Membaca Indikator Keberhasilan Ramadhan

Jika Bulan Ramadhan adalah bulan pendidikan, maka seyogyanya ada indikator yang menjadi tolok ukur keberhasilannya. Meski secara mutlak Allah lah yang menilai dan mengukur keberhasilan ibadah Ramadhan seseorang.

Maka tak ada salahnya jika kita mengevaluasi diri masing-masing sebagai upaya untuk memaksimalkan Ramadhan yang tengah berjalan. Karena melihat fakta pada Ramadhan yang sudah lalu, motivasi dan semangat menjalankan ibadah Ramadhan berangsur menyurut ketika mulai masuk pertengahan kedua.

Memang para ulama menganjurkan agar mempersiapkan Ramadhan itu sejak jauh-jauh hari, paling tidak sejak memasuki bulan Rajab. Itu semua maksudnya agar di bulan Ramadhan ini tinggal memetik hasilnya. Yakni hasil dari kebiasaan yang telah dibangun dua bulan sebelumnya. Namun tak jarang dari kita justru bisa dibilang terlambat untuk mempersiapkan diri.

Seperti ungkapan Syekh Sayyid Muhammad Al Maliki dalam kitab Ma Dza Fi Sya’ban, “Siapa yang bersungguh-sungguh melatih diri di bulan Sya’ban, maka dia akan sukses ketika bulan Ramadhan, buah dari pembiasaannya.”

Persiapan Lailatul Qadr

Malam Lailatul Qadr pun demikian, seharusnya bukan tatkala 10 hari terakhir Ramadhan baru bersiap. Sebab jika diibaratkan arena pertandingan, para atlet seyogyanya sudah mempersiapkan diri jauh jauh hari sebelum bertanding.

Memang harus diakui bahwa kelemahan biasanya ada pada persiapan dan visi ke depan. Itu rupanya bukan hanya berlaku pada ibadah pada bulan Ramadhan, tapi juga pencapaian pencapaian lain dalam hidup.

Dengan kata lain Ramadhan adalah miniatur dari bagaimana seseorang belajar mempersiapkan diri secara optimal untuk menghadapi yang akan ditemuinya. Sehingga muncul pepatah, gagal dalam persiapan sama dengan mempersiapkan kegagalan.

Muhasabah Diri

Mengenai bagaimana pentingnya persiapan Allah telah menyinggungnya dalam surah Al Hasyr ayat 18,

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ ٱتَّقُواْ ٱللَّهَ وَلۡتَنظُرۡ نَفۡسٞ مَّا قَدَّمَتۡ لِغَدٖۖ وَٱتَّقُواْ ٱللَّهَۚ إِنَّ ٱللَّهَ خَبِيرُۢ بِمَا تَعۡمَلُونَ

Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap orang memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat), dan bertakwalah kepada Allah. Sungguh, Allah Mahateliti terhadap apa yang kamu kerjakan.

Ibnu Katsir menerangkan bahwa “hendaklah setiap orang memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok” ialah agar engkau selalu muhasabah diri. Evaluasi dirimulah sebelum kamu dihisab. Lihatlah apa yang telah engkau lakukan dan investasikan dari amal shalih untuk hari kembali kamu (hari kiamat). Yakni hari menghadap kepada Allah Swt.

Al Qurthubi menyebut bahwa orang Arab ketika menyebut masa depan biasa menggunakan kata ghad (besok). Jadi disebut besok itu sebagai peringatan bahwa kiamat itu dekat. Karena besok bagi orang-orang yang melihatnya itu amat dekat.

Bisa dikatakan bahwa ayat ini memerintahkan bukan hanya agar kita mengevaluasi diri dan mempersiapkan diri, tapi juga agar mempunyai daya untuk menjangkau sesuatu di depan menjadi dekat. Melihat sesuatu yang ada di depan (seakan-akan) itu amat dekat. Inilah yang dinamakan visi, dia mampu menjangkau ke depan menjadi dekat dalam pandangannya.

Bukankah setiap yang bernyawa pasti akan mati. Kematian adalah pasti, dan setiap yang pasti terjadi itu dekat. Namun karena kelalaian qalbu dari Allah maka kematian dan akhirat itu sungguh jauh sekali. Itu sebabnya Rasul menganjurkan untuk berziarah dan menjenguk orang sakit agar mampu mendekatkan daya jangkau pandangan dan ingatan kita akan akhirat.

زُورُوا الْقُبُورَ ؛ فَإِنَّهَا تُذَكِّرُكُمُ الْآخِرَةَ

“Ziarahilah kubur, karena ia bisa mengingatkanmu akan akhirat,” (HR. Ibnu Majah)

عُودُوا الْمَرِيضَ، وَاتَّبِعُوا الْجَنَازَةَ، تُذَكِّرُكُمُ الْآخِرَةَ

“Jenguklah yang sakit, dan iringilah jenazah, karena ia mengingatkanmu dengan akhirat,” (HR. Ahmad).

Ilustrasi angkasa. (Philippe Donn)

Maka jika semangat ibadah mulai mengendur, pandanglah bahwa bisa jadi ini adalah Ramadhan terakhir. Jika dalam melakukan sesuatu kita masih setengah-setengah dan belum optimal, milikilah pandangan bahwa tak ada yang tahu kita masih hidup atau tidak pada esok hari.

Itu sebabnya indikator keberhasilan menjalankan ibadah Ramadhan, ialah saat seorang muslim mampu meninggalkan sesuatu yang tidak bermanfaat bagi dirinya. Serta selalu bertindak berdasar skala prioritas dan mengupayakan yang terbaik. Itu semua berawal dari mampu menahan diri yang dilatih saat berpuasa (shiyam) dan menghidupkan malam (qiyam).

مِنْ حُسْنِ إِسْلَامِ الْمَرْءِ تَرْكُهُ مَا لَا يَعْنِيهِ

Tanda baiknya Islam seseorang ialah meninggalkan hal yang tidak berguna untuknya (HR. Tirmidzi).

Saepuloh
Pemerhati Pendidikan Islam

Leave A Reply

Your email address will not be published.