Ramadhan dan Kesalehan Sosial

Kita sudah masuk di penghujung Ramadhan. Masih ada waktu untuk meningkatkan ibadah sebagai wujud rasa syukur kepada-Nya. Tentu, ibadah atas dasar keikhlasan dan kepasrahan lebih nikmat dibandingkan atas dasar keterpaksaan dan kesombongan.

Ramadhan di rumah tidak berarti ibadah melemah. Umat Islam di seluruh dunia menyambut gembira kedatangan bulan maghfirah meskipun di tengah wabah Covid-19. Masyarakat di pedalaman hingga di perkotaan antusias memaksimalkan Ramadhan untuk meningkatkan keshalehan individu dan sosial. Terlebih lagi di 10 hari terakhir, banyak keistimewaan yang dijelaskan baik di dalam quran dan hadits.

Ada bentuk kesalehan individu dan sosial dalam meningkatkan keimanan dan ketakwaan kepada Allah Swt. Pertama, ibadah puasa karena Allah. “Barang siapa berpuasa Ramadhan atas dasar iman dan mengharap pahala dari Allah, maka dosanya yang telah lalu akan diampuni.” (HR. Bukhari no. 38 dan Muslim no. 760).

Puasa atas dasar iman karena meyakini akan kewajiban puasa. Sedangkan yang dimaksud “ihtisab” adalah mengharap pahala dari Allah Ta’ala.

Sementara al-Khattabi berkata, “Yang dimaksud ‘ihtisab’ terkait niat yaitu berpuasa dengan niat mengharap balasan baik dari Allah. Jika seseorang berniat demikian, ia tidak akan merasa berat dan tidak akan merasa lama ketika menjalani puasa.” (Lihat Fathul Bari, 4: 115).

Puasa mencerminkan kepedulian diri dan kesolidaritasan terhadap sesama. Sikap dan perilaku ini harus terus ditingkatkan layaknya bangunan yang kokoh dan kuat. Rasulullah Saw, bersabda; “Orang mukmin dengan mukmin yang lain seperti sebuah bangunan, sebagian menguatkan sebagian yang lain.” [Shahih Muslim No.4684].

Sementara firman Allah swt dalam Surat Al-Maidah Ayat 8; “Hai orang-orang yang beriman hendaklah kamu jadi orang-orang yang selalu menegakkan (kebenaran) karena Allah, menjadi saksi dengan adil. Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap sesuatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa. Dan bertakwalah kepada Allah, Sesungguhnya Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan”. (Qs. al-Maidah [05]:8).

Setidaknya ada 3 manfaat berpuasa; fâ’idah rûhiyyah (manfaat psikologis/ spiritual/kejiwaan), fâ’idah ijtimâ’iyyah (manfaat sosial-kemasyarakatan) dan fâ’idah shihhiyyah (manfaat kesehatan).

Faedah kejiwaan adalah pembiasaan berlaku sabar, mengekang hawa nafsu, agar takwa tertanam dalam hati sanubari. Takwa menjadi tujuan khusus berpuasa. Faedah sosial kemasyarakatan adalah pembiasaan hidup tertib, disiplin, bersatu padu, cinta keadilan dan kesetaraan dengan sesama tanpa memandang status sosialnya.

Sementara manfaat kesehatannya antara lain membersihkan sistem pencernaan dan kesehatan organ tubuh. Puasa juga memperbaiki metabolisme tubuh sehingga orang akan lebih sehat.

Kedua, Sepuluh hari terakhir Ramadhan membebaskan kita dari siksa api neraka (itqun minannar). Hadits riwayat al-Baihaqi, “Awal bulan Ramadhan adalah rahmat, pertengahannya adalah ampunan, sedangkan akhirnya adalah terbebas dari siksa api neraka”.

Sebagian menganggap hadits ini dhaif (lemah). Namun hadits ini memiliki makna yang baik (positif), menyeru umat meningkatkan kualitas ibadah termasuk beramal shaleh.

Masa 10 hari terakhir ada satu malam istimewa yang lebih mulia dari pada 1000 bulan, yakni malam Lailatul Qadar. Dari ‘Aisyah Radhiyallahu anha , dia berkata: “Wahai Rasulullah, beritahukan kepadaku, jika aku menemui malam al-qadr, doa apa yang akan aku katakan?” Beliau menjawab: “Katakanlah, Allahuma innaka ‘afuwwun tuhibbul ‘afwa fa’fu ‘anni (Wahai Allah, sesungguhnya Engkau Maha Pemberi maaf, Engkau suka memberi maaf, maka maafkanlah aku)”.

Lailatul Qadar dinantikan berbagai oleh pelbagai kalangan tua, muda, remaja, bahkan kanak-kanak sekalipun. Menurut hadits Ubadah bin Ash-Shamit, keutamaan dan tanda-tandanya sebagai berikut:

“Sesungguhnya Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam bersabda: “Lailatul Qadr (terjadi) pada sepuluh malam terakhir. Barang siapa yang menghidupkan malam-malam itu karena berharap keutamaannya, maka sesungguhnya Allah akan mengampuni dosa-dosanya yang lalu dan yang akan datang. Dan malam itu adalah pada malam ganjil, kedua puluh sembilan, dua puluh tujuh, dua puluh lima, dua puluh tiga atau malam terakhir di bulan Ramadhan,” dan Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam bersabda: “Sesungguhnya tanda Lailatul Qadar adalah malam cerah, terang, seolah-olah ada bulan, malam yang tenang dan tentram, tidak dingin dan tidak pula panas. Pada malam itu tidak dihalalkan dilemparnya bintang, sampai pagi harinya. Dan sesungguhnya, tanda Lailatul Qadr adalah, matahari di pagi harinya terbit dengan indah, tidak bersinar kuat, seperti bulan purnama, dan tidak pula dihalalkan bagi setan untuk keluar bersama matahari pagi itu.”

Ketiga, Nuzul Qur`an, kesalehan sosial. Peristiwa diturunkannya al-qur`an bagian dari kepedulian sosial untuk menjaga dan memelihara peradaban Islam. Banyak sosiolog, filsuf bahkan sejarawan termasuk ahli politik muslim seperti Ibnu Khaldun konsisten membumikan al-Qur`an sejalan dengan prinsip Islam.

Sudah seharusnya umat muslim membudayakan baca al-Qur`an sebagai pedoman hidup. Hikmah nuzulul quran juga dapat mengubah perilaku manusia menjadi seseorang yang berperilaku mulia dan terpuji. Menjadi lebih tenang tidak larut memikirkan dunia yang hanya sementara. Ia tidak menyia-nyiakan waktunya untuk hal yang tidak bermanfaat. Sebaliknya memanfaatkannya untuk memperbanyak amal sosial.

Selamat memaksimalkan ibadah di sepuluh hari terakhir. Semoga Allah swt ridha dengan ibadah Ramadhan kita semua. Aamiin.

[Prof. Dr. H. Armai Arief, M.A., Guru Besar UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Ketua Komisi Pendidikan dan Kaderisasi MUI. Ketua Kordinasi Bidang Pendidikan dan Pengembangan SDM Insani ICMI, Ketua Dewan Pembina Asosiasi Dosen Indonesia (ADI)]

Leave A Reply

Your email address will not be published.