Mengelola Syahwat Perut

Buka puasa atau biasa disebut ifthar bisa dibilang jadi agenda yang paling ditunggu setelah seharian berpuasa menahan lapar dan dahaga.

Meski begitu, berbuka puasa bukanlah menuntaskan hasrat makan dan minum sepuas-puasnya apalagi sampai kekenyangan dan mager alias malas gerak.

Karena sejak awal tujuan berpuasa ialah untuk mendekatkan diri pada Allah Swt. Yakni dengan mendidik dan melatih diri agar mampu mengontrol hawa nafsu dan syahwat, termasuk syahwat perut.

Syahwat perut ini perlu dikontrol dan dilatih selama bulan Ramadhan. Ini demi kebaikan dan kesehatan diri serta punya habit baru pasca bulan Ramadhan.

Jika syahwat ini selalu diperturutkan maka ibadah Ramadhan kita bisa sekedar mendapatkan rasa lapar dan dahaga.

رُبَّ صَائِمٍ لَيْسَ لَهُ مِنْ صِيَامِهِ إِلَّا الْجُوعُ

Berapa banyak orang berpuasa tidak mendapatkan apa-apa dari puasanya kecuali rasa lapar (HR. Ibnu Majah).

Saat berpuasa sebenarnya kita tengah melakukan maintenance terhadap perut kita. Seperti diketahui bahwa perut digunakan sehari-hari, bahkan tak jarang sebagian dari kita memperlakukannya hingga over load (muatan berlebih).

Padahal Nabi telah mengingatkan bahwa perut bisa menjadi wadah yang buruk. Oleh karenanya kita perlu mengelola volume makanan dan minuman yang masuk ke dalamnya.

مَا مَلَأَ آدَمِيٌّ وِعَاءً شَرًّا مِنْ بَطْنٍ، بِحَسْبِ ابْنِ آدَمَ أُكُلَاتٌ يُقِمْنَ صُلْبَهُ، فَإِنْ كَانَ لَا مَحَالَةَ، فَثُلُثٌ لِطَعَامِهِ، وَثُلُثٌ لِشَرَابِهِ، وَثُلُثٌ لِنَفَسِهِ “.

Tidaklah anak Adam memenuhi wadah yang lebih buruk dari perut. Cukuplah anak Adam memakan yang bisa menegakkan tulang punggungnya. Jika hal itu sulit (mustahil), maka jadikanlah sepertiganya untuk makanan, sepertiganya untuk minuman, dan sepertiganya untuk bernafas. (HR. Tirmidzi).

Allah telah menganugerahkan aneka kenikmatan yang halal untuk dikonsumsi tapi dalam batas tertentu yang baik secara kesehatan dan proporsional. Sehingga kita dilarang untuk mengonsumsinya secara berlebih-lebihan.

وَكُلُواْ وَٱشۡرَبُواْ وَلَا تُسۡرِفُوٓاْۚ إِنَّهُۥ لَا يُحِبُّ ٱلۡمُسۡرِفِينَ

makan dan minumlah, tetapi jangan berlebihan. Sungguh, Allah tidak menyukai orang yang berlebih-lebihan. (QS. Al-A’raf: 31).

Selain berlebihan dalam mengonsumsi makanan itu tidak baik. Ini juga mengisyaratkan bahwa perlu kita berempati dan membantu saudara kita yang sedang kelaparan.

لَا يَشْبَعُ الرَّجُلُ دُونَ جَارِهِ

“Seseorang jangan makan kenyang sedangkan tetangganya lapar”. (HR. Imam Ahmad).

Lalu pastikan apa yang dimakan itu adalah jelas kehalalannya dan baik untuk kesehatan. Sebab makanan yang halal serta menyehatkan akan mengundang Ridha Allah dan kebahagiaan.

فَكُلُواْ مِمَّا رَزَقَكُمُ ٱللَّهُ حَلَٰلٗا طَيِّبٗا وَٱشۡكُرُواْ نِعۡمَتَ ٱللَّهِ إِن كُنتُمۡ إِيَّاهُ تَعۡبُدُونَ

Maka makanlah yang halal lagi baik dari rezeki yang telah diberikan Allah kepadamu; dan syukurilah nikmat Allah, jika kamu hanya menyembah kepada-Nya.

-Surat An-Nahl, Ayat 114

Untuk itu niat dalam setiap makan perlu ditanamkan. Niatkanlah bahwa aku makan demi kuat dan sehat sehingga bisa maksimal dalam beribadah. Sebab niat bisa jadi kontrol terbaik dalam mengelola syahwat perut. Terakhir perbanyak dzikir dan berdoalah agar Allah menguatkan ruhani kita sehingga tidak dikendalikan oleh syahwat perut.

Saepuloh
Pemerhati Pendidikan Islam

Leave A Reply

Your email address will not be published.