Ramadhan dan Anak Usia Dini

Ramadhan tahun ini akan berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya. Umat Islam di seluruh dunia akan melaksanakan ibadah Ramadhan di tengah mewabahnya virus Corona. Namun demikian, umat muslim tetap bersuka cita menyambut datangnya bulan penuh berkah ini.

Datangnya bulan Ramadhan, membawa perubahan rutinitas di setiap rumah tangga muslim. Terlebih lagi di saat Pandemi Covid-19. Perubahan pada waktu makan dan kegiatan shalat berjamaah yang akan dilakukan di rumah. Aktivitas ini akan menjadi pelajaran berharga bagi anak usia dini.

Momentum Ramadhan bagi anak usia dini adalah pengenalan dan pembiasaan ajaran agama. Pelaksanaan puasa bagi anak usia dini hukumnya tidaklah wajib, namun pengenalan dan pembiasaan menjadi awal pembelajaran beragama bagi anak.

Usia Taman Kanak-Kanak (4-5 tahun) adalah usia yang tepat belajar berpuasa bagi anak, bisa dilakukan secara bertahap, misalnya sebatas setengah hari. Pembiasaan dapat diperkuat dengan pemberian reward seperti memilih menu buka puasa, sehingga anak termotivasi melakukannya sampai selesai.

Pengenalan agama sedini mungkin penting dilakukan agar saat memasuki aqil baligh anak telah terbiasa dan tahu bagaimana melakukannya. Bukan hanya itu, anak tidak canggung dan merasa terpaksa melakukannya. Lebih enjoy.

Anak usia dini belajar dari apa yang ia lihat, dengar dan rasakan. Puasa, shalat tarawih berjamaah bersama keluarga di rumah akan menjadi pengalaman relegius yang akan terbawa sampai dewasa.

Mengenalkan ajaran agama kepada anak usia dini harus disesuaikan dengan perkembangan aspek-aspek psikologisnya, diantaranya perkembangan kemampuan berpikir (kognisi). Menurut Jean Piaget (Psikolog dari Perancis), semua anak memiliki pola perkembangan kognisi yang sama, yaitu melalui empat tahapan : Sensori-Motor, Pra-Operasional, Konkret-Operasional dan Formal Operasional.

Perkembangan kognisi anak usia dini (2-7 tahun) berada pada tahapan berpikir “Pra operasional”. Tahap Pra Operasional adalah tahap anak tidak dapat memahami sesuatu tanpa dipraktekkan terlebih dahulu (Piaget, 1970).

Sejalan dengan pendapat Piaget, Jean Jacques Rousseau, mengatakan, “Anak usia dini belajar melalui aktivitas fisiknya.” Dengan kata lain, untuk mengenalkan ajaran agama kepada anak usia dini, harus dengan cara memberikan kesempatan kepadanya mempraktekkan apa yang kita katakan. Memberikan contoh adalah cara terbaik.

Orangtua bisa memberikan contoh saat aktivitas santap sahur hingga berbuka puasa, dan shalat tarawih berjamaah. Lakukan bersama dengan seluruh anggota keluarga.

Orangtua juga harus kreatif menciptakan suasana yang menyenangkan bagi anak, seperti mengajak memilih menu dan memasak makanan bersama untuk santap sahur dan berbuka puasa. Pemberian reward bila anak ikut berpuasa dan melakukan aktivitas ibadah lainnya.

Dr. Abdullah Nashih Ulwan, dalam bukunya yang berjudul Potensi Ruhaniah (Spiritual) Anak dalam Pembentukan Generasi Takwa dan Kreatif membagi lima metode yang harus dilakukan orang tua dalam mengajar anak melakukan kegiatan keagaaman atau beribadah. Kelima metode tersebut adalah Keteladanan, Pembiasaan, Pemberian nasihat, Pengawasan dan Pemberian hukuman.

Anak-anak muslim India. Foto: Adam Jones.

Pemaksaan maupun ancaman sangat tidak dianjurkan. Pemberian nasihat, pengawasan dan pemberian hukuman (bukan hukuman fisik), dapat dilakukan untuk mengontrol perilaku anak apabila ada yang tidak sesuai dengan ajaran agama.

Orangtua dapat menegur anak apabila melakukan sesuatu suatu kesalahan. Hal ini penting agar anak paham jika yang dilakukannya itu tidak baik dan tidak boleh diulangi lagi. Namun, anak juga harus diberikan pujian apabila ia dapat melakukan kegiatan itu dengan baik, sekecil apapun.

Maafkan jika anak melakukan kesalahan. Berikan kesempatan untuk memperbaiki, jangan membebani aktivitas yang diluar batas kemampuannya. Tidak ada anak yang bodoh, orangtua harus bijak dan jeli mengembangkan setiap potensi yang ada pada diri anak.

Anak adalah amanah, generasi penerus dan agen yang akan membawa perubahan di masa akan datang. Anak-anak tidak hanya harus dijaga dengan baik tetapi juga dididik secara Islami. Cara dan gaya mendidik anak akan sangat menentukan hidup si anak hingga dewasa kelak. Oleh karena itu, setiap orangtua harus memberikan bekal agama yang cukup untuk kehidupan anak dimasa depan.

(Dr. Hasnida M.Pd., Anggota Komisi Pendidikan & Kaderisasi MUI Pusat)

Leave A Reply

Your email address will not be published.