Membangun Etos Kerja Prophetic dan Memaksimalkan Ibadah Bulan Ramadhan

Etos kerja yang penting untuk kita bangun adalah etos kerja tauhid. Dalam istilah lain KH A Kharis Masduki, MSI Pengasuh Pondok Pesantren Darul Qur’an wal Irsyad, Wonosari menyebutnya sebagai etos kerja prophetic.

Yaitu semangat kerja kenabian, pendidikan yang berbasis pada keilahian, yang meneladani semangat kerja yang dicontohkan oleh Rasulullah Saw.

Siapapun kita, Allah tidak melihat pekerjaan kita. Yang dipertanyakan dan akan kita pertanggungjawbkan dihadapan Allah adalah; Kita bekerja sebagai apa, bisakah kerja kita, apa yang kita lakukan meningkatkan ketaqwaan kepada Allah?. Mampukah dalam kita bekerja hanya semata untuk mencari ridha Allah?

Dalam sebuah riwayat disebutkan bahwa orang orang yang berpengetahuanlah yang dikatakan sebagai orang-orang yang takut kepada Allah. Orang-orang yang berpengetahuan (pendidik) adalah orang orang yang menikmati, sekaligus mendapatkan warisan terbesar dari Rasulullah.

Pendidik sebagaimana diajarkan Nabi, memiliki 3 ranah kegiatan, yaitu, membacakan ayat ayat Allah (aspek keimanan). Pembersihan jiwa (aspek perbaikan karakter). Mengajarkan kitab dan hikmah (aspek pengajaran).

Pendidikan prophetic menitikberatkan pada kompetensi dalam sisi kejiwaan, motivasi dan materinya. Materi dalam arti mampu menguasai kemampuan yang memadai.

Salah satu karakter Rasulullah yang luarbiasa yang patut kita pegang teguh adalah saat Rasulullah diperangi oleh kaum kafir Quraisy. Pada saat mereka mengancam Rasulullah bahkan meminta Rasulullah untuk berhenti menyampaikan kebenaran, maka Rasulullah menjawab, “meski mereka (orang-orang kafir) meletakkan matahari di tangan kananku dan rembulan di tangan kiri ku, maka sekali-kali aku tidak akan berhenti menyampaikan kebenaran“.

Betapa Rasulullah sangat peduli pada penyampain ilmu sehingga dengan ilmu itu, umat manusia akan berada dalam terang benderangnya hidup, terbukanya rahasia rahasia alam, serta bukti-bukti kekuasaan Allah Swt.

Siapapun kita, madrasah pertama adalah di rumah, madrasah kedua adalah guru. Guru tidak mengenal batas waktu, setiap saat, setiap waktu, guru adalah pengawal pendidikan anak-anak kita, bukan hanya di sekolah tetapi di sepanjang waktu selama menjadi murid.

Ketika media sosial banyak memberikan informasi, guru menjadi pengawal informasi apa yang layak dikonsumsi. Mengawal ranah attitude yang tidak bisa digantikan bahkan dengan kecanggihan teknologi.

Saat anak lebih dulu menemukan informasi daripada temannya, atau bahkan gurunya, maka bagaimana kemudian dia tidak menjadi bertepuk dada. Di sinilah contoh peran penting guru, yakni membangun karakter dan kepribadian yang baik untuk muridnya.

Ini adalah proses edukasi yang tujuannya menjadikan peserta didik memiliki iman yang kokoh, karakter baik, dan otak yang cerdas. Karena sejatinya, guru sebagai murabbi adalah mutlak dibutuhkan oleh muridnya. Sehingga secanggih apapun media; tidak akan mampu mengalahkan keberadaan guru.

Guru dengan orientasi prophetic akan cenderung kreatif dan produktif. Orientasi prophetic yang dimaksud disini adalah, tidak semata mata mengharapkan imbalan dalam bentik finansial, karena mereka yakin bahwa menjadi guru sama artinya dengan berkhidmah kepada keilmuan yang tidak lagi berorientasi materi. Tidak mengharapkan harta atau imbalan secara materi karena urusan ganjaran, imbalan, pahala itu sudah menjadi urusan Allah.

Guru sebagai Murabbi semata mengharap ridha Allah dalam konsep kerjanya. Beberapa hal yang perlu ditekankan di sini adalah konsep ahlussunah wal jamaah, dalam arti bahwa tidak hanya yang sifatnya Jabariyah (menitik beratkan pada do’a semata) tidak juga Qadariyah (menitikberatkan pada usaha semata), tetapi konsep tengah, menyeimbangkan antara keduanya.

Ikhlas dalam melaksanakan tugasnya disertai wirid dan do’a sekaligus diikuti dengan kebenaran formalnya dalam bentuk perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi yang matang dan konsisten.

Yakinlah dengan kita bekerja, halal dan thayyib, semata untuk mendapat ridha Allah Swt, maka semesta akan melihat apa yang kita lakukan, dan alam akan membukakan jalan pada setiap kesulitan sehingga keberkahan dan kemanfaatan hidup sebagaimana yang diajarkan oleh Rasulullah akan kita dapatkan.

Di bulan yang penuh berkah ini, mengatur waktu antara ibadah (dalam bentuk ritual), dzikir, pekerjaan, serta tanggung jawab yang harus dipenuhi menjadi sangat penting. Maka bersyukurlah ketika kita bekerja di lingkungan yang kondusif untuk sekaligus beribadah.

Jika kita mau melihat sisi yang lain, ada pekerjaan lain yang pada saat shalat dhuhur pun, tidak sempat, makan siang saja sambil lari-lari, bekerja bagaikan robot. Hampir tidak ada dispensasi untuk urusan pribadi apalagi peribadatan. Saat kita mengatur waktu dengan baik, maka insyaallah waktu kita akan efektif dan bermakna.

Pentingnya Pengaturan Waktu

Menilik pada perbandingan umur kisah nabi-nabi terdahulu, umur mereka hingga ratusan tahun. Sehingga orang orang yang memiliki umur panjang berkesempatan untuk bisa memiliki pahala atau amal kebaikan yang luar biasa banyaknya. Sebagaimana kita ketahui, bahwa sebaik baiknya manusia adalah manusia yang umurnya panjang dan banyak amalnya, serta bermanfaat bagi sesama.

Sedangkan kita, umat Nabi Muhammad Saw, rata rata memiliki umur yang sangat singkat, hanya berkisar antara 63-65 tahun saja. Tetapi Allah Maha Rahman, Allah memberikan keistimewaan kepada kita umat Nabi Muhammad Saw dengan konversi waktu dan pahala yang luar biasa.

Mari kita renungkan, umur kita sangat singkat, tetapi Allah mengkaruniakan lailatul qadar di bulan ramadhan. Barangsiapa mendapatkan malam lailatul qadar, maka ibadah dalam satu malam berpahala sama dengan 1000 bulan atau sekitar 83 tahun. Jika dalam hidupnya, manusia bisa menjumpai lima kali lailatul qadar saja, maka akan sama dengan hidup dan beribadah selama 415 tahun.

Allah masih juga memberikan keistimewaan melalui fadhilah silaturahim. Dengan bersilaturahim, Allah akan memanjangkan umur kita. Selanjutnya, kita lihat fadhilah puasa di bulan Syawal. Barangsiapa berpuasa enam hari di bulan syawal dengan ikhlas dan hanya mengharap ridha-Nya, maka ibadah ini akan bernilai sama seperti berpuasa selama setahun penuh. Bayangkan jika manusia melaksanakan puasa syawal setiap tahunnya.

Fadhilah yang lain adalah tentang keutamaan membaca surah al ikhlas, barang siapa membaca surah al ikhlas dengan khusyu’ sebanyak tiga kali maka pahalanya akan sama dengan pahala bacaan seluruh al Qur’an. Siapa yang membaca al-qur’an, satu huruf bacaan al-qur’an Allah mengaruniakan 10 pahala kebaikan.

Shalat subuh berjamaah di masjid, bernilai sama dengan shalat semalam suntuk. Shalat berjamaah nilainya 27 kali lebih baik daripada shalat sendirian. Barang siapa sholat di masjid Nabawi, pahalanya sama dengan 1000 kali shalat di masjid yang lain. Barangsiapa shalat di masjidil haram, maka pahalanya seperti 100.000 kali sholat di masjid yang lain. Dan masih banyak lagi keutamaan keutamaan yang apabila dikonversi maka pahala kebaikan akan menjadi sepadan dengan amalan yang mungkin dikerjakan oleh umat nabi nabi terdahulu yang umurnya hingga ratusan tahun. Masyaallah, betapa Maha Pemurahnya Allah.

Maka menjadi sangat penting bagi kita untuk pandai mengatur waktu dengan sebaik baiknya. Agar amalan-amalan dalam rangka taqarrub kita kepada Allah, terutama di bulan Ramadhan ini bisa kita maksimalkan. Tidak lain dan tidak bukan ibadah kita semata mata untuk mencari ridha Allah Swt.

Penulis: Nurlaily Fatayati – MTs Darul Qur’an Wonosari

Leave A Reply

Your email address will not be published.