Ulfah Mawardi: Literasi Digital Untuk Perubahan

Kartini lahir di tengah budaya ‘domestifikasi’, kehidupan rumah yang terpenjara, terbatas, dan sunyi. Ia tuliskan perasaannya lalu dibagikan kepada orang-orang terdekatnya. Terjadi perubahan besar pada masyarakat.

Menulis dipilih Kartini sebagai alat untuk mewujudkan harapan dan cita-cita perjungannya. Di era digital menulis sangat dimanjakan dengan berbagai media dan alat yang mudah didapatkan. Menulis tidak hanya di buku, kertas dengan pena .

Kita bisa menggunakan laptop dan smartphone lalu unggah di laman media sosial. Tantangannya, apakah kualitas tulisan kita bisa menjadi alat perjuangan seperti halnya Kartini, dengan surat-suratnya kepada stella dan stakeholder dapat mengekspor batik dan ukiran-ukiran kayu hasil karya penduduk Jepara.

Dunia menjadi kenal batik dan ukiran kayu. Dampaknya ekonomi dan kesejahteraan rakyat Jepara meningkat.

Di masa pandemi Covid-19, kita lebih banyak menghabiskan waktu #dirumahaja. Tidak ada hambatan untuk tetap produktif meskipun di rumah. Kita bisa memanfaatkan kemajuan teknologi informasi dan komunikasi untuk rapat, menulis bahkan jualan. Selain itu menjahit, berkebun dan memasak bisa menjadi alternatif lainnya.

Kita dituntut untuk kreatif menghasilkan karya yang produktif dari rumah. Guru membuat bahan ajar daring, penceramah dakwah virtual, karyawan teleconference. Aktivitas keseharian dapat menghemat biaya transportasi, konsumsi dan melindungi bumi dari kerusakan lingkungan akibat global warming.

Jika Kartini menggunakan media tulisan sebagai alat perjuangan maka, di era pandemik ini kita dapat mengembangkan media elektronik dengan berbagai aplikasi sebagai sarana perjuangan.

(Dr. Ulfah Mawardi, M.Pd, Staf Khusus Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Anak, Wakil Sekretaris Komisi Pendidikan dan Kaderisasi MUI Pusat)

Leave A Reply

Your email address will not be published.