Pendidikan Hati: Merenungkan Kembali Kebaikan yang Berujung Keburukan

Setiap manusia dibekali oleh Allah Swt secara otomatis bukan hanya nurani (ruhani) yang selalu membisikkan kebaikan-kebaikan, tetapi juga hawa nafsu yang selalu menggumamkan keburukan-keburukan.

Kerap kita mendengar istilah “human is between angle and demon” (manusia ada di antara malaikat dan iblis) untuk menggambarkan kondisi fitrah itu. Untuk apa ya? Liyabluwakum ayyukum ahsanu ‘amala, untuk menguji kalian siapa diantara kalian yang paling baik amalnya. (Surat al-Mulk (67): 2).

Pendidikan hati merupakan upaya menjaga kefitrahan hati dan membersihkannya dari penyakit hati, agar manusia memiliki iman yang kuat dan akhlak yang baik.

Hati yang cenderung kepada kejahatan harus segera diperbaiki. Sebagaimana isyarat dalam al-Quran, Maka apakah orang yang dijadikan (setan) menganggap baik pekerjaannya yang buruk lalu dia meyakini pekerjaan itu baik, (sama dengan orang yang tidak ditipu oleh setan)? (Surat al-Fathir [35]: 8).

Perbuatan yang dilakukan anggota tubuh berdasarkan atas tanda-tanda dari hati, karenannya hatilah yang harus diperbaiki, diluruskan, dan dilakukan penilaian atasnya. Sebagaimana Nabi Sabdakan, “Allah tidak memandang rupa dan harta benda kalian, melainkan memandang hati dan perbuatan kalian.”

Dalam pandangan Imam al-Ghazali, “jika manusia mengetahui hatinya, maka ia akan mengetahui dirinya; jika ia mengetahui dirinya, maka ia akan mengenal Tuhannya. Sebaliknya, jika manusia tidak mengetahui hatinya, maka ia tidak akan mengetahui dirinya; jika ia tidak mengetahui dirinya, maka ia tidak akan mengenal Tuhannya.”

Hampir kebanyakan manusia di dunia ini tidak memahami hatinya. Setelah mengenal hati, manusia akan sadar betapa penting mendidik hati. Hawa nafsu dan setan membujuk manusia melalui hatinya agar kufur dan beramal buruk. Sebagai usaha melindungi hati dari keduanya, dan menyucikan hati yang sudah dikuasai setan dan hawa nafsu, maka diperlukan pendidikan hati (tarbiyatul-qulub) meminjam istilah Ibnu Taimiyah, atau riyadhatul qulub; mujahadah al-nafs menurut istilah al-Ghazali, atau penyucian hati menurut istilah Hamka. Pendidikan jiwa merupakan pintu keberhasilan kita mencapai Allah, demikian Imam al-Ghazali.

Hal Ihwal Nafsu

Ihwal nafsu, al-Quran menginformasikan dalam surat Yusuf ayat 53 dengan peringatan, innan nafsa la-ammaratun bissu-iilla ma rahima rabbi, bermakna “sesungguhnya hawa nafsu selalu mendorong kepada keburukan kecuali yang dirahmati oleh Tuhanku….”

Mengapa, ya, hawa nafsu selalu disebut sebagai pendorong (sumber) bagi segala perilaku (termasuk pikiran) negatif, buruk, merusak kita. Pertanyaan tersebut akan tampak ambigu alias kontradiktif bila lebih lanjut dikaitkan dengan narasi-narasi besar atau kebiasaan-kebiasaan umum yang kita anut dan kita geluti hari ini.

Umpama, time is money (waktu adalah uang), no again without pain (tidak ada pengorbanan, tidak ada hasil), life is hard so take it so hard (hidup ini begitu sulit maka bekerja keraslah), hingga yang bernada kebajikan-kebajikan misal qulil haqqa walau kana murran (katakanlah yang benar walau itu pahit).

Bekerja kita tahu, merupakan salah satu fitrah hidup kita. Setidaknya kita akan sepakat membenarkannya kalau dihadapkan pada wujud kita yang membutuhkan asupan-asupan material yang kita penuhi melalui uang dan uang itu kita dapat dari kerja. Ia adalah kebaikan, tentu saja. Tetapi, adakah diantara kita yang gara-gara kegiatan bekerja yang mulanya fitri itu, malah lalu membawanya kepada mudharat, keburukan, dan kerusakan?

Ilustrasi.

Banyak. Misal, orang yang bekerja keras hingga alpa kepada kewajiban sosialnya, apalagi ibadahnya. Atas nama kerja keras, demi pendapatannya yang lebih besar, lalu dengannya bisa meraih banyak banyak hal yang dibutuhkan diri dan keluarga sehingga alpalah kita dari waktu. Ternyata bekerja yang mulanya fitrah bisa menjadi rusak kalu sudah dibelenggu oleh hawa nafsu.

Tamsil yang kasat mata, mudah sekali kita mengenalnya. Misal, memperturutkan berahi melalui pergaulan bebas dan zina, tidak mengeluarkan zakat dan sedekah karena kikir, atau memutus persahabatan hanya karena berbeda pandangan.

Menengok Keseharian Kita

Semua sepakat bahwa Istighfar itu bagus, sudah pasti. Katakanlah pada suatu malam gelap gulita, seorang diri, kita menekuk kepala beristighfar kepada Allah Swt hingga air mata kita menetes ke pipi, terasa hangat.

Lembaran dosa-dosa terkuak satu-satu di pelupuk mata. Itu adalah kemuliaan. Imam Sufyan ats-Sauri dalam Hilyatul Auliya’ sampai mengatakan bahwa tangisan hamba yang takut kepada Allah lebih mulia nilainya dibanding sedekah segunung emas.

Namun tak lama berselang, lama kelamaan kita merasakan gemelisir mulia, suci, bersih, di dalam jiwa. Kita mersakan diri ini telah sangat bersih, dekat dengan Allah Swt sambil merasa diri ini adalah hamba-Nya yang shaleh atau shalihah.

Inilah gemelisir kesombongan yang berhasil ditiupkan setan untuk menggoyangkan hati kita dengan condong kepada perayaan hawa nafsu. Hasilnya adalah keburukan. Hati kita merasa lebih bersih dibanding orang lain yang sedang tidur atau berdagang.

Ibnu Atha’illah as-Sakandari dalam al-Hikam mengingatkan: kesombongan paling sombong adalah merasa telah berbuat kebaikan.

Shalat subuh berjamaah di masjid tentunya luar biasa fadhilahnya, tanpa keraguan lagi. Bahkan ada hadis yng menyebutkan, sendainya kita tahu keutamaanya, pastilah kita akan rela untuk merangkat. Untuk bisa shalat subuh berjamaah di masjid, tantangannya sederhana yakni melawan rasa malas dan kantuk.

Hal demikian ringan saja sebenarnya justru yang berat ialah ketika pulang dari masjid. Adanya desir rasa di hati lebih baik, lebih shaleh, lebih alim, lebih ahli ibadah, lebih taat kepada Allah SWT dibanding orang-orang lain yang tidak berangkat ke masjid itulah yang paling berat.

Itu semua adalah deraan condongnya hawa nafsu. Dan ketahuilah bahwa iblis telah melakukannya pertama kali dulu hingga membuatnya diusir dari surga-Nya, bahkan dikutuk-Nya, juga digolongkannya ke dalam kaum kafir, (Surat al-A’raf (7): 12).

Penulis: Abdul Aziz P (Pascasarjana UIN Jakarta, Condet, Jakarta Timur)

Leave A Reply

Your email address will not be published.