Madrasah Online: Solusi Cerdas di Tengah Pandemi

Terobosan cerdas dilakukan Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat di saat pandemi covid-19. Tidak hanya sekadar memberikan fatwa dan tausiyah untuk melaksanakan protokol kesehatan, MUI Pusat juga menyediakan media agar kewajiban menuntut ilmu tetap bisa dilaksanakan.

Melalui Komisi Pendidikan dan Kader, MUI menggelar madrasah online untuk kemaslahatan umat dan bangsa pada Bulan Ramadan 1441 Hijriah ini.Program ini disambut antusiasme peserta dari berbagai penjuru nusantara. Peserta berasal dari beragam profesi. Mulai pengurus dan karyawan MUI daerah, PNS, guru, sampai para ulama.

Menariknya, tema yang diangkat aktual dan dekat dengan problematika riil yang dihadapi umat. Di antaranya, nilai-nilai puasa dalam keluarga, seni budaya Islam, ke-MUI-an, Etos Kerja dalam Islam, Ekonomi Islam dan lain sejenisnya. Pembicaranya pun sangat berkompeten dan berpengalaman di bidangnya.

Madrasah secara online adalah solusi paling realistis di tengah masih merebaknya pandemi covid-19. Di satu sisi, langkah ini bagian dari ihtiar untuk memutus rantai penyebaran virus corona karena dengan mengaji online berarti tidak mengumpulkan orang banyak. Sementara di sisi lain, ngaji online juga menjawab kebutuhan umat untuk tetap bisa mengaji dan “dekat” dengan ulama, ustadz dan para kiai di tengah wabah.

Menuntut ilmu pada dasarnya merupakan kewajiban bagi setiap muslim. Tholabul ‘ilmi faridhotun ‘alaa kulli muslimin wal muslimat. Minal mahdi ilal lahdi. Menuntut ilmu itu hukumnya wajib bagi tiap-tiap muslim laki-laki dan perempuan. Dari buaian ibu sampai liang lahat. Madrasah online artinya juga menerapkan kaidah mencegah keburukan didahulukan daripada mengerjakan kebaikan (darul mafasid muqoddam alaa jalbil masholih).

Tentu umat rindu dengan kembali mengaji dalam bentuk tatap muka. Tentu umat kangen untuk kembali berada dalam satu majelis. Akan tetapi semua harus bersabar. Sekali lagi, sabar karena sabar adalah salah satu syarat dari keberhasilan dalam menuntut ilmu agama.

Saat ini kita semua berada dalam ujian. Semua pihak harus taat kepada protokol kesehatan. Mengaji di dunia maya ini adalah alternatif untuk memenuhi anjuran pemerintah untuk lebih banyak stay at home tapi kewajiban untuk menuntut ilmu juga terpenuhi.

Lebih-lebih Ramadan adalah adalah bulan yang penuh berkah dan sangat tepat untuk menuntut ilmu. Bulan Ramadan adalah bulan diturunkannya sumber hukum utama dan pertama dalam Islam yakni Al Quran. Para sahabat dan tabiin juga melipatgandakan semangatnya saat Ramadan tiba.

Para peserta madrasah online yang masih istiqomah mengaji dalam situasi ini semoga diangkat derajatnya. Allah akan meninggikan beberapa derajat orang-orang yang beriman diantaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan (ilmu) beberapa derajat (QS. Al Mujadalah: 11).

Bukankah semakin tinggi tantangannya tentu akan melimpah berkahnya. Dengan madrasah online secara tidak langsung umat juga sedang membuat sejarah.

Lebih spesifiknya jejak digital kelimuan. Inilah kelebihan mengaji online yang bisa diputar ulang oleh jamaah (audience) kapanpun. Sewaktu-waktu peserta madrasah online bisa memutar ulang tayangan madrasah online karena terecord dengan bantuan aplikasi.

Maka ketika wabah covid-19 nanti hilang dan situasi kembali normal, tentu madrasah online bisa dipertahankan. Jamaah bisa berkumpul kembali tetapi juga ditayangkan pada channel-channel website dan media sosial. Kemampuan teknis, jaringan dan habitual baru untuk madrasah online MUI ini diharapkan tetap dipertahankan.

Perlu diingat, internet adalah media yang sangat terbuka dan demokratis. Siapa pun bisa mengisi kontennya. Maka di tengah banyaknya pilihan mengaji secara online ini, umat tetap harus selektif memilih penyedia konten. Umat bisa memilih narasumber yang kredibel dan kompeten. Termasuk dari lembaga-lembaga keagamaan yang kredibel seperti MUI. Salah memilih sumber berarti bisa salah pemahaman.

Madrasah online sudah seharusnya bisa interaktif. Audience bisa melakukan komunikasi dua arah, bertanya, memberikan komentar atau bahkan sekadar mengirim emoticon. Para kiai dan ustadz selaku narasumber juga bisa memberikan jawaban atas pertanyaan. Di sinilah etika dan adab menuntut ilmu juga tetap diperlukan. Jangan berkomentar yang bertentangan dengan hukum dan etika.

Mengingat selain terikat pada ketentuan syariat, karena berada pada spektrum dunia maya, mengaji online juga harus terikat pada Undang-Undang 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik. Semangat mengaji online perlu dibarengi dengan semangat belajar terhadap regulasi. Selamat mengaji online. Selamat menuntut ilmu dengan cara baru. Semoga kita semua termasuk ahli ilmu yang selamat dunia dan akhirat.

Penulis: Gigih Mardana (Sekretaris MUI Kota Blitar. Peserta Madrasah di Rumah MUI Pusat)

Leave A Reply

Your email address will not be published.