Pendidikan Mesti Menumbuhkan Kepekaan

Sikap masa bodoh adalah sikap yang tidak disukai oleh Allah Swt. Ketidakpedulian terhadap sesama dan sikap acuh tak acuh terhadap lingkungan mencerminkan akhlak yang buruk.

Juga sikap yang tak merawat diri baik itu secara jasmani maupun rohani termasuk sikap abai yang mesti dihindari. Sikap ini bisa menunjukkan rendahnya kualitas kemanusiaan kita.

Jika sikap masa bodoh, tidak peduli, tidak mau memperhatikan, tidak mau memikirkan alias sikap ‘egp’ (emang gue pikirin) ini menghinggapi umat Islam, maka sulit terwujudnya khairu ummah (umat terbaik).

Sebab ciri dari khairu ummah ialah adanya kepedulian, perhatian dan kepekaan dari sesama muslim yang dibuktikan dengan amar ma’ruf nahyi munkar.

كُنتُمۡ خَيۡرَ أُمَّةٍ أُخۡرِجَتۡ لِلنَّاسِ تَأۡمُرُونَ بِٱلۡمَعۡرُوفِ وَتَنۡهَوۡنَ عَنِ ٱلۡمُنكَرِ وَتُؤۡمِنُونَ بِٱللَّهِۗ

Kamu (umat Islam) adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia, (karena kamu) menyuruh (berbuat) yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar, dan beriman kepada Allah. (Ali ‘Imran, Ayat 110).

Nabi sebagai teladan adalah sosok yang diistilahkan dalam Al Qur’an sebagai ‘azizun ‘alaihi ma ‘anittum, harishun ‘alaikum, bilmu’minin raufur rahim. Ketiga sifat itu menggambarkan tingginya kepedulian dan besarnya perhatian nabi kepada manusia.

لَقَدۡ جَآءَكُمۡ رَسُولٞ مِّنۡ أَنفُسِكُمۡ عَزِيزٌ عَلَيۡهِ مَا عَنِتُّمۡ حَرِيصٌ عَلَيۡكُم بِٱلۡمُؤۡمِنِينَ رَءُوفٞ رَّحِيمٞ

Sungguh, telah datang kepadamu seorang rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaan yang kamu alami, (dia) sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, penyantun dan penyayang terhadap orang-orang yang beriman. (Surat At-Taubah, Ayat 128).

Sejak awal Islam datang dibawa oleh Rasulullah Saw ialah untuk membenahi akhlak manusia. Agar bisa harmonis hidup berdampingan satu sama lain sekaligus menjadi pribadi yang rukun, damai serta bermanfaat.

Ada tujuan di balik penciptaan jin dan manusia, yakni beribadah. Beribadah bukan hanya dalam bentuk format ritual vertikal, tapi juga ibadah sosial horisontal.

Ibadah jenis kedua ini mengandalkan interaksi, relasi, sinergi dan kontribusi. Ada semangat persaudaraan yang dijalin, baik secara kemanusiaan, kebangsaan maupun keislaman. Bukan berarti hamba Allah itu yang individualistik, yang saleh secara ritual. Justru kesalehannya itu dibuktikan dengan perannya dalam realitas sosial.

Dengan kata lain bagaimana menjadi hamba Allah (abdullah) sekaligus berperan menjalankan kepemimpinan di bumi (khalifah fil ardh).

Perangkat Dari Allah

Allah telah menganugerahkan kepada manusia infrastruktur untuk mengabdikan diri kepada Allah. Sekaligus tools untuk menjadi khalifah di muka bumi berupa qulub (hati nurani), a’yun (mata), adzan (telinga).

Ketiga perangkat ini bisa menentukan kualitas dan kedudukannya di dunia maupun di akhirat. Semua tergantung bagaimana jin dan manusia mempergunakan perangkat tersebut.

Apabila pernagkat ini tidak dipergunakan dan dimanfaatkan sesuai tujuan penciptaannya maka bisa berakibat fatal yakni ditempatkan di neraka. Ini bisa kita cermati dari firman Allah Swt dalam surah Al-A’raf ayat 179.

وَلَقَدۡ ذَرَأۡنَا لِجَهَنَّمَ كَثِيرٗا مِّنَ ٱلۡجِنِّ وَٱلۡإِنسِۖ لَهُمۡ قُلُوبٞ لَّا يَفۡقَهُونَ بِهَا وَلَهُمۡ أَعۡيُنٞ لَّا يُبۡصِرُونَ بِهَا وَلَهُمۡ ءَاذَانٞ لَّا يَسۡمَعُونَ بِهَآۚ أُوْلَٰٓئِكَ كَٱلۡأَنۡعَٰمِ بَلۡ هُمۡ أَضَلُّۚ أُوْلَٰٓئِكَ هُمُ ٱلۡغَٰفِلُونَ

Dan sungguh, akan Kami isi neraka Jahanam banyak dari kalangan jin dan manusia. Mereka memiliki hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka memiliki mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengarkan (ayat-ayat Allah). Mereka seperti hewan ternak, bahkan lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lengah.

Ilustrasi. (Pixabay)

Dalam ayat tersebut Allah subhanahu wa ta’ala telah menetapkan, bahwa yang akan mengisi neraka nanti adalah mayoritas dari jin dan manusia.

Lalu jin dan manusia yang seperti apa?

Ada tiga kriteria, pertama mereka yang memiliki qalbu tapi tidak digunakan untuk berpikir. Kedua, mereka yang memiliki penglihatan tapi tidak mau mengamati dan mencermati. Ketiga, mereka yang memiliki pendengaran tapi tidak dimanfaatkan.

Mereka yang malas berpikir, malas mencermati, malas mendengar ayat ayat Allah baik yang tertulis (ayat Qur’aniyah) maupun ayat-ayat yang terhampar di muka bumi (ayat kauniyah) bisa lebih buruk dari binatang ternak. Oleh karenanya Nabi mengajarkan kita berdoa agar berlindung kepada Allah dari kemalasan.

Maka dari itu, proses pendidikan, pengasuhan, pengajaran harus melatihkan kepekaan berpikir (critical thinking), melihat dan mencermati (vision & observe), terbuka dan mencerna informasi dengan baik (listening). Yang mengantarkan para murid menjadi pribadi yang peka dan responsif.

Pendidikan yang menjadikan murid punya andil dan peran bermanfaat sesuai bidang dan potensinya masing-masing yang bersumber dari kejernihan qalbu. 

Misalnya dari hal yang sederhana sekali, seperti menjaga kebersihan lingkungan dengan membuang sampah pada tempatnya dan mau membantu orang tua di rumah.

Saepuloh
Pengamat Pendidikan Islam

Leave A Reply

Your email address will not be published.