Mahkota Coronamu Mentarbiah Kami

Empat bulan lalu wabah virus yang namanya bak gadis cantik, Corona muncul di Wuhan, Tiongkok. Di masa awal penyebaran, tidak sedikit negara-negara yang yakin tidak akan terjangkit wabah yang dinamakan Covid-19.

WHO telah menetapkan menjadi pandemi, dan kini lebih dari 200 negara telah terinfeksi. Berdasarkan data dari worldometers.info Ahad (19/4) jumlah kasus positif yang terjadi sebanyak 2,352,867, meninggal 161,283 orang dan sembuh 606,462 orang. Di Indonesia sendiri jumlah positif telah mencapai 6,575 orang, meninggal 582 orang dan sembuh 686 orang. Alhamdulillah jumlah yang sembuh telah melampaui yang meninggal.

Kita masih ingat saat Covid-19 merebak di Tiongkok, Indonesia bergegas memulangkan puluhan mahasiswa yang sedang kuliah di negeri Tirai Bambu ini. Media televisi, berita daring dan media sosial ramai mengabarkan Wuhan yang menjadi episentrum Covid-19 bagaikan kota mati.

Kiasan “perlahan namun pasti” tak berlaku bagi Covid-19. Penyebaran virus ini begitu cepat dan masif.

Februari lalu ketika berlangsung Konfrensi Ummat Islam Indonesia (KUII) di Kota Pangkalpinang Bangka Belitung, para peserta dari seluruh Indonesia belum merasa kalau wabah ini sudah masuk ke negeri kita tercinta.

Persidangan besar masih berlangsung dengan duduk berdekatan, masyarakat luas mengadakan pesta pernikahan, arisan dan pemerintah masih menggelar acara-acara besar yang mengumpulkan banyak orang. Ketika mulai jatuh korban, barulah kita menganggap serius.

Itupun masih berdebat, “masker untuk yang sakit, yang sehat tidak perlu….”.  Ketika ada orang sehat mengenakan masker dipandang lebay. Sementara itu para dokter dan tenaga medis sangat kekurangan Alat Pelindung Diri (APD), baru belakangan lebih dilengkapi.

Ala Kulli Hal sekarang orang menyadari wabah ini bukan main-main, soal hidup dan mati. Masyarakat semakin sadar perlunya mengikuti protokol kesehatan, seperti tidak melakukan kegiatan yang berkerumun, jaga jarak, cuci tangan dan sebagainya.

Rupanya tarbiah menjaga diri dan lingkungan bisa kita petik dari kejadian ini. Tarbiah isolasi diri banyak dicontohkan pada masa ke-Nabian.

Nabi Yusuf melalui tarbiah ke-Nabian setelah sebelumnya mengalami isolasi dibuang ke sumur oleh saudara-saudaranya. Bayi Musa sudah harus mengalami tarbiah isolasi dihanyutkan oleh ibunda tercinta menyelamatkan dari kejaran Fir’aun.

Nabi Yunus karena lari dari kaum nya di-tarbiah langsung oleh Allah (swt) ke dalam perut ikan. Perempuan shalihah pilihan Allah, Maryam, mendapat tarbiah mengandung tanpa ada suami dan melahirkan calon Nabi, Isa (as). Ada lagi contoh tarbiah spektakuler Ashabul Kahfi 309 tahun lamanya di isolasi di dalam goa.

Para tenaga medis. Foto: katadata.co.id

Negeri kita Indonesia sedang mengalami musibah tentunya tiada tanpa sebab. Kita harus siap dengan tarbiah,

1. Waktu untuk merenung. Mengapa kita mengalami pandemi yang “menakutkan” ini. Apakah ini peringatan? teguran? atau bahkan adzab? untuk pribadi ataukah sekaligus kolektif umat dan bangsa?. Saatnya kita ber-muhasabah total kepada Dzat pemilik bumi ini Allah yang Maha berkehendak.

2. #dirumahaja. Barangkali ini cara Allah (swt) men-tarbiah hamba-Nya untuk kembali ke rumah. Anggota keluarga kembali bertemu lengkap di meja makan. Karena kesibukan, selama ini komunikasi hanya sebatas “say hello” saat keluar-masuk rumah.

Stay at home membuat orangtua mendampingi putra-putrinya belajar,  mengerjakan tugas dari guru. Pembelajaran berkembang melalui pemanfaatan teknologi digital, semuai ikut belajar. Keakraban kembali terjadi di keluarga. Kudapan yang dibuat sang ibupun dinikmati bersama sambil bercengkrama.

3. Ar-Razak mengajak hamba-Nya membangun keshalehan sosial. Keshalehan pribadi seperti shalat, puasa, haji adalah hubungan vertikal manusia dengan Khaliknya.

Saat ini banyak masyarakat kehilangan pekerjaan, termasuk para pekerja harian lepas dan pedagang kecil. Banyak orang mendadak menjadi miskin. Ini adalah tarbiah bagi yang masih dikaruniakan rezeki untuk saling berbagi. Insya Allah dengan bersedekah tidak akan menjadi miskin dan sulit. Sebaliknya segala sesuatu menjadi mudah, rejeki bertambah, dicintai manusia dan Allah (swt).

4. Dokter dan petugas medis adalah orang-orang mendermakan jiwa dan raganya bagi kehidupan orang lain. Mereka berjuang menyelamatkan saudara sebangsa dari kematian. Tidak sedikit perawat dan dokter yang akhirnya terpapar Covid-19 dan gugur sebagai pahlawan.

Tugas dan tanggungjawab menjadi prioritas mereka. Usai tugas mereka tidak pulang ke rumah melainkan ke asrama atau penginapan yang telah disiapkan pemerintah demi menjaga keluarga yang dicintainya sehat dan selamat.

5. Ujian hablumminannaas. Ketika ada yang meninggal ada kewajiban fardhu kifayah. Beberapa kelompok masyarakat ada yang menolak jenazah terpapar Covid-19 dimakamkan di pemakaman dekat lingkungan mereka.

Diperlukan edukasi atau tarbiah lebih intens kepada masyarakat. Jenazah yang telah menerima perlakuan sesuai protokol kesehatan tidak berbahaya bagi lingkungan dan masyarakat. Meninggal karena pandemi bukan aib. Insya Allah mereka mendapatkan syahid. Inilah sikap saling memuliakan sesama manusia.

Pandemi Covid-19 memberikan banyak pelajaran berharga untuk kita semua. Banyak perubahan sosial yang terjadi. Keshalehan sosial menjadi kunci untuk mengatasi pandemi.

Penghargaan tiada ternilai untuk pahlawan-pahlawan kemanusiaan; dokter, perawat, relawan, petugas penguburan jenazah, TNI dan Polri dan semua pejuang kemanusiaan. Mereka telah berjuang memberikan yang terbaik untuk negerinya. 

Kita semua bisa mengambil peran. Selalu ikhlas, tetap sabar dan semangat menjalani kehidupan sambil berdoa untuk saudara-saudara kita yang telah wafat. Semoga Allah (swt) meridhai perjalanan hidup mereka semua, aamiin.

(DR. Hj. Tuty Mariani M.M., Wakil Sekretaris Komisi Pendidikan dan Kaderisasi MUI Pusat)

Leave A Reply

Your email address will not be published.