekenyangan.

Ini juga kembali kita diajarkan agar ikut merasakan penderitaan orang yang lapar. Sebab lapar tak bisa diajarkan melalui teori, ia mesti dirasakan dan dialami.

Manfaat Lapar

Seorang tokoh sufi Dzun Nun Al Mishri mengatakan bahwa tidaklah aku kenyang kecuali aku bermaksiat atau berhasrat untuk bermaksiat.

Sulthanul Auliya Syekh Abdul Qadir Al Jailani dalam kitab Al Mukhtasar Fi Ulumuddin mengatakan bahwa lapar bisa menjadi jalan untuk taat dan penghalang untuk berbuat maksiat. Lapar juga bisa melembutkan qalbu dan mendapat curahan hikmah serta membuat tubuh fisik jadi tenang dan diam (dari bermaksiat).

Ilustrasi. (Jimmy Chan)

Sebaliknya, kata beliau, kenyang bisa mengeraskan qalbu dan melupakan Tuhan, bisa menyebabkan penyakit di badan. Kenyang juga bisa menyebabkan tingginya tuntutan akan dunia, dan panjang angan-angan.

إِنَّ الشَّيْطَانَ يَجْرِي مِنَ الْإِنْسَانِ مَجْرَى الدَّمِ

Sesungguhnya setan bekerja pada manusia melalui aliran darahnya (HR. Imam Bukhari dan Muslim).

Sehingga para sufi mengingatkan untuk menyempitkan jalurnya setan tersebut melalui lapar dan haus. Sehingga sering kali puasa menjadi metode pendidikan dalam dunia pendidikan para sufi. Yakni untuk melatih diri secara spiritual sekaligus shalih secara sosial. Melalui puasa juga bisa diperoleh kepekaan yang memunculkan solidaritas nasional.

Saepuloh
Pemerhati Pendidikan Islam

Leave A Reply

Your email address will not be published.