Penjelasan Dr. Hasnida Tentang Adab Kepada Ulama

Akhlak merupakan inti dari bangunan Islam. Imam Al  Ghazali ketika membicarakan tentang akhlak membaginya dalam dua hubungan. Pertama, akhlak seorang hamba ketika berhubungan dengan Tuhannya (hablum minallah). Kedua, akhlak seorang hamba ketika berhubungan dengan sesama manusia (hablun minannas).

Kata akhlak diadopsi dari bahasa Arab khulq, diartikan sebagai perangai, tingkah laku, atau sikap seseorang. Ulama mendefinisikannya sebagai sikap dan tingkah laku yang menyatu dalam diri manusia lalu membentuk kepribadiannya. Akhlak terbentuk dalam jangka waktu panjang, melalui proses yang berulang-ulang.

Islam merupakan cerminan agama sekaligus cara hidup yang paling beradab. Mulai dari hajat hidup paling sederhana hingga hajat hidup paling kompleks. Islam sudah paripurna mengaturnya.

Akhlak serta perilaku umat Islam menjadi indikasi apakah umat Islam dekat dengan agamanya atau sebaliknya. “Agama adalah nasihat”, sewajarnya umat saling memberi nasihat dan bisa berlapang diri terhadap orang yang menasihati.

Para ulama sering mengingatkan, memberikan nasihat dan tausiyah pada kita. Tanpa lelah mereka berusaha menyelamatkan hidup kita dari kemaksiatan baik kita sadari maupun tidak. Mereka mencurahkan seluruh kemampuan untuk menggali ilmu kemudian menyampaikannya dengan bahasa yang mudah kita pahami.

Begitu besar jasanya, bagaimana seharusnya adab kita kepada ulama?

1. Mematuhi. Khalifah Harun Ar-Rasyid pernah mengutus wazir (pembantu) nya menghadap Imam Malik dan menyampaikan pesan agar Sang Imam mau datang kepadanya dan membacakan Kitab Al Muwattha untuknya. Imam Malik kemudian berkata, “Sampaikanlah salamku (untuk khalifah), katakan padanya bahwa ilmu itu dikunjungi, bukan mengunjungi, ilmu itu didatangi, bukan mendatangi”.

Sang Khalifah pun mematuhi kemudian datang untuk mendengarkan pembacaan kitab Muwattha. Tidak berhenti disitu, ia juga ditegur karena kedapatan duduk bersandar dalam majelis Sang Imam. Menurut Imam Malik, duduk bersandar dalam majelis ilmu bukanlah adab yang baik. Lagi-lagi, Sang Khalifah menurut tanpa mendebat, tanpa banyak alasan.

2. Memuliakan. Allah Subhanahu Wata’ala memuliakan orang-orang yang berilmu. Dalam Surat Al-Mujadalah ayat 11, bahwa Allah meninggikan orang-orang berilmu beberapa derajat. Ulama menjadi perpanjangan para nabi. Mereka mewarisi ilmu-ilmu yang dibawa oleh nabi dan rasul bukan untuk disombongkan, namun untuk disampaikan.

3. Menyayangi.  Menyakiti sesama muslim adalah akhlak tercela. Bahkan sesama muslim mutlak harus saling menyayangi. “Barangsiapa yang tidak menyayangi (orang yang beriman), maka dia tidak akan diberi rahmat.” (Muttafaq ‘alaih).

Apa jadinya jika kita menyakiti hati ulama?

Jika itu terjadi, kita sedang menabuh genderang perang kepada Allah Sang Pencipta Manusia. Salah satu hadist yang diriwayatkan dari Abu Hurairah, “Barangsiapa yang memusuhi kekasihKu, maka Aku memberitahukan padanya bahwa ia Kuperangi”.

Ikrimah, seorang thabi’in pun menyebutkan, “Janganlah kamu menyakiti ulama. Sebab, barangsiapa menyakiti ulama, berarti menyakiti Rasulullah.”

Ibnu Abdil Barr dalam Jami’ Bayan ilmi wa fadhlih 1/146 menjelaskan beberapa hak ulama. Apabila engkau mendatanginya, hendaklah engkau memberi salam kepadanya secara khusus dan terhadap yang lain secara umum. Duduk di hadapannya dengan penuh hormat, jangan menunjuk di hadapannya, jangan menggerakkan kedua matamu, dan jangan mengatakan ‘Fulan mengatakan pendapat yang berbeda dengan pendapatmu’.

Janganlah engkau memegang bajunya, terus menerus bertanya kepadanya. Sesungguhnya dia seperti kedudukan pohon kurma yang basah dan senantiasa terus berjatuhan sesuatu untukmu darinya.’

Akhlak adalah perbuatan yang tertanam dalam jiwa seseorang. Perbuatan yang dilakukan dengan mudah tanpa pemikiran dan timbul dari dalam diri yang mengerjakannya sehingga menjadi kepribadian.

Akhlak merupakan nilai diri seseorang. Hal itu melekat padu pada kepribadian, menjadikan seseorang terasa apik dan indah dalam prilaku dan pergaulan.

Agar bisa melekat dalam diri tidak cukup dengan sekedar membaca dan berteori. Imam Al Ghazali mengatakan ada 2 tahap. Attakhliyah (menghilangkan sifat buruk) dan Attahliyah (penghiasan diri dengan perangai baik). Upaya ini memerlukan pengetahuan, latihan, bimbingan dan lingkungan yang kondusif.

Kepribadian manusia ibarat kayu yang bisa digambar sesuai dengan keinginan sang pengukir. Jika diukir dengan baik, maka menjadi ukiran yang berkualitas. Namun jika diukir dengan asal-asalan akan menjadi sesuatu tak mempunyai nilai. Begitulah kepribadian manusia, sangat tergantung dengan upaya seseorang dalam membentuk dirinya.

Allah berfirman dalam Surat Asy-Syams ayat 7-10, “ Dan demi jiwa serta penyempurnaannya (ciptaannya), maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya. Sesungguhnya beruntunglah orang yang mensucikan jiwa itu, dan Sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya “.

(Dr. Hasnida M.Pd., Anggota Komisi Pendidikan & Kaderisasi MUI Pusat)

Leave A Reply

Your email address will not be published.