Puasa dan Pendidikan Nasional

Dalam Undang-Undang RI Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sisdiknas (Sistem Pendidikan Nasional) Bab II Pasal 3 disebutkan, “Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.”

Undang-undang Sisdiknas tersebut menegaskan di awalnya bahwa tujuan pendidikan nasional agar peserta didik menjadi manusia yang beriman dan bertakwa. Ini selaras dengan salah satu tujuan orang berpuasa yakni agar manusia bertakwa.

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ كُتِبَ عَلَيۡكُمُ ٱلصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى ٱلَّذِينَ مِن قَبۡلِكُمۡ لَعَلَّكُمۡ تَتَّقُونَ

Wahai orang-orang yang beriman! Diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang sebelum kamu agar kamu bertakwa, (QS. Al-Baqarah: 183).

Puasa (ash shiyam) dalam Tafsir As Sa’di disebutkan ialah sebab terbesar orang bisa menjadi bertakwa. Alasannya karena ketika seseorang berpuasa, ia melaksanakan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya.

Ketika berpuasa ia mampu meninggalkan yang diharamkan seperti makan, minum, jima’ dan lain sebagainya padahal manusia amat cenderung padanya. Tapi demi mendekatkan diri kepada Allah dan mengharapkan balasan-Nya ia tahan itu semua, inilah taqwa.

Orang yang berpuasa juga kata Syekh As Sa’di, melatih diri untuk senantiasa dalam muraqabatullah (pengawasan Allah). Meninggalkan hasrat gejolak hawa nafsunya sesuai kemampuannya dengan menyadari kehadiran Allah dalam setiap gerak geriknya.

Dengan berpuasa juga akan berdampak pada penyempitan jalur setan. Karena setan beroperasi melalui aliran darah anak Adam. Dengan begitu maksiat jadi berkurang. Oleh karenanya orang yang berpuasa itu biasanya lebih taat dan ini adalah sifat dan kebiasaan orang yang bertaqwa.

Misalnya orang kaya yang berpuasa kemudian ia merasakan perihnya lapar. Dengan begitu ia jadi sering menyenangkan orang yang faqir dengan bersedekah dan memberikan makanan kepada mereka karena tahu bagaimana rasanya lapar. Ini jadi bagian dari bertaqwa, hikmah dari berpuasa.

Dengan demikian, tujuan dari sistem pendidikan nasional yakni berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, sekali lagi, sebenarnya bisa terbantu wujudnya dengan puasa.

Puasa Menyehatkan Mental

Salah satu problematika peserta didik ialah pada kesehatan mental yang terganggu. Entah itu karena tekanan, depresi, kecemasan atau stres menghadapi sekolah atau memenuhi tuntutan pergaulan. Belum lagi kenakalan remaja yang tidak jauh dari seks bebas dan narkoba.

Dengan berpuasa, peserta didik bisa diperbaiki kesehatan mentalnya. Sebab hasil studi menyebutkan bahwa selain baik untuk kesehatan jasmani, puasa sangat berpengaruh baik terhadap kesehatan mental.

Foto: Pixabay.

Rasul Saw juga sudah menganjurkan kepada generasi muda untuk berpuasa ketika tak mampu menahan gejolak hawa nafsu dan syahwat.

يَا مَعْشَرَ الشَّبَابِ، مَنِ اسْتَطَاعَ مِنْكُمُ الْبَاءَةَ ؛ فَلْيَتَزَوَّجْ، فَإِنَّهُ أَغَضُّ لِلْبَصَرِ، وَأَحْصَنُ لِلْفَرْجِ، وَمَنْ لَمْ يَسْتَطِعْ ؛ فَعَلَيْهِ بِالصَّوْمِ ؛ فَإِنَّهُ لَهُ وِجَاءٌ

Wahai para pemuda siapa diantara kalian yang memiliki pembiayaan maka menikahlah. Karena ia dapat menahan pandangan dan menjaga kemaluan. Siapa yang belum mampu, hendaknya dia berpuasa karena itu menjadi tameng baginya (HR. Muslim).

Puasa menjadi tawaran solusi dari Nabi Saw untuk memperbaiki kualitas generasi muda. Dengan berpuasa peserta didik melatih dan mengontrol diri, mengendalikan hawa nafsu syahwatnya, merasa dalam pengawasan Allah. Sehingga dengan rahmat-Nya menghasilkan generasi muda yang sehat secara mental dan kuat secara spiritual menghadapi tantangan zaman.

Penulis: Saepuloh
Pemerhati Pendidikan Islam

Leave A Reply

Your email address will not be published.