Memahami Lebih Dalam Makna Zakat

Lebih bangga mana berdiri di posisi muzaki (sebagai pemberi) atau mustahik (sebagai penerima)? Sebuah pertanyaan yang patut direnungkan yang barangkali tidak terbesit dalam benak kita meskipun hakikatnya kita sama-sama berkewajiban untuk mengeluarkan jika sudah memenuhi ketentuan syarat dan rukunnya.

Sebuah pemandangan yang miris ditayangan TV, surat kabar, sosial media ketika melihat bagaimana suasana pembagian zakat, infaq, sedekah, bantuan tunai dan berbagai bentuk bantuan lainya. Tidak bisa dipungkiri yang terjadi di tengah masyarakat kita sebuah antrean menjadi mustahik ternyata lebih banyak sedangkan sepi sebagai muzaki.

Terlepas apakah mereka mampu atau tidak, hal ini seolah-olah memberikan jawaban bahwa masyarakat kita mayoritas masih menyimpan mental sebagai penerima ketimbang pemberi.

Makna Zakat dan Dasar Hukumnya

Zakat dari segi bahasa bermakna bersih, suci, subur, berkah, dan berkembang. Sedang secara istilah zakat adalah harta tertentu yang wajib dikeluarkan oleh orang yang beragama Islam dan diberikan kepada golongan yang berhak menerimanya (fakir, miskin, amil, muallaf, hamba sahaya, gharimin, fisabilillah dan ibnu sabil). Dalam surat at Taubah 103 Allah berfirman:

خُذْ مِنْ أَمْوَالِهِمْ صَدَقَةً تُطَهِّرُهُمْ وَتُزَكِّيهِمْ بِهَا

“Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan mensucikan mereka.”

Melalui ayat ini Syekh Wahbah Azzuhaili mengatakan bahwa zakat bisa menumbuhkan pahala dan membersihkan pelakunya dari dosa. Dengan menggunakan redaksi

فهي تطهر مؤديها من الاثم وتنمي اجره

“Zakat bisa membersihkan pelakunya dari dosa dan juga menumbuhkan pahalanya”

Dalam perspektif syariat, zakat boleh jadi dipahami sebagai pembebasan masyarakat dari kemiskinan, kemelaratan dan jauh dari kata mampu atau bahkan zakat dipahami sebagai penyucian harta dari berbagai kemungkinan syubhat dan haram yang mencemari harta dan kekayaan yang kita peroleh. Akan tetapi akan lebih utama lagi jika zakat kita maknai sebagai wujud pembersihan diri yakni jiwa, pikiran dan ruh dari kontaminasi materi.

Dan yang lebih penting lagi bagaimana membebaskan sekaligus menyucikan jiwa dari noda kebakhilan dan ketamakan, sebagaimana dalam Surat al Hasr (59): 9, “dan barang siapa diselamatkan dari ketamakan dirinya, maka mereka inilah orang-orang yang menang.”

Para ahli hikmah meyakini bahwa dengan memanfaatkan harta ke jalan yang benar dan sesuai anjuran dalam berbagai ayat dan hadis, niscaya akan membersihkan debu dan karat yang menghijab (nutup) diri dengan Tuhannya.

Bagi kalangan bermateri misalnya, seharusnya menyisihkan sebagian harta yang diperoleh dengan membantu saudaranya yang miskin, yang membutuhkan pertolongannya. Inilah yang disebut sebagai zakat secara fungsional. Gemar memberi adalah sifat-Nya, dan Ia senang melihat hamba-Nya mencontoh sifat suka memberi yang menjadi sifat-Nya.

Perbendaharaan Tuhan tidak akan kosong, dan bila Allah memberi, Ia akan memberi dengan tangan-Nya yang terbuka. “Barang siapa yang datang membawa amal yang baik, maka ia akan mendapat pahala sebanyak sepuluh kali lipat dari kita, dan barang siapa yang membawa perbuatan yang jahat, dia tidak mendapat pembalasannya, melainkan yang seimbang dengan kejahatannya, sedangkan mereka sedikitpun tidak dianiaya” (Surat al-An’am (6): 160).

Pendidikan Zakat

Tidak diragukan lagi betapa besar hikmah di balik kewajiban zakat. Hikmahnya begitu tampak jelas bagi siapa pun yang mau merenungkannya. Di antara hikmah zakat yang paling nampak jelas adalah mengentaskan kemiskinan. Seandainya kita kira-kirakan jumlah kaum muslimin di dunia ini kurang lebih satu miliar. Coba kita melihat pada zakat fitri saja. Ukuran zakat fitri yang wajib dikeluarkan oleh setiap orang Muslim adalah satu sha’ (kurang lebih 2,8 kg). Dan zakat fitri wajib dibayar oleh setiap orang yang memiliki makanan pokok yang lebih untuk sehari semalam di Hari Raya Idul Fitri.

Seandainya kita kira-kirakan uang yang dihasilkan dari setiap sha’ kurang lebih Rp30.000, lalu berapa yang dihasilkan dari kelipatannya dengan jumlah orang islam yang wajib membayar zakat? Bayangkan saja betapa banyaknya!

Belum lagi zakat tijarah (perdagangan). Berapa banyak para pedagang muslim yang memiliki aset dagang ratusan juta atau bahkan miliyaran rupiah. Jika masing-masing dari mereka mengeluarkan zakat 2,5 persen, maka betapa banyak zakat yang terkumpul.

Kemudian di dalam Islam masih ada lagi kewajiban zakat pertanian, zakat peternakan, zakat emas dan perak dan zakat pertambangan. Dan perlu diingat bahwa semua zakat-zakat ini wajib dibayarkan setiap tahun.

Agama juga telah mengajarkan bagaimana cara membagi zakat yang benar. Jika orang yang akan diberi zakat dinilai ahli berdagang, maka ia diberi modal untuk berdagang. Jika ahli bertani, maka diberi modal pertanian. Jika ahli dalam keilmuan, maka diberi bekal untuk mencari ilmu agar bermanfaat bagi orang banyak. Jika kreatif dalam membuat usaha, maka diberi modal untuk membuka usaha. Dan jika tidak ahli mengembangkan harta, maka diberi harta yang bisa dimanfaatkan seperti sawah yang bisa disewakan dan seterusnya.

Orang yang wajib membayar zakat setidaknya membutuhkan empat hal, sehingga ia bisa disebut orang yang menunaikan zakat:

Pertama, hendaknya memperoleh hartanya dengan cara yang halal.

Kedua, mengumpulkannya tidak untuk berbangga-bangga dan menyombongkan diri terhadap orang-orang yang berada di bawahnya.

Ketiga, memulai dengan perilaku baik dan dermawan kepada keluarga dan kerabat dekatnya.

Keempat, menjauhkan diri dari mengungkit-ungkit dan menyakiti hati orang yang diberi zakat.

Sementara itu, zakat adalah hak orang-orang fakir, dimana Allah telah menetapkannya pada harta orang-orang kaya. Maka orang yang membayar zakat kepada mereka, berarti ia telah mengembalikan harta mereka kepada mereka yang punya hak. Dengan demikian ia telah menghimpun ridha Allah dan menyelamatkan dirinya dari pertanyaan di hari perhitungan amal (hisab) dan selamat dari siksa yang pedih.

Dengan demikian mari kita tingkatkan pemahaman tentang makna zakat lebih dalam lagi dengan memahami bahwa harta dan semua yang ada adalah milik Allah Swt. Manusia diberi limpahannya agar digunakan sebagai alat bagi perjalanan ruhaninya menuju Tuhan. Manusia tidak akan sampai kepada ketaatan yang sempurna sebelum menafkahkan sebagian hartanya yang dicintai. Dan apa saja yang dinafkahkan, sesungguhnya Allah mengetahui (Surat Ali ‘Imran (3): 92).

Zakat dipahami sebagai langkah untuk memberi kado atau hadiah terindah untuk Tuhan, sekaligus untuk manusia dengan disertai kebersihan niat jiwa dan kesucian hati. Tegasnya zakat adalah upaya pembersihan diri dan  kesediaan untuk menolong manusia yang mengalami kekurangan, baik harta fisik maupun harta ruhani sehingga mereka terhindar dari penderitaan, kemiskinan, kekurangan, kelaparan fisik, maupun spiritual. Betapa indahnya dunia jika dihuni oleh manusia yang saling memahami dan mengasihi.

Abdul Aziz PKU MUI – Pascasarjana UIN Jakarta

Leave A Reply

Your email address will not be published.