Program Doktor PKU MUI, Mencetak Ulama Masa Depan

Di era modern ulama tidak saja dituntut untuk menguasai ilmu-ilmu agama (ilmu al-Qur’an dan hadits) tapi juga dituntut untuk menguasai ilmu-ilmu atau pengetahuan umum.

Untuk alasan itu, Majelis Ulama Indonesia (MUI) bekerja sama dengan Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) dan Kementerian Agama (Kemenag) untuk memberikan beasiswa kepada sejumlah mahasiswa program doktoral menempuh pendidikan di UIN Jakarta dan IIQ Jakarta.

Saat ini, peserta program berjumlah total 29 orang yang berasal dari berbagai wilayah di Indonesia. Dengan rincian 20 orang mendapat program beasiswa dari Baznas, 9 orang lainnya dari Kemenag.

Beberapa di antaranya, setidaknya 2 orang, bakal segera meraih gelar doktor dalam waktu dekat. Mereka menempuh studi di berbagai bidang keilmuan di dua perguruan tinggi tersebut.

Komisi Pendidikan dan Kaderisasi Majelis Ulama Indonesia (KPK-MUI) menyelenggarakan kegiatan pembinaan secara daring (online) kepada para mahasiswa program S3 Pendidikan Kader Ulama (PKU) dimulai pada Jumat, 26 Juni 2020, dengan tujuan selain berkordinasi terkait program studi yang tengah dijalankan juga memberikan motivasi agar segera menyelesaikan pendidikannya.

Dalam sambutan kegiatan tersebut, Sekjen MUI Dr. Anwar Abbas, MA., MAg, menjelaskan bahwa ide dasar dari program tersebut adalah karena adanya kekhawatiran kurangnya kader ulama.

“Sebab ulama yang kita inginkan sekarang, berbeda dengan ulama di masa lalu,” jelas Buya Anwar Abbas.

Menurutnya, ulama pada masa awal mereka menguasai ilmu secara komprehensif, tidak saja pengetahuan tentang Islam tapi juga ilmu-ilmu umum.

Tapi memasuki abad ke-20, penguasaan keilmuan Muslim mengalami dikotomi. Ada Muslim yang menguasai ilmu agama tetapi tidak menguasa ilmu umum, begitupun sebaliknya.

“Sangat sering ditemukan kesan adanya benturan (ilmu agama dan umum) sehingga agama dianggap sebagai penghambat kemajuan,” bebernya.

Padahal, menurut Buya Anwar Abbas, anggapan tersebut tidaklah benar. Namun demikian, pada kenyataannya memang dunia Islam dengan umat yang begitu banyak tidak lebih maju dari kelompok lain.

Oleh karena itu, ia menyarankan agar ulama di zaman modern tidak hanya paham al-Qur’an secara mendalam, tapi juga memahami ilmu umum (ilmu alam). Begitupun dengan muslim yang menguasai ilmu umum, harus mempunyai pemahaman yang dalam terhadap ilmu al-Qur’an.

Menurutnya, Allah Swt. menurunkan ayat-ayat dalam bentuk qauliyyah (al-Qur’an) dan ayat-ayat kauniyah (tentang alam).

“Kita harus menguasai ayat-ayat kauniyah itu, tapi harus selalu dikaitkan dengan Allah Swt.”

Ia mencontohkan, sistem ekonomi dan bisnis kita hari ini hanya berlandaskan pada ayat-ayat kauniyah (ilmu pengetahuan umum), tapi belum dikaitkan dengan Allah Swt. Musababnya adalah, karena sedikitnya pengusaha atau pebisnis dari kalangan Muslim yang mampu mengintegrasikan ayat-ayat qauliyah dengan kauniyyah.

Buya Anwar Abbas menambahkan, umat Islam menjadi terbelakang dari umat lain karena meninggalkan ajaran-ajaran agamanya sendiri. Padahal banyak penelitian ilmiah bahkan yang dilakukan dunia Barat, membuktikan bahwa ajaran yang dibawa oleh Rasulullah Saw. itu adalah ajaran yang benar. Misalnya, soal larangan riba dalam berbisnis.

“Maka, untuk menjadi umat Islam yang maju solusinya adalah kembali kepada ajaran Islam,” tandasnya.

Kader MUI di Pusat dan Daerah

Sementara itu, Prof. Dr. Armai Arif selaku ketua tim pengelola program doktoral ini, berupaya agar kerja sama program tersebut terus ditingkatkan, baik dari segi kualitas maupun kuantitas.

“Berikutnya, kita akan merekrut dan menganggarkan angkatan kedua dari Baznas,” kata Prof. Armai.

Ia menjelaskan, untuk program angkatan pertama mahasiswa S3 ini menempuh studi di berbagai disiplin ilmu, dari pendidikan Islam, Hukum Islam atau Syariah, Ekonomi, Dakwah, hingga Politik.

“Mereka mengikuti semua mata kuliah sesuai konsentrasi masing-masing, hanya saja bedanya, merekla mendapat tambahan mata kuliah ke-MUI-an, yang dinamakan mata kuliah Pembangunan Pemikiran Kontemporer tentang Fatwa, Pendidikan, Dakwah, Hukum, Politik, Ekonomi, Zakat dan Wakaf,” jelasnya.

Nantinya, para lulusan program doktoral ini diharapkan bisa menjadi kader ulama yang terlibat dalam kepengurusan MUI baik di pusat maupun daerah.

Rektor UIN Jakarta Prof. Dr. Amani Lubis, yang memberi sambutan dalam kegiatan pembinaan tersebut berpesan agar para mahasiswa menjalankan disiplin yang ketat dan keseriusan dalam menyelesaikan program doktoralnya.

“Niatkan 2 tahun selesai, untuk doktoral, lebih bagus lulus cepat, secepatnya,” tegasnya.

Menurutnya, menempuh program doktoral (S3) harus memiliki pola pikir atau paradigma yang berbeda dengan ketika menempuh S1 dan S2.

“S3 beda sekali. Harus mampu melakukan lompatan-lompatan pemikiran,” bebernya.

Ia juga berpesan, para peserta Program S3 dari MUI harus memasang target tinggi, misalnya untuk menjadi mufti level internasional, minimal nasional.

“Target kita harus setinggi-tingginya, kuncinya adalah banyak membaca,” sarannya.

Program pembinaan mahasiswa program doktoral yang diselenggarakan KPK-MUI, merupakan inisiatif di tengah pandemi Covid-19 yang masih berlangsung.

Acara diselenggarakan secara daring selama tiga hari, mulai Jumat tanggal 26 hingga Ahad tanggal 28 Juni 2020, dengan menghadirkan para pembicara pakar yang kompeten di berbagai bidang, khususnya yang terkait dengan ke-MUI-an.

Leave A Reply

Your email address will not be published.