Pancasila dan Ilmu Ikhlas

“Pancasila adalah Indonesia”, kalimat tersebut merupakan hukum yang tidak bisa diganggu gugat dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Bahkan sudah tidak bisa dibantahkan lagi, bahwasanya Pancasila merupakan dasar negara yang memiliki banyak sekali fungsi.

Adapun beberapa fungsi Pancasila antara lain: sebagai pandangan hidup (Way of Life), sebagai ideologi nasional, sebagai sumber hukum, sebagai jiwa dan kepribadian bangsa, maupun sebagai cita-cita dan tujuan bangsa.

Namun dalam proses kelahirannya, Pancasila mempunyai sejarah yang cukup berliku. Bukan hanya perihal bagaimana bisa mendapatkan momentum perumusannya, namun juga berhubungan dengan bagaimana para tokoh bersejarah seperti Ir. Soekarno, Moh. Yamin, Soepomo dan lain sebagainya, juga sangat alot dalam bertukar pikiran untuk  melahirkan dasar negara tersebut.

Adapun salah satu topik yang cukup alot tersebut adalah mengenai Sila pertama yang sebelumnya berbunyi “Ketuhanan yang maha esa dengan kewajiban Syariat Islam bagi para pemeluknya”

PERBEDAAN RUMUSAN DASAR NEGARA

Dalam sejarah nya, Sila pertama yang berbunyi “Ketuhanan yang maha esa dengan kewajiban Syariat Islam bagi para pemeluknya”, merupakan hasil dari kesepakatan Piagam Jakarta sebagai rumusan final dasar negara yang bernama Pancasila. Namun 7 (tujuh) kata yang berbunyi “……dengan kewajiban Syariat Islam bagi para pemeluknya”  menjadi trending topic diantara para tokoh bangsa pada saat itu. Hal ini disebabkan adanya aspirasi dari Indonesia Timur yang diwakilkan oleh Johannes Latuharhary yang menyampaikan keberatannya kepada Mohammad Hatta atas 7 (tujuh) kata tersebut.

Atas dasar keadaan tersebut, Mohammad Hatta pun segera mengajak diskusi kembali Ki Bagus Hadikusuma, KH. Wachid Hasyim, Mr. Kasman Singodimedjo sebagai perwakilan tokoh Islam agar mendapatkan titik temu yang diharapkan.

Meskipun cukup alot, namun pada akhirnya, disepakatilah redaksi Sila Pertama berubah menjadi “Ketuhanan yang Maha Esa”. Kondisi ini pun tentunya kembali menimbulkan pro dan kontra diantara para tokoh nasional.

Bahkan untuk hal yang paling ekstrim, diyakini bahwa timbulnya benih-benih pemberontakan Negara Islam Indonesia (NII) pun berawal dari dihapusnya 7 (tujuh) kata sila pertama Pancasila versi Piagam Jakarta tersebut.

ISLAM, IKHLAS DAN INDONESIA

Tercatat dalam sejarah, jika umat Islam memiliki jasa yang sangat besar bagi berdirinya Negara Indonesia yang kita cintai ini. Bahkan dalam hal perumusan Pancasila sebagai dasar negara, para tokoh negara yang mewakili umat Islam, memberikan ide-ide nya dengan berdasarkan ajaran Islam sebagai wujud semangat nasionalisme. Dan hal ini lah yang menjadi dasar bagaimana sila pertama Pancasila versi Piagam Jakarta berhasil dirumuskan.

Namun dalam kehidupan berbangsa dan bernegara tentunya juga terdapat dinamika. Sehingga diperlukan jiwa ikhlas yang luas sebagai wujud kenegarawanan, agar kepentingan umat Islam senantiasa terjaga.

Hal ini juga lah yang menjadi dasar pemikiran para tokoh negara yang mewakili Ummat Islam untuk ikhlas secara kenegarawanan dalam memandang polemik penghapusan 7 (tujuh) kata yang terdapat didalam Sila Pertama Pancasila.

Bahkan manfaat warisan ikhlasnya para tokoh Islam yang terlibat dalam perumusan dasar negara tersebut juga senantiasa bisa kita rasakan hingga saat ini. Adapun beberapa manfaat tersebut antara lain adalah untuk Persatuan dan Kesatuan Indonesia dan Dakwah Agama Islam

Dengan adanya keihklasan dari para tokoh Islam perumus dasar negara, Persatuan dan Kesatuan Indonesia dapat terjaga. Hal ini mengingat Bangsa Indonesia adalah bangsa yang penuh keberagaman, yang mana salah satu bentuk keberagaman tersebut adalah keberagaman agama. Sehingga diperlukan persatuan dan kesatuan untuk kekuatan bangsa, yang dilandasi dengan toleransi kehidupan beragama sebagaimana cerminan Sila Ketuhanan Yang Maha Esa.

Sebagaimana Allah SWT berfirman tentang pentingnya persatuan dan kesatuan:
Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai-berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika dahulu (masa Jahiliyah) bermusuh-musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena nikmat Allah orang-orang  yang bersaudara. (QS Ali Imran:103)

Selain daripada itu, dengan adanya keihklasan dari para tokoh Islam perumus dasar negara tersebut, juga memberikan dampak pada kegiatan dakwah agama Islam yang semakin berkembang di seluruh wilayah NKRI.

Hal ini dibuktikan dengan data yang menyatakan bahwasanya dari segi sebaran demografi sebagaimana hasil sensus penduduk tahun 2010, menyatakan sebanyak 87,18% penduduk Indonesia beragama Islam. Bahkan menurut Dewan Masjid Indonesia (DMI), untuk daerah Indonesia yang paling timur sekalipun, dalam hal ini adalah Kabupaten Merauke, sebanyak 60% penduduknya adalah beragama Islam.

PEMBELAJARAN

Rasulullah SAW bersabda: “Sesungguhnya Allah menolong umat ini dengan orang orang yang lemah dengan doa, shalat, dan keikhlasan mereka”. (HR Nasa’i 6/45).

Kita umat Islam Indonesia, hendaklah untuk senantiasa bersyukur kepada Allah SWT. Hal ini dikarenakan, sebagai bangsa yang besar kita memiliki para tokoh negara maupun para Ulama yang senantiasa meletakan nurani nya untuk kepentingan bersama. Sebagai salah satu buktinya adalah dalam sejarah perumusan Pancasila sebagai dasar negara.

Dengan melalui keikhlasan yang murni, para negarawan muslim kita berhasil memberikan contoh yang baik. Sehingga potensi perpecahan pun dapat dihindarkan. Bahkan pembelajaran yang terbaik adalah bahwasanya yang mayoritas harus mampu mengayomi minoritas agar minoritas senantiasa menghormati mayoritas, begitu pun sebaliknya.

Selain daripada itu, keikhlasan para tokoh muslim dalam perumusan pancasila tersebut juga merupakan salah contoh perilaku “Rahmatan Lil’Alamin” umatnya Rasulullah SAW.

Sebagaimana Allah SWT berfirman: “Kami tidak mengutus engkau, Wahai Muhammad, melainkan sebagai rahmat bagi seluruh manusia” (QS. Al Anbiya: 107)

Makna “rahmat bagi semesta alam” tentunya berhubungan erat dengan pemikiran, sikap, tindakan maupun watak yang melekat pada diri dan pribadi umat Islam sebagai wujud keimanan dalam meneladani Rasalullah SAW. Hal ini pun juga tentunya berlaku bagi umat Islam Indonesia.

Sebagaimana KH. Abdul Muchith Muzadi menyatakan: “bahwasanya Islam yang Rahmatan lil’alamin inilah yang semata merata dianut oleh kaum muslimin Indonesia sejak awal, berabad-abad yang lalu. Sampai sekarang, pada dasarnya kaum muslimin Indonesia berwatak seperti itu”. Dan sebagai generasi penerus marilah kita senantiasa meneladani prilaku Rahmatan lil’alamin yang sudah dicontohkan keikhlasan para pahlawan bangsa perumus pancasila tersebut. Wallahu A’lam Bishawab.

Penulis: Padlim Hanif (Kota Bengkulu)

Leave A Reply

Your email address will not be published.