Mengenali Potensi Diri dan Menerima Taqdir Allah

Allah Swt menciptakan manusia dengan potensi dan kelebihan serta kekurangannya masing-masing. Singkatnya, Dia telah menetapkan taqdir yang berbeda bagi setiap orang.

Mulai dari latar belakang, usia, jodoh, rezeki, kondisi kesehatan hingga ragam penghidupan yang dijalani bahkan hingga nasib di akhirat, bahagiakah atau sengsara. Semua itu telah dicatat sebagaimana dalam surah Al Hadid ayat 22.

“Setiap bencana yang menimpa di bumi dan yang menimpa dirimu sendiri, semuanya telah tertulis dalam Kitab (Lauh Mahfuzh) sebelum Kami mewujudkannya. Sungguh, yang demikian itu mudah bagi Allah.”

Selain itu Allah juga telah membagi kondisi dan kualitas penghidupan berbeda-beda sebagaimana dilukiskan dalam surah Az Zukhruf ayat 32.

“Kamilah yang menentukan penghidupan mereka dalam kehidupan dunia, dan Kami telah meninggikan sebagian mereka atas sebagian yang lain beberapa derajat, agar sebagian mereka dapat memanfaatkan sebagian yang lain.”

Perbedaan nasib yang dialami tiap manusia adalah anugerah dari Allah. Semua Allah atur agar terjadi keseimbangan dalam kehidupan di bumi. Kita tidak dapat membayangkan jika semuanya orang kaya yang berkecukupan ataupun sebaliknya. Tentu kehidupan akan rusak dan bisa jadi tidak berjalan.

Menerima Taqdir

Di sinilah pentingnya kita meyakini dan menerima taqdir Allah Swt. Sehingga perbedaan potensi dan kelebihan tidak menimbulkan kebanggan diri, kesombongan ataupun iri dan kedengkian terlebih merebaknya kedzaliman.

Justru Allah menguji manusia dengan perbedaan ketetapan pada tiap makhluknya itu. Apakah ia termasuk golongan hamba-Nya yang bersyukur atau justru mengingkari nikmat-Nya (kufur).

Keikhlasan dan menyadari posisi kita sebagai hamba Allah akan memudahkan hidup kita. Tetapi saat penolakan itu demikian kuat, tidak melihat Allah dalam setiap kejadian, maka kita hanya akan bertambah sakit.

Sebaliknya jika kita tunduk dan berserah diri pada Allah. Melihat Allah dalam setiap hal dan keadaan. Mau berperan untuk saling memberi kemanfaatan satu sama lain sesuai dengan potensinya. Itu akan membuat kita memperoleh kebahagiaan.

Kita perlu menyadari bahwa setiap orang punya peran masing-masing di dunia ini. Temukanlah peran itu sesuai potensi yang Allah berikan. Tugas kita adalah mengenali potensi itu dan mengembangkannya dalam peran kebaikan.

Karena semuanya adalah milik Allah Swt. Manusia hanya berjalan sesuai dengan kodrat yang telah ditentukan-Nya. Meski begitu, manusia dituntut untuk melakukan yang terbaik atas apa yang dilakukannya sebagai bentuk penghambaan dan bersyukur pada-Nya.

Leave A Reply

Your email address will not be published.