Moderasi, Keadilan dan Ayat Yang Paling Berat

Bila kita merujuk pada Al Quran ada satu ayat yang dinilai oleh sebagian ulama sebagai ayat moderasi, Allah Swt berfirman:

فَاسْتَقِمْ كَمَاۤ اُمِرْتَ وَمَنْ تَابَ مَعَكَ وَلَا تَطْغَوْا ؕ اِنَّهٗ بِمَا تَعْمَلُوْنَ بَصِيْرٌ

“Maka tetaplah engkau (Muhammad) (di jalan yang benar), sebagaimana telah diperintahkan kepadamu dan (juga) orang yang bertobat bersamamu, dan janganlah kamu melampaui batas. Sungguh, Dia Maha Melihat terhadap apa yang kamu kerjakan.” (QS. Hud: Ayat 112).

Menarik bila kita lihat komentar Ibnu Abbas terkait ayat di atas, berikut penuturannya; “Tidaklah ada ayat yang turun pada Rasullullah saw yang lebih berat dari ayat ini kepadanya.”

Moderasi dan Istiqamah

Dalam ayat tersebut Allah memerintahkan Nabi dan orang yang beriman bersamanya untuk beristiqamah baik dalam keyakinan, amal perbuatan dan akhlak tanpa ifrath (melebihkan) dan tafrith (mengurangi).

Istiqamah di sini menuntut peng-esa-an Allah dalam dzat dan sifat-Nya, beriman pada yang ghaib serta kewajiban melaksanakan yang diperintahkan Al Quran berkaitan dengan ibadah dan muamalah. Demikian dijelaskan oleh Syeikh Wahbah Az Zuhaily dalam tafsirnya Al Munir.

Sehingga banyak ulama memahami ayat tersebut sebagai perintah untuk terus menerus memelihara moderasi. Berada pada jalan pertengahan diantara dua ekstrem, tidak melampaui batas dan tidak juga menguranginya demikian penjelasan Mufassir nusantara Prof. Dr. M. Quraish Shihab.

Istiqamah berarti konsistensi dalam memercayai, memelihara, dan mengamalkan serta mengajarkan tuntunan-tuntunan agama.

Inilah kiranya mengapa ayat ini begitu berat untuk diamalkan. Sebab kita dituntut terus menerus istiqamah melaksanakan ajaran dan tuntunan agama sebagaimana diperintahkan (la ifrath wa la tafrith).

Rasul saw bersabda mengenai ayat ini,

«شيبتني سورة هود»

“Surah ini membuat aku beruban”, bahkan dalam riwayat yang lain disebutkan waktu turunnya ayat ini beliau bersabda” Bersungguh-sungguhlah, dan sejak itu tidak pernah lagi beliau terlihat tertawa terbahak (HR. Ibnu Abi Hatim dan Abu As Syeikh).

Hal ini menggambarkan betapa berat siapapun yang berprinsip moderat. Sebab bergeser saja sedikit ke kanan atau ke kiri, ia sudah bisa dikatakan tidak lagi di tengah, atau bisa masuk dalam kategori ekstrem.

Ini berbeda dengan pandangan barat tentang ekstrem dimana orang belum dikatakan ekstrem bila belum melenceng jauh dari tengahnya, yaitu berada di pojok kanan atau di pojok kiri.

Istiqamah Perlu Ilmu dan Kontrol Diri

Agar tidak ifrath dan tafrith mau tidak mau, suka tidak suka harus memiliki ilmu dan pengetahuan yang cukup serta pemahaman yang benar. Sehingga tidak bicara atau menjawab sesuatu yang tidak diketahuinya.

Ilustrasi olah raga angkat besi. Foto: Victor Freitas.

Selain tidak ekstrem kanan maupun kiri. Sikap dan kemampuan untuk mengendalikan diri mutlak diperlukan. Apalagi manusia memiliki hawa nafsu dan dorongan-dorongan (nafsu ammarah) yang bisa menggelincirkan. Sebab tak jarang orang yang berilmu sekalipun tapi tanpa kontrol emosi keagamaan yang baik sangat berpotensi ekstrem.

Istiqamah dan Dzikrullah

Lalu, sikap selalu waspada dan ingat Allah adalah cara agar istiqamah itu berhasil. Karena dengan dzikir dalam setiap keadaan maka qalbu menjadi tenang dan tentram. Manusia amat potensial menuruti hawa nafsunya dan dalam bisikan dan tipu daya setan. Dzikirullah ialah benteng diri sekaligus cara untuk selalu dalam hubungan (konektivitas) dengan Allah Swt.

فَٱذۡكُرُواْ ٱللَّهَ قِيَٰمٗا وَقُعُودٗا وَعَلَىٰ جُنُوبِكُمۡۚ

ingatlah Allah ketika kamu berdiri, pada waktu duduk dan ketika berbaring. (QS. An-Nisa’: 103).

Dzikir sangat bermanfaat untuk menunjang performa dan kualitas diri. Yakni dengan membersihkan qalbu dari kotoran dan penyakitnya, sehingga yang timbul darinya ialah kesucian.

Bahkan Nabi mengajarkan agar kita selalu terhubung dengan Allah memohon petunjuk-Nya. Yakni selalu melakukan istikharah dalam segala hal.

Sedangkan istikharah memohon kepada Allah agar dipilihkan yang terbaik. Ini selaras dengan moderasi yang bertujuan selalu memilih yang terbaik dari sesuatu.

Adil Itu Berat

Meski begitu, pertengahan atau moderasi tak melulu di tengah. Moderasi juga disebut dalam ayat lain dengan kata washatan.

وَكَذَٰلِكَ جَعَلۡنَٰكُمۡ أُمَّةٗ وَسَطٗا لِّتَكُونُواْ شُهَدَآءَ عَلَى ٱلنَّاسِ وَيَكُونَ ٱلرَّسُولُ عَلَيۡكُمۡ شَهِيدٗاۗ

Dan demikian pula Kami telah menjadikan kamu (umat Islam) ”umat pertengahan” agar kamu menjadi saksi atas (perbuatan) manusia dan agar Rasul (Muhammad) menjadi saksi atas (perbuatan) kamu. (QS. Al-Baqarah: 143).

Imam at Thabari cenderung menempatkan kata al washat yang terdapat dalam 13 riwayat itu bermakna Al adlu (adil). Ini disebabkan hanya orang-orang yang adil saja yang bisa bersikap seimbang dan bisa disebut sebagai orang pilihan.

Salah satu contoh, misalnya perasaan benci tidak boleh menghalangi kita dari berbuat yang tidak adil. Islam sangat fair dalam menilai dan menyikapi sesuatu.

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ كُونُواْ قَوَّٰمِينَ لِلَّهِ شُهَدَآءَ بِٱلۡقِسۡطِۖ وَلَا يَجۡرِمَنَّكُمۡ شَنَـَٔانُ قَوۡمٍ عَلَىٰٓ أَلَّا تَعۡدِلُواْۚ ٱعۡدِلُواْ هُوَ أَقۡرَبُ لِلتَّقۡوَىٰۖ وَٱتَّقُواْ ٱللَّهَۚ إِنَّ ٱللَّهَ خَبِيرُۢ بِمَا تَعۡمَلُونَ

Wahai orang-orang yang beriman! Jadilah kamu sebagai penegak keadilan karena Allah, (ketika) menjadi saksi dengan adil. Dan janganlah kebencianmu terhadap suatu kaum mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah. Karena (adil) itu lebih dekat kepada takwa. Dan bertakwalah kepada Allah, sungguh, Allah Mahateliti terhadap apa yang kamu kerjakan. (QS. Al-Ma’idah: 8).

Jadi istiqamah untuk senantiasa berbuat adil dalam aneka perbuatan dan ucapan maupun gerak gerik hati. Inilah yang menjadikannya amat berat. Sehingga kita selalu berdoa minimal 17 kali sehari, memohon petunjuk dan bimbingan Allah agar diantar dalam jalan yang lurus.

ٱهۡدِنَا ٱلصِّرَٰطَ ٱلۡمُسۡتَقِيمَ

Tunjukilah kami jalan yang lurus (QS. Al-Fatihah: 6).

Inilah beratnya peran dunia pendidikan, bagaimana mewujudkan manusia-manusia yang istiqamah dalam berbagai bidang dan perannya.

Penulis: Saepuloh
Pemerhati Pendidikan Islam

Comments are closed.