Rumahku Adalah Sekolahku

Program Belajar dari Rumah adalah upaya Kemendikbud membantu terselenggaranya pendidikan bagi semua kalangan masyarakat di masa darurat Covid-19. Belajar dari rumah melalui sarana dalam jaringan (daring) menjadi solusi yang tepat pada saat pandemi Covid-19. Sayangnya, tidak semua peserta didik maupun pendidik memiliki kemampuan memanfaatkan platform pembelajaran daring secara optimal.

Kondisi ini menjadi tantangan baru yang langka. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menyatakan status masa tanggap keadaan darurat akibat Covid-19 diperpanjang sampai 29 Mei 2020. Muncul beragam reaksi dari orang tua. Sebagian mengeluh, tugas monitoring anak belajar berpindah ke orang tua. Bahkan ada orang tua yang mengerjakan tugas anak-anaknya.

Kondisi belajar dari rumah menyadarkan kita sejatinya proses pendidikan pertama dan utama ada pada keluarga. Ada ungkapan bijak, “Al-ummu madrasatun ūla.” artinya, ibu adalah sekolah(an) yang pertama. Di rumah anak ditempa, dididik, dibina, diarahkan, diperhatikan dengan penuh kasih sayang sebagai bentuk perhatian dan tanggung jawab orang tua.

Jika ibu adalah guru utama bagi anak dalam keluarga, maka ingatlah seorang ayah adalah kepala sekolahnya. Jika sekolah pada umumnya memiliki kurikulum, silabus, visi dan misi, maka sudah seharusnya begitu juga pendidikan di keluarga.

Zakiah Daradjat mengatakan orang tua merupakan pendidik utama dan pertama bagi anak-anak. Di dalam keluarga anak menerima pendidikan pertama.

Islam memandang penting peran keluarga dalam menentukan kepribadian anak. Hadis Rasulullah saw, “Setiap anak dilahirkan dalam keadaan fitrah, maka kedua orang tuanya lah yang menjadikannya Yahudi, Nasrani atau Majusi” (HR. Muttafaq ‘alaih).

Sebagian ulama menafsirkan fitrah sebagai potensi akal (‘aql), hati (qalb) dan jiwa (nafs) yang dibentuk melalui pola asuh kedua orang tua sejak dini. Fitrah bisa diartikan juga semua bayi terlahir dalam keadaan Islam. Jika kemudian bayi tersebut tumbuh besar jauh dari Islam, kedua orang tuanya lah yang membuatnya demikian.

Imam Al-Ghazali menilai peranan keluarga sangat penting dalam pengembangan “naluri beragama secara mendasar” saat anak-anak usia balita. Pembiasaan ibadah seperti membaca doa sebelum dan sesudah makan, membaca doa setiap melakukan aktivitas, menghormati orang yang lebih tua, bahkan mengajarkan anak kalimat thayyibah (laailaahaillallah).

Akhlak yang baik adalah misi utama ajaran Islam, terwujud jika ruh, jiwa dan akal berkembang secara optimal. Dijelaskan Dr. Khalid Ahmad Syantut, akhlak yang baik diperoleh melalui teladan, bukan melalui nasihat atau arahan. Pribadi yang lemah meniru yang kuat, sementara yang kecil meniru yang besar. Mereka meniru kedua orangtuanya. Maka orang tua wajib menjadi teladan bagi anak-anaknya.

Dalam pendidikan Islam, dikenal adanya targhib dan tarhib. Setelah mengajarkan syariat kepada anak, orang tua harus mampu memberikan targhib (motivasi) agar mereka tergerak melakukan perbuatan-perbuatan yang disukai Allah. Salah satu cara dengan memberikan hadiah dan kabar gembira adanya imbalan yang jauh lebih besar di akhirat kelak. Begitu juga sebaliknya, orang tua harus memberikan tarhib (peringatan) kepada anak-anaknya untuk menjauhi perbuatan haram. Caranya bisa dengan memberikan hukuman dan memperingatkannya adanya azab di akhirat.

Pendidikan akhlak dan agama yang diperoleh di rumah menjadi benteng pergaulan anak saat bersama teman-temannya. Kebiasaan positif akan menjadi sikap serta akhlak yang akan dibawa ke mana pun, bahkan hingga kapan pun dan bagaimana pun kelak di perjalanan hidupnya.

(Dr. Hasnida M.Pd., Anggota Komisi Pendidikan & Kaderisasi MUI Pusat)

Leave A Reply

Your email address will not be published.