Mengenal Literasi Digital dan Hakikat Buta Huruf Abad 21

Dalam program Pesantren Ramadhan yang diinisisasi oleh Komisi Pendidikan dan Kaderisasi MUI pusat, KH. Wahfiudin Sakam, SE, MBA tampil menjadi narasumber. Membawakan tema Literasi Digital untuk Pendidikan dan Dakwah yang dimoderatori oleh Irfana Steviano, S.Pd, M.Ed

Dalam paparannya tersebut Kiai Wahfi menjelaskan pentingnya Literasi Digital bagi para pendidik dan dai. Namun sebelumnya beliau menjelaskan terlebih dahulu arti literasi.

Literasi berasal dari kata literate. Literate itu paling tidak ada dua makna awalnya. Pertama able to read and write yang artinya mampu membaca dan menulis. Yang populer dengan istilah melek huruf, lawan daripada buta huruf, dia yang tidak bisa membaca.

Kemudian di dunia barat literate sendiri itu bukan hanya berkemampuan membaca dan menulis tapi bermakna having a basic skill or knowledge of a subject. Memiliki keahlian atau pengetahuan dasar tentang sesuatu.

Sedangkan digital itu kata sifat (adjective) yang artinya adalah informasi yang disimpan, disusun dalam bentuk rangkaian angka 1 dan 0. Jadi hanya digunakan 2 angka dalam digital, yakni 1 dan 0. Maksudnya apa? 1 untuk menunjukkan ada sinyal listriknya, 0 untuk menunjukkan tidak ada sinyal listrik.

Kiai Wahfi menjelaskan asal usul digital. Menurutnya digital dahulu kala dikenal dengan kode Morse. Setelah ditemukan listrik, kode morse itu diubah menjadi kode digital. Dalam teknologi digital, informasi itu dikirim menggunakan sinyal-sinyal listrik dalam rangkaian 8 digit. Digit yang angkanya hanya mengenal dua macam yaitu 1 dan 0.

Terkait teknologi komunikasi, Wakil Ketua Komisi Pendidikan dan Kaderisasi MUI Pusat bagaimana teknologi digital bisa menjangkau demikian luas manusia di bumi.

Teknologi satelit paling tidak dipasang pada ketinggian 40000 KM di atas permukaan bumi. Sebuah satelit dapat mencapai wilayah yang luas di muka bumi.

Kiai Wahfi menjelaskan bahwa satelit dapat menangkap sinyal-sinyal yang dipancarkan oleh antena parabola. Satelit pun bisa memancarkan sinyal sinyal yang ditangkap oleh antena parabola di muka bumi. Jadi luas sekali jangkauannya. Jutaan orang di seluruh wilayah bumi ini bisa berkomunikasi, mengirim dan mendapatkan informasi.

Satelit itu ternyata bukan hanya satu. Satelit dipasang mengelilingi permukaan bumi dalam jumlah yang banyak. Satelit komunikasi yang saat ini berada mengelilingi bumi menurut badan PBB yang khusus untuk menangani urusan-urusan angkasa luar United Nations Office for Outer Space Affairs (UNOOSA), dalam catatan terdaftar ada 4635 satelit yang mengelilingi bumi.

“Ada macam-macam jenis satelit, ada satelit komunikasi, satelit militer dan intelijen, ada satelit navigasi untuk mengarahkan jalur penerbangan, jalur pelayaran kapal laut dan lain sebagainya,” terangnya.

Akibatnya, kata Kiai Wahfi, jumlah satelit yang banyak ini menembakkan ke muka bumi berbagai macam informasi kepada manusia yang ada di muka bumi. Sehingga kita mengalami apa yang disebut abundance of information atau keberlimpahan informasi.

“Dulu orang sulit karena minim informasi, sekarang orang sulit karena kebanjiran informasi,” imbuhnya.

Buta Huruf Abad 21

Karena banjirnya informasi ke tengah masyarakat di muka bumi akhir abad 20 lalu Alvin Toffler seorang Futurolog mengatakan “The illiterate of the 21st century will not be those who cannot read and write, but those who cannot learn

Orang yang buta huruf pada abad ke-21 bukanlah mereka yang tidak bisa membaca dan menulis, tetapi mereka yang tidak mempelajari.

Kiai Wahfi mencontohkan, berapa banyak di antara kita yang memiliki handphone dua tiga empat. Melakukan chatting, memiliki grup WhatsApp, memiliki Instagram dan segala macamnya di internet. Menghabiskan waktu dari pagi sampai sore, membaca serta menulis dengan jempolnya.

“Tetapi seringkali apa yang dia baca dan dia tulis, dia tidak mengerti. Betulkah yang dibacanya itu? Apakah yang dibacanya suatu kebenaran, apakah yang dibacanya itu masuk akal atau yang dibaca itu hanyalah fitnah. Apakah yang dibacanya itu merupakan hal yang baik? Dia tidak mengerti mana baik mana buruk. Dia tidak mengerti mana bermanfaat dan mubazir,” paparnya.

Tetapi apa yang dibacanya langsung dia forward dan broadcast ke banyak grup. Ketika dia kirim, itu akan memakan beban internet dan kalau dia kirim ke sebuah grup yang berisi 100 orang maka 100 orang itu ikut termakan paket internetnya. Yang untung memang perusahaan perusahaan provider internet. Tetapi secara nasional kita menjadi boros.

“Ada orang yang bisa baca, bisa menulis tapi sebaliknya dia tidak mengerti apa yang dia baca inilah hakikat buta huruf abad 21,” tegas wakil talqin Abah Anom tersebut.

Leave A Reply

Your email address will not be published.