Muslim Berpendidikan Untuk Moderasi Beragama

Alhamdulillah wa syukrulillah Negara kita, Indonesia sudah berusia 75 (Tujuh Puluh Lima) tahun. Tentunya untuk ukuran umur tersebut sudah cukup matang bagi suatu negara dalam menjalankan eksistensinya. Sehingga sudah sepatutnya Indonesia senantiasa mengukur bagaimana ketercapaian tujuan dalam bernegara maupun berbangsa.

Selama 75 tahun setelah kemerdekaan, tentunya sudah banyak momentum-momentum yang dilalui negara kita, baik suka maupun duka. Dan sudah sepatutnya bagi kita sebagai bangsa untuk senantiasa bersyukur kepada Allah Swt atas kondisi tersebut.

Bagaimanakah caranya? yakni dengan tetap senantiasa mengisi kemerdekaan negara kita ini dengan berbagai kemaslahatan. Hal ini mengingat ada target besar yang sudah didesain oleh bangsa ini. Ketika umur negara ini genap 100 tahun, negara ini harus menjadi negara yang berkemajuan sesuai dengan motonya yaitu INDONESIA EMAS.

Adapun salah satu cara agar INDONESIA EMAS tersebut dapat tercapai adalah dengan menciptakan Sumber Daya Manusia (SDM) yang berkualitas baik secara Intelektual, Emosional maupun Spiritual.

Muslim Berpendidikan

Agama Islam adalah agama yang sangat menjunjung tinggi nilai-nilai pendidikan bagi pemeluknya. Sebagaimana Allah Swt berfirman kepada Rasulullah Saw ketika pertama kali dengan perintah yang sangat sarat dengan nilai-nilai pendidikan.

“Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang menciptakan. (QS. Al-Alaq:1).

Dalil tersebut menerangkan bahwasanya setiap muslim untuk berpendidikan. Karena dengan pendidikan, seorang muslim akan beridentitas sebagai penebar kemasalahatan bagi kehidupan. Dan dengan pendidikan seorang muslim akan berkontribusi dalam mendukung pembangunan negara.

Namun akan selalu menjadi pertanyaan, bagaimanakah kiranya kiat-kiat seorang muslim agar dapat menjadi insan yang berpendidikan?

Jawabannya adalah bahwasanya setiap muslim harus dapat menciptakan keseimbangan di setiap elemen yang melekat pada nilai-nilai Intelektual, Emosional maupun Spiritual. Hal ini dikarenakan dengan adanya keseimbangan tersebut akan menciptakan harmonisasi, dan dengan adanya harmonisasi tersebut, maka seorang muslim akan menciptakan karakter berpendidikannya.

Moderasi Beragama

Moderasi beragama adalah menghayati dan menerapkan nilai-nilai agama dengan porsi yang berimbang tanpa ditambahkan ataupun dikurangi.

Adapun tujuan utama moderasi beragama adalah untuk menciptakan harmonisasi kehidupan beragama. Sehingga dengan adanya moderasi beragama, maka tujuan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara akan tercapai.

Di dalam Islam, Moderasi Beragama merupakan perintah dari Allah Swt. Sebagaimana firman Allah Swt: “Dan demikian (pula) Kami telah menjadikan kamu (umat Islam), umat yang adil dan pilihan agar kamu menjadi saksi atas (perbuatan) manusia dan agar Rasul (Muhammad) menjadi saksi atas (perbuatan) kamu (QS: Al-Baqarah:143).

Makna kata “adil dan pilihan” menjurus kepada konsep moderasi beragama. Sebagaimana konsep tersebut akan lebih dikenal dengan “WASATHIYAH”. Sehingga di dalam Islam, konsep moderasi beragama disebut dengan “ISLAM WASATHIYAH”.

Adapun beberapa karakteristik seorang muslim yang ber-Islam Wasathiyah adalah Tawassuth (Di tengah-tengah), Tawazun (Berimbang), I’tidal (Tegak Lurus), Tasamuh (Toleransi).

Syarat utama seorang muslim untuk bisa dikatakan Ber-Islam Wasathiyah adalah bilamana seorang muslim tersebut sudah berpendidikan dan berpengetahuan.

Hal ini dikarenakan dengan adanya pengetahuan dan pendidikan, maka seorang muslim yang ber-Islam Wasathiyah tidak akan pernah meng-klaim bahwa pemikiran, sikap maupun tindakannya yang paling benar.

Selain itu juga dengan ber-Islam Wasathiyah, seorang muslim akan senantiasa menempatkan profesionalisme dalam menjalankan nilai-nilai Islam dalam kehidupannya, baik antar sesama muslim maupun antar sesama manusia.

Namun bukan berarti juga dengan ber-Islam Wasathiyah, seorang muslim menjadi tidak memiliki pendirian. Justru dengan ber-Islam Wasathiyah, seorang muslim akan menunjukan identitasnya sebagai bagian dari harmonisasi Islam agama yang rahmatan lil alamin. Bahkan untuk kehidupan berbangsa dan bernegara, seorang muslim yang ber-Islam Wasathiyah secara tidak langsung juga mengamalkan nilai-nilai Pancasila dan UUD 1945 sebagai dasar berbangsa dan bernegara. Wallahulam Bissawab.

Padlim Hanif (Kota Bengkulu)

Leave A Reply

Your email address will not be published.