Membangun Islam Wasathiyah di Tengah Keluarga

Islam Wasathiyah adalah model ekspresi dan pemahaman yang relevan dalam bingkai kenegaraan di Indonesia. Artinya, Islam tengahan dan moderat sebagai pemahaman ajaran Islam yang menggunakan empat kaidah.

Pertama, santun, tidak keras dan tidak radikal. Kedua, suka rela, tidak memaksa dan tidak mengintimidasi. Ketiga, toleran, tidak egois dan tidak fanatis. Terakhir, saling mencintai, tidak saling bermusuhan dan membenci.

Maraknya kasus kekerasan di lingkungan pendidikan Indonesia. Seperti halnya kasus kejadian di berbagai daerah dimana seorang siswa menganiaya gurunya hanya karena tidak terima ditegur oleh gurunya. Atau kejadian dimana seorang guru dipukul oleh orang tua siswa yang tidak terima anaknya ditegur oleh guru tersebut. Ini semakin menegaskan betapa pentingnya pendidikan nilai yang harus ditanamkan di keluarga.

Efek yang lebih luas apabila kondisi seperti ini terjadi terus menerus, maka akan melahirkan terjadi perilaku-perilaku yang sifatnya anti sosial. Maraknya kejadian bullying di kalangan generasi muda, merebaknya perilaku radikal atas nama agama, sampai yang lebih parahnya adalah terjadinya krisis moral yang berujung kepada hancurnya suatu peradaban.

Agama Islam, telah menuntun pemeluknya mengenai komunikasi keluarga tentang pentingnya menjaga keluarga. Memiliki keluarga yang harmonis, toleran, dan saling menghargai merupakan dambaan setiap orang. Apalagi kalau ketiga karakter tersebut sesuai dengan ajaran agama.

Karena itulah, setiap pasangan yang baru menikah, diharapkan menjadi keluarga yang sakinah, mawaddah dan wa rahmah. Diharapkan bisa membangun keluarga yang penuh kasih sayang, cinta, dan tentram. Hal ini juga dijelaskan dalam al-Quran, “Dan orang orang yang berkata: “Ya Tuhan kami, anugrahkanlah kepada kami isteri-isteri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa”. (Surat al-Furqan (25): 74).

Secara umum, al-Quran menyimpan tuntunan komunikasi dalam terminologi Qaul. Beberapa ayat dalam al-Quran secara tersurat menyatakan hal tersebut, yakni :

Qaulan Balighan

أُو۟لَٰٓئِكَ ٱلَّذِينَ يَعْلَمُ ٱللَّهُ مَا فِى قُلُوبِهِمْ فَأَعْرِضْ عَنْهُمْ وَعِظْهُمْ وَقُل لَّهُمْ فِىٓ أَنفُسِهِمْ قَوْلًۢا بَلِيغًا

“Mereka itu adalah orang-orang yang Allah mengetahui apa yang di dalam hati mereka. Karena itu berpalinglah kamu dari mereka, dan berilah mereka pelajaran, dan katakanlah kepada mereka  perkataan yang berbekas pada jiwa mereka” (Surat an-Nisa (4): 63).

Kata baligh mempunyai makna sampai, tegas, mengenai sasaran, dan sampai pada tujuan. Dalam penerapannya di lingkungan keluarga, pola komunikasi qaulan baligha mengarahkan komunikasi dibangun dengan fasih, tutur bahasa disesuaikan dengan tingkat pemahaman anak.

Pemilihan kosa kata tidak asing, tidak jlimet, tidak susah dipahami, dan menyesuaikan tingkat pemahaman anak. Orang tua yang mengajak berkomunikasi dengan anak dengan menyentuh akal dan hatinya sekaligus. Sehingga anak dapat menerima untaian nasihat dan nilai dalam proses berkomunikasi dengan orang tuanya

Qaulan Sadidan

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ ٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَ وَقُولُوا۟ قَوْلًا سَدِيدًا

“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kamu kepada Allah dan katakanlah perkataan yang benar” (Surat Al-Ahzab (33): 70).

Kata sadida mempunyai makna mendidik, baik, dan benar. Dalam prakteknya, orang tua tidaklah dibenarkan untuk berbohong dalam berkomunikasi dengan anak-anaknya. Orang tua memberikan pengajaran dengan kata-kata yang baik dan benar, sehingga segala apa yang keluar dari mulut orang tua menjadi contoh yang nyata dalam kehidupan anak.

Qaulan Kariman

فَلَا تَقُل لَّهُمَآ أُفٍّ وَلَا تَنْهَرْهُمَا وَقُل لَّهُمَا قَوْلًا كَرِيمًا

“dan janganlah kamu sekali-kali mengatakan kepada orangtuamu perkataan “ah” dan janganlah kamu membentak mereka, dan katakanlah kepada mereka perkataan yang mulia” (Surat al Isra (17): 23).

Kata qaulan karima adalah seruan untuk mengucapkan perkataan yang lemah lembut serta dibarengi dengan sikap sopan santun dan penuh tata krama. Dalam prakteknya, orang tua memberikan contoh kepada anaknya dengan cara orang tua tersebut memuliakan orang lain yang lebih tua darinya.

Perlihatkan contoh bagaimana seharusnya berkomunikasi dengan orang yang lebih tua, dan biarkan sang anak melihat serta belajar langsung dengannya. Biarkan sang anak untuk melihat betapa mulianya pilihan kata dari kita sebagai orangtuanya dalam memperlakukan orang yang lebih tua, perlihatkan toleransi dan penghormatan secara nyata dalam kehidupannya.

Qaulan Maysuran

وَإِمَّا تُعْرِضَنَّ عَنْهُمُ ٱبْتِغَآءَ رَحْمَةٍ مِّن رَّبِّكَ تَرْجُوهَا فَقُل لَّهُمْ قَوْلًا مَّيْسُورًا

“Dan  jika kamu  berpaling dari  mereka untuk memperoleh  rahmat dari Tuhanmu yang kamu  harapkan, maka katakanlah kepada mereka perkataan yang lemah lembut”.(Surat al-Isra’ (17): 28).

Kata maysura berarti manis dan lemah lembut. Ayat ini menuntun orang tua untuk senantiasa berkata lemah lembut terhadap anak, sekalipun anak berkata kasar kepadanya. Tetap memperlakukan dengan arif dan bijaksana.

Pemahaman dan permakluman dalam dirinya saat anak mengeluarkan kata-kata kasar dan tidak pantas sekalipun kepadanya. Kata-kata yang keluar merupakan pilihan dengan kata yang yassara, mudah dipahami, ringan dan mudah dicerna anak. Sehingga dengan itu, anak menjadi tertarik dan bersimpati kepada orang tuanya.

Qaulan Ma’rufan

وَلَا تُؤْتُوا۟ ٱلسُّفَهَآءَ أَمْوَٰلَكُمُ ٱلَّتِى جَعَلَ ٱللَّهُ لَكُمْ قِيَٰمًا وَٱرْزُقُوهُمْ فِيهَا وَٱكْسُوهُمْ وَقُولُوا۟ لَهُمْ قَوْلًا مَّعْرُوفًا

“Dan janganlah kamu serahkan kepada orang-orang yang belum sempurna akalnya, harta (mereka yang ada dalam kekuasaanmu) yang dijadikan Allah sebagai pokok kehidupan. Berilah mereka belanja dan pakaian (dari hasil harta itu), dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang baik” (Surat an-Nisa’ (4): 5).

Kata ma’rufa berarti perkataan yang baik dan menimbulkan rasa damai dan tenteram bagi mereka yang mendengarkan. Dalam prakteknya, adakalanya seorang anak mengalami kegagalan dalam kehidupannya. Dalam kondisi seperti itu, maka orang tua diarahkan untuk memberikan kata-kata yang pantas dan memberikan ketenangan kepada anaknya.

Bukan kata-kata yang malahan menekan dan menjatuhkan mental sang anak. Berikan motivasi dan pemahaman, bahwa kegagalan itu adalah hal yang biasa, dan mereka yang sukses sejatinya adalah orang yang telah mengalami berbagai kegagalan dalam kehidupannya.

Qaulan Layyinan

فَقُولَا لَهُۥ قَوْلًا لَّيِّنًا لَّعَلَّهُۥ يَتَذَكَّرُ أَوْ يَخْشَىٰ

“Maka berkatalah kamu berdua kepadanya dengan kata-kata yang lemah lembut, mudah-mudahan ia akan ingat dan takut” (Surat Thaha (20): 44).

Kata Layyina berarti lemah lembut. Dalam praktek komunikasi di keluarga, komunikasi dengan pola qaulan layyina ini disampaikan oleh orang tua kepada anaknya dengan cara-cara yang lemah lembut, mengayomi, ngemong, dan memberikan penjelasan secara rasional tentang nilai benar dan salah, atau baik dan buruk. Membuka ruang-ruang diskusi dan tidak bersifat arogan dalam memutuskan suatu perkara.

Dengan demikian merupakan sebuah keharusan dan tuntutan kepada setiap orang tua. Untuk berusaha bisa memahami dan mempraktekkan bagaimana menjalin pola komunikasi. Yang meliputi qaulan baligha, qaulan sadida, qaulan karima, qaulan maysura, qaulan ma’rufa dan qaulan maysura.

Sehingga harapannya mereka menjadi anak-anak yang beradab, berakhlakul karimah berguna bagi orang tua, masyarakat, nusa dan bangsa.

Penulis: Abdul Aziz PKU MUI Pascasarjana UIN, Condet Jakarta Timur

Leave A Reply

Your email address will not be published.